Senin, April 09, 2012

Seniman Menatap Ruang Harapannya..


Oleh: Win Halim


“Mengawali dari sebuah keresahan secuil masa dikota ini. gundah tak dapat direndam, malah yang ada berdiam”.

 Penggalan kalimat diatas adalah ungkapan kekesalan saya terhadap mereka yang berdasi, berotak encer (?), berduit untuk sekedar melirik sampai dimana kota mewujudkan berkesenian yang meruang. Sejenak kita mencoba berpikir santai, meluangkan waktu sebentar untuk melihat kedalam diri kita masing-masing. Apa yang sedang terjadi?, saya yakin anda dan saya punya cara sendiri untuk menjawabnya.

 Meminta satu ruang yang panjang tentang sebuah tempat berkarya bagi seniman akan terasa berat untuk dikabulkan daripada menandatangani berita acara proyek yang berdigit-digit angka, koma dan titik. Sementara suara seniman hanya menjadi suara sumbang, suara yang nyaris tak bernada, bahkan berharap welas asih dari mereka agar dapat dipenuhinya satu ruang untuk menyalurkan segala aspirasipun hanya menjadi isapan jempol belaka. Kekhawatiran itu bukan sekedar ini.

 Itulah yang dialami oleh sebagian seniman daerah dalam mengapresiasikan karya-karya mereka. Dan penggalan kalimat diatas mengajak kita untuk bisa merasakan apa yang terjadi dengan daerah kita ini. Seperti tidak ada Kerjasama yang baik antara pemerintah dan seniman yang senantiasa memberikan banyak manfaat besar dalam berbagai bidang. Baik ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Itu semua semata-mata karena kemajuan daerah kita sendiri.

 Akan tetapi harapan itu tidak semua dapat dirasakan, dari seribu hanya seperdelapan yang menolak atas pengakuan tersebut. Termasuk saya. Mengapa? Karena saya melihat dengan sudut pandang nurani bukan sekedar berani.

 Berkesenian adalah salah satu aktivitas bagi seniman dalam berolah rasa dan pikiran. Hampir tak mengenal waktu dan ruang, seniman yang gigih menjadikan prioritas utama  dalam menciptakan karya. Semacam nafas bagi tubuhnya. Baik itu tari, lukis, sastra, patung, craft (kerajinan tangan) dan lain sebagainya, tak menyurutkan semangat untuk terus mengembangkan keahlian mereka masing-masing. Namun terbentur dengan tekanan sosial yang tidak sinergi memberikan ruang itu menjadi tertutup. Antara kepentingan atau sekedar peraturan, maka hal yang dianggap sederhana dengan sengaja diabaikan.

 Memiliki tempat wisata yang indah, sejarah yang kuat, budaya yang kental, bahasa yang ragam, membuat getol para pelancong untuk segera berkunjung dan menikmati wangi pala cengkeh Moloku Kie Raha. Hingga kita sangat berbangga hati dengan kedatangan mereka. Tak sekedar wisatawan domestik, wisatawan asing pun sudah selalu berkunjung hanya sekedar melihat atau sekedar mengetahui sejarah, budaya dan alam Moloku Kie Raha.

Tentu kita harus berbangga hati dengan itu semua. Bukan hanya sekedar melihat seberapa banyak pendapatan yang masuk, akan tetapi sudah puaskah yang kita berikan bagi mereka?. itu yang perlu kita pertanyakan. Ini hanya masalah seni, dan saya berharap itu menjadi satu dari sebagian besar masalah daerah yang ada untuk di tempatkan pada posisi yang tidak tersudutkan atau perhatian kita bersama.
Barangkali hal inilah yang menjadi kegelisahan saya. Karena bagi saya, senyawa daerah terletak pada senimannya. Bali bisa maju, karena pemerintah daerah mau bekerja sama dengan seniman. Yogjakarta bisa kental dengan budayanya karena suara seniman selalu menjadi ukuran bagi pemerintah setempat. Bandung, Semarang, Surabaya dan kota besar lainnya yang terus mengembangkan budaya mereka, itu semua disebabkan kesetaraan pemerintahan yang bahu membahu meluruskan niat dan kepedulian mereka dengan benar dan tulus untuk menjadikan semua itu bersinergi. Sinergitas inilah yang menjadi harapan seniman daerah itu sendiri.

Seniman dan karya seperti benang tipis yang tidak bisa terpisahkan. Antara mereka itu merupakan kekuatan Tuhan yang terwujud. Dalam diri seniman banyak yang akan dia ungkapkan dengan menggunakan bahasanya sendiri. Tapi bagaimana jadinya, jika ungkapan itu tak ada tempat buat dia untuk berkarya.
Menata dengan seni, maka melihatpun akan berseri.  Mengutarakan isi hati tanpa ada paksaan. Agar ada lirikan, senyuman terlebih simpati yang memukau untuk itu.

 Idealisme kebudayaan memberikan pemikiran-pemikiran baru bagi siapa saja yang datang atau mencintai kebudayaan tanpa ada paksaan karena merasa berbudaya, maka idealisme itu akan diterima. Tak membatasi ruang dan waktu dalam berinteraksi. Cukup dengan memiliki alasan yang sama, kepuasan akan lahir sebagai nurani yang abadi.

Lalu sampai kapan daerah ini harus begini ? apakah harus terus mengabaikan semua aspirasi-aspirasi seniman? Sementara mereka membutuhkan perhatian meski hanya sekedar menyediakan satu ruang yang bisa mewujudkan karya-karya mereka dengan tanpa melihat siapa dan darimana mereka datang.
 Karenanya suara seniman adalah suara perubahan. Suara yang memiliki senyawa, suara yang tidak mencampuri urusan politik, sara dan kepentingan-kepentingan yang merugikan. Bahkan suara seniman adalah suara yang peduli terhadap kebudayaan, sosial serta perubahan itu sendiri.

 Hingga pada satu titik, saya mulai meneruskan suara seniman menjadi suara nurani. Yang berani tanpa tirani, dan berharap menjadi pasti. Semoga !

Jumat, April 06, 2012

Pekanbaru Mime: Cyberspace Attack..!!







“when words cannot say anything, then used your body”

Seorang artis pantomime Pekanbaru hadir untuk memainkan karya-karya nya pada hari rabu yang lalu. Karya yang bercerita tentang bergesernya pola kehidupan manusia dari wilayah yang realistis menjadi kehidupan yang sifatnya ambigu didalam dunia maya. Singkatnya, karya ini bertemakan Social Network Addict yang kemudian dikemas dan diberi judul “Cyberspace”. Sebuah permainan dua babak yang kemudian dibuat remix. Babak pertamanya adalah proses penggambaran aktivitas manusia didunia nyata seperti memancing, mencuci, dan lainnya. Sedangkan babak yang kedua bercerita tentang kebingungan manusia yang terjebak ditengah arus Social Network. Tema yang cukup menarik dan memang sedang menjadi suatu booming tersendiri beberapa tahun belakangan.

Malam semakin larut saat itu. Hujan baru saja reda, sang artis belum juga menunjukkan geliatnya diarena pertunjukan yang sudah dipersiapkan. Jam sudah mendekati pukul 20.30, artinya pertunjukan sudah terlambat sekitar 30 menit. Baru 15 menit kemudian sang artis muncul dan tepat pukul 21.00 WIB pertunjukan dimulai.

Pertunjukan malam itu, dikemas dengan alunan suara electro musical yang diputar diperangkat Laptop dan Speaker aktif 2 in 1. Konsep permainannya juga sederhana saja dengan berlatarkan sebuah screen yang sekaligus berfungsi sebagai background dari Syamsul yang merekam permainannya secara langsung. Jadi penonton bisa melihat secara langsung permainan tersebut dari 2 arah dengan cara yang bersamaan.

Secara teknis, konsep pertunjukannya memang sangat memukau dan brilliant. Namun, pada tahapan pelaksanaan terjadi sebuah masalah yang membuat penonton cukup bingung. Ketika Syamsul sebagai artis pantomime berusaha menampilkan halaman akun jejaring sosialnya namun in focus yang digunakan pada malam tersebut justru tidak bisa digunakan. Akibatnya, terjadi miss antara penonton terhadap alur cerita. Ketidaksiapan proses pertunjukan bisa dijadikan evaluasi untuk pertunjukan kedepannya.

Permainan berdurasi sekitar 35 menit ini tetap menarik. Syamsul yang permainannya khas dengan kekuatan karakter yang tajam. Sangat jelas sekali bila diperhatikan bahwa permainan tersebut sangat terpengaruh dengan gaya permainan Jemek Supardi sang maestro Pantomime Indonesia. Selain itu, terdapat juga unsur Bhuto –pantomime tradisional khas Jepang- didalamnya. Bila dinilai secara keseluruhan dari pertunjukan sebelumnya yang digelar di Taman Budaya pada minggu lalu, maka pertunjukan pada rabu malam tersebut akan terkesan tidak begitu menarik. Walau begitu, secara konsep pertunjukan permainan pada rabu malam tersebut patut diacungi jempol.







Untuk koleksi foto pertunjukan lainnya klik disini: ...............Pekanbaru Pantomime

Rabu, April 04, 2012

That's My Funny Nephew..


Once, saya sedang berjalan-jalan dengan keluarga saya. Kakak saya bersama suami dan kedua anaknya yang masih lucu-lucunya, Bunda dan Ayah saya serta saya sendiri. Aktifitas ini sudah menjadi rutinitas kami sekeluarga sekali tiap bulannya. Lantas, apa yang istimewa kalau sudah menjadi rutinitas seperti itu?.

Keunikan terjadi ketika saya memangku Savira, anak pertama Kakak saya, ketika melewati jalan Sudirman dan melihat Tugu Pesawat terbang yang besar itu, biasanya ia akan berteriak histeris "cepawat pakcik, cepawat" (maksudnya adalah Pesawat pakcik pesawat, dimaklumi saja jika anak yang belum genap 4 tahun berteriak). Kami biasanya tertawa beramai-ramai. Karena memang tingkah polos dari bocah keriting centil ini sangat menggemaskan.

Beberapa waktu kemudian, jika kami jalan sekeluarga lagi kami lebih memilih menghindari jalan Sudirman, terutama diseputaran Tugu Pesawat. Hal ini dikarenakan Tugu tersebut sedang dalam tahap pergantian menjadi Tugu Zapin. Keponakan saya yang sudah mendapatkan Chemistry tersendiri dengan Tugu tersebut pun lebih rentan diam dan malas bila harus melihat bekas Tugu tersebut.

Tak berselang lama kemudian, kami mendengar kabar bahwa Tugu Zapin sudah selesai dikerjakan. Bahkan, terjadi polemik yang cukup alot mengenai Tugu tersebut. Ada yang mengatakan pembuatan Tugu tersebut adalah sebuah pemborosan, ada juga yang mengatakan bahwa Tugu tersebut mengandung unsur Porno. Maka, dengan semangat penasaran bersama kami sekeluarga memutuskan untuk melihat Tugu tersebut pada jalan-jalan keluarga selanjutnya.

Tepat pada bulan Januari, setelah event Tahun Baru, kami mengunjungi keluarga di salah satu daerah di Pekanbaru. Kami juga memutuskan untuk mengunjungi Tugu tersebut. Dengan kendaraan dan komposisi yang sama kami berangkat.

Pada saat melewati Jalan Sudirman, Bunda menunjuk kearah Tugu Zapin sambil memanggil Savira "kakak, itu lihat Nari-Nari" (maksudnya adalah patung orang sedang menari).
Lantas, Savira pun melirik.
Mendadak ia hanya terdiam, antara terpukau dan kagum. Saya juga kurang yakin dengan apa yang ia pikirkan. Mobil pun dipelankan jalannya agar Savira bisa lebih merekam apa yang ia lihat adalah sebuah karya seni yang maha Mahal.

Tiba-tiba,
Sambil mencondongkan badannya kedepan kearah Dashboard mobil. Perlahan diacungkannya tangan kiri dengan jari telunjuk menuding kearah Tugu.
Ia berteriak "Pakcik Pantat Pakcik, Malu Pakcik Malu"
Dengan suara cempreng tidak terkira dan wajah Innocent-nya.

That's My Funny Nephew :).

(O)oo (N)ur(a)(n)(i)..?!

Ia yang menggenggam dunia dengan sepasang sedotan
Menghisap seluruh kenikmatan hidup yang tak menggurui
Menghantam cadas yang tiap tiap kali datang mencoba rampas darinya
Menggemuruh selayaknya badai tapi tak menghancurkan


Ia yang membelah arus peradaban antara barat dan timur
Yang menengahi kiri dan kanan
Menceraikan langit dan bumi, dan
Ia pula yang melogikan nalar dan ambisi yang berbalut arogansi sedikit ditaburi remah kebencian yang menyalak malam

Hanya sejumput dibalik belahan dada indahmu
Teronggok seumpama daging busuk bila kau tak sanggup mengendalikannya


Ia adalah nurani,
yang kadang kau kesampingkan demi ego dan kebrutalan
demi watak dan kemunafikan
terhadap semua pengingkaran pada kebenaran

Nurani yang acapkali kau diamkan suaranya
Tapi ketika tulah menghampiri, kau mengumpatnya karena suaranya yang tak sampai kedalam liang terlingamu yang sesak.



Persetan