Selasa, Mei 01, 2012

Kritik yang Tertahan didalam Hikayat Puyu Puyu

Sebuah Review oleh: Hambs Dekil


Sabtu lalu, tepatnya tanggal 28 april kemarin saya meluangkan waktu untuk mengunjungi sebuah pertunjukan teater yang diadakan di gedung teater Idrus Tintin yang ada di Kompleks MTQ pekanbaru. Pertunjukan tersebut sudah lama saya nantikan permainannya, sebab sudah terlalu banyak saya membaca artikel yang menyoal pada tema yang akan dimainkan oleh teater tersebut. Jelas saja itu membuat saya semakin penasaran.

Dengan hati berseri pula maka saya memutuskan untuk berangkat dan menonton pertunjukan berjudul Hikayat Puyu Puyu yang dimainkan oleh kelompok Teater MARA dengan sutradaranya adalah Hang Kafrawi. Konon, cerita ini diangkat dari dua sisi menarik yang berbeda namun memiliki keterkaitan. Sisi yang pertama adalah cerita ini diangkat dari sebuah cerita rakyat melayu yang berjudul Syair Terubuk, sedangkan sisi yang kedua adalah kemahiran sang sutradara dalam mengkomparasikan Syair tersebut dengan realitas sosial mengenai pencaplokan Pulau Padang oleh perusahaan internasional bernama RAPP. Sungguh sebuah pengemasan pertunjukan yang sangat menarik. Atas keberanian sang sutradara tersebut saya mengacungkan jempol dengan penuh kebanggaan (tabik untuk Hang Kafrawi).

Pertunjukan malam itu dijadwalkan pada pukul 20.00 malam, walaupun kemudian agak bergeser sedikit waktunya. Saya rasa tak mengapa, sebab pertunjukan tetap berjalan dengan lancar. Saya pun dengan beberapa orang kawan akhirnya masuk kedalam ruang pertunjukan tersebut. Aroma Melayu yang sangat kental sudah dapat dirasakan mulai saat pembacaan narasi hingga alunan music yang didendangkan. Sangat menenangkan. Setidaknya itulah kesan pertama yang saya tangkap saat mulai memasuki ruangan teater. Music arranger pada pertunjukan tersebut adalah Ridho Fatwandi yang juga pemain accordion pada Grup Bujanggi tempo waktu yang lalu.

Alunan syahdu dari petikan gambus yang dikombinasikan dengan beat disko ala 80 an sangat mengena sekali. Kesan etnic yang berbalut dengan modernisasi music rollerdisco tak membuat musikalisasi pertunjukan tersebut terasa kering. Ditambah dengan padu padan antara gerakan tari tentunya membuat pertunjukan semakin menarik. Suasana gelap ruangan tentunya menyihir para penonton untuk semakin masuk kedalam kekhusyukan permainan. Menarik sekali.

Sebelum saya menghadiri pertunjukan dari kelompok Teater MARA, terlebih dahulu saya banyak mendengar tentang respon penonton pada pertunjukan yang kabarnya sudah dimainkan sebelumnya dikota Lampung. Dan saya pun akhirnya memulai tontonan hingga selesai dan berlanjut pada diskusi antara penonton dan para personel yang terlibat dalam proses penggarapan teater tersebut. Saya rasa dalam tulisan ini pula akan saya sampaikan pandangan saya mengenai pertunjukan malam tersebut.


Permainan

Jika dilihat dari permainannya, terus terang saja saya sedikit kecewa. Banyak sekali terjadi kejanggalan terhadap jalannya cerita yang menurut saya cukup fatal baik dari segi dialog maupun gestuur. Salah satu kejanggalan tersebut adalah pada saat dialog tokoh terubuk yang mengatakan “aku rela mengeluarkan modal sebanyak-banyaknya demi mendapatkan keuntungan yang banyak” menurut saya itu tak sesuai dengan teori ekonomi sebenarnya yang berbunyi “ dengan modal sesedikit mungkin dapat menghasilkan laba sebanyak-banyaknya”. Saya rasa Adam Smith sebagai pencetus teori tersebut tentunya akan kecewa. Tapi tak apalah, toh Adam Smith pun tak melihat pertunjukannya. Hehee..

Konsep teatrikal yang saya pahami selama ini adalah bagaimana mengkombinasikan berbagai symbol/semiotika kedalam unsure dialog dan gerak tubuh/gestuur. Saya rasa disanalah kekuatan terbesar dari seni pertunjukan teater. Dalam hal pertunjukan Hikayat Puyu Puyu, Hang Kafrawi berhasil menyimbolkan realitas sosial yang ia angkat kedalam tokoh Terubuk dan Puyu Puyu sendiri. Dimana yang pertama selaku Kapitalis (baca; RAPP, pen) dengan setelan jas mewah berdasi dan berwatak obsesif sedang yang kedua sebagai objeknya (baca; Pulau Padang, pen) dimana kostum yang dipakai adalah pakaian muslim Melayu. Dalam hal ini, saya menjadi bingung terhadap posisi tokoh yang lain sebenarnya menggambarkan siapa? Terutama tokoh Belut yang menurut saya dan beberapa penonton malam itu sangat fenomenal. Bayangkan, seorang Belut dapat menjadi actor intelektual dikala tokoh lainnya kebingungan dalam membangun strategi untuk menguasai Puyu Puyu.

Siapakah kira-kira belut sebenarnya? Adakah ia seorang bagian dari pemerintah? Lantas kenapa semua komplotan dipakaikan jas secara klimis? Siapakah yang menjadi symbol pemerintah? Aparat dan lainnya? Tentunya akan banyak sekali pertanyaan dalam hal ini.

Agaknya bung Kafrawi sedikit lebih hati-hati dalam hal ini. Sayangnya kehati-hatian tersebut justru membuat konteks kritik sosial yang diangkat menjadi abu-abu dan hambar. Jika saja dalam membangun penyimbolan tersebut lebih dipertegas, saya rasa pertunjukan tersebut akan semakin menarik. Proses kritik sosial yang dimaksud dialam pertunjukan tersebutpun tentunya akan semakin menantang dan mantap. Saya rasa itu penting sekali.

Mengoreksi konsep penokohan, agaknya efek terbesarnya adalah munculnya ketidakpahaman dari maksud sang sutradara dalam karyanya tersebut. Hal ini terasa semakin nyata seiring dengan beberapa pertanyaan dari para penonton disaat sesi diskusi yang dilakukan setelah pertunjukan tersebut selesai. Banyak dari penonton termasuk saya merasa konsep perlawanan tersebut menjadi tak terasa karena symbol yang hendak dilawan tidak ditunjukkan dengan tegas. Jika dikatakan yang diharus dilawan kemudian adalah pihak korporasi penindas sebagai kapitalis, saya rasa konteks tersebut terlalu global dan terjadi pembesaran makna didalamnya. Sebab dalam konteks sebenarnya, tentunya proses perampasan hak masyarakat Pulau Padang tak akan berhasil tanpa adanya campur tangan beberapa pihak lainnya. Dalam beberapa adegan yang dimainkan, ada yang paling menarik bagi saya pribadi. Pada saat tokoh Puyu Puyu menyampaikan kekhawatiran mimpinya kepada tokoh Tapah, Badar dan Keli. Saya sempat merinding dengan kekuatan watak dan emosi yang dihantarkan oleh tokoh tersebut. Secara tak langsung adegan tersebut berhasil membawa saya berpikir bahwa bahaya yang akan datang adalah sebuah musibah besar yang dapat membuat hilangnya sebuah negeri dari sejarah peradaban manusia, tentunya itu adalah suatu hal yang sangat membahayakan.

Namun, lagi-lagi saya harus dikecewakan pada ending pementasan. Pada saat ending cerita, saya tidak menangkap adanya kekhawatiran besar yang digambarkan pada adegan Puyu Puyu tadi. Sebenarnya ketakutan seperti apa sih yang dimaksud? Saya sendiri tak menangkap maksudnya.

Bila melihat dari tanggapan para pemain, bahwa mereka sudah bermain sesuai dengan selera mereka, dan jika tidak berkenan dengan selera penonton maka itu tidak menjadi kesalahan mereka. Saya rasa, seorang performer yang baik tidak akan berujar seperti itu pada audience nya. Selayaknya yang diucapkan oleh Bung Kafrawi sendiri pada closing acara bahwa pementasan ini tiada artinya tanpa kehadiran para penonton. Maka sangat disayangkan sekali respon yang harus ditampakkan bila seperti itu. Karena hakikat sebuah pertunjukan tidaklah berbicara mengenai selera pemain atau selera penonton, melainkan bagaimana proses penyampaian pesan yang terkandung menjadi berarti dan dapat tertuang dengan baik dalam imaji setiap pemirsanya. Saya rasa demikianlah.

Overall, saya cukup terhibur dengan adanya pertunjukan ini sebagai sebuah tontonan. Namun, bila bicara sebagai sebuah pertunjukan berbasis pada kritik sosial, saya rasa himbauan yang ditujukan tidaklah sampai. Walau begitu saya tetap mengapresiasikan diri saya pribadi terhadap keberanian Bung Kafrawi dan Rekans yang sudah menampilkan pertunjukan ini secara berani. Tabik buat Bung Kafrawi dan Rekans.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar