Senin, Mei 17, 2010

Ketololan Seorang Cicero

Bagi setiap orang yang mencita-citakan dirinya menjadi seorang orator, tentu ia kenal dengan yang namanya Cicero. Pria yang bernama lengkap Marcus Tullius Cicero. Seorang lelaki Roma yang bercita-cita untuk menjadi seorang senator sedari muda ini. Konon, seorang Soekarno begitu mengidolakan caranya berpidato yang begitu agitatif dan cerdas dalam memainkan emosi massa nya.
Begitukah sempurnakah kehidupan seorang Cicero yang hidup pada tahun-tahun sebelum masehi, sehingga dia di idolakan hingga saat ini? .
Cicero adalah seorang pengacara sukses kedua di Roma pada masa itu setelah hortensius. Ia sendiri belajar ber-orasi pada seorang master pidato. Homer Illiad namanya. Pada sebuah novel kolosal karya Robert Harris, Imperium, dijelaskan bahwa Homer melatihnya ber-orasi dengan cara menyuruh Cicero berdiri dipinggir pantai, ia ingin melihat apakah suaranya mampu mengalahkan debur ombak. Dilain waktu, Cicero juga diminta untuk berpidato ditengah-tengah rindangnya hutan. Homer ingin melihat, apakah suaranya mampu menggetarkan dedaunan pohon ek disana.
Demikian keraslah seorang Cicero berlatih demi mencapai cita-citanya. Hal ini dituliskan dalam setiap papyrus yang dikumpulkan oleh seorang budaknya yang bernama Tiro yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Lantas dimana letak ketololan seorang Marcus Tullius Cicero yang jenius?
Pada karier politik awalnya sebagai seorang Senator dengan jabatan Praetor, Cicero pernah ditantang untuk menyelesaikan kasus korupsi yang dilakukan oleh Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres. Verres mengancam akan menghukum mati seorang sipil bernama Sthenius akibat ia keberatan untuk menyerahkan patung perunggunya kepada sang Gubernur.
Pada masa itu, seorang Gubernur memiliki kekuatan untuk mengatur hukum yang berlaku didaerahnya sekaligus dibekali kekebalan hukum. Hal ini membuat ia tidak dapat dituntut oleh sipil biasa sekelas Sthenius. Di Roma pada masa itu, yang mampu menuntut seorang Gubernur hanyalah Senat yang di isi oleh para bangsawan yang disebut Senator.
Ceritanya, Sthenius mengadu pada Cicero dikarenakan ia adalah seorang pengacara terkuat kedua setelah Horthensius yang korup dan berpihak kepada Verres. Cicero mengambil langkah untuk membicarakan kesewenang-wenangan Verres pada Triumph dengan cara membuat sebuah mosi gugatan. Dalam forum tersebut, Cicero dianggap sebagai orang idiot, karena posisinya sebagai Senator rendahan jelas tidak akan membuatnya didengar.
Diluar dugaan, ternyata ayah dari seorang Gaius Verres yang serakah adalah seorang Senator Senior yang terhormat dan terkenal jujur. Ia yang sedih mendengar kelakuan anaknya kemudian memutuskan untuk menyurati Verres agar membatalkan tuntutannya terhadap Sthenius. Kontan Verres marah dan malah mengambil keputusan untuk segera menjemput Sthenius di Roma agar segera di eksekusi di Sisilia.
Cicero yang mendengar berita tersebut menjadi marah sekaligus ketakutan. Ia menyesali hasil negosiasinya dengan ayah Verres. Dalam negosiasi tersebut, Cicero memutuskan untuk berhenti mengajukan mosi karena ayahnya akan menyurati Verres. Ternyata usaha tersebut gagal diakibatkan sikap Verres yang terlalu keras kepala.
Akibat kesalahannya yang vatal itulah ia harus berpikir untuk mempertaruhkan reputasinya dengan nasib seorang sipil yang tidak berdosa. Akhirnya Cicero memutuskan untuk kembali mengajukan mosi kepada Triumph dengan menahan cercaan.
Disinilah kemudian keluar sebuah adagium Romawi yang terkenal yang berbunyi “Est Impunitum Satium Relinqui Facinus Nocent, Damnari Innocentem Quam”. Kira-kira kalo saya boleh mengartikan maksudnya adalah, “akan lebih baik bila kejahatan itu dibiarkan meraja lela tanpa hukuman, daripada membiarkan orang yang tidak bersalah dihukum”. Walaupun adagium terlontar akibat kekecewaan seorang Cicero terhadap keputusan Triumph sekaligus akibat ketololannya yang begitu percaya bahwa hubungan keluarga dapat menyelesaikan sebuah masalah.
Semoga menjadi Khidmat bagi pembaca yang ingin terjun kebidang hukum dan keadilan.

-saleum-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar