Jumat, April 13, 2012

Resume Diskusi Film Tanda Tanya

Tanda Tanya
Karya Hanung Bramantyo
Review oleh: Hambs Dekil

Film ini diproduksi tahun 2011 yang lalu. Karya sineas muda Indonesia Hanung Bramantyo. Bagi kebanyakan orang film ini dinilai sarat dengan nilai-nilai pluralisme yang mengacu pada paham liberal. Beberapa tokoh keagamaan menyebutnya sebagai “film yang sesat dan menyesatkan” bahkan dihimbau untuk tidak ditonton oleh mereka yang taat. Kurang dari dua minggu setelah Gala Premiere nya di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki film ini pun harus dilarang penayangannya ditempat umum. Alasannya klise, “ bahwa film ini menggambarkan konsep pluralism yang vulgar”. Lantas ada apa dengan film Tanda Tanya sebenarnya?. Kenapa seperti banyak orang kebakaran jenggot setelah menonton film ini.
Penulis akan mencoba membedah film ini dari beberapa unsure yang nantinya akan didiskusikan bersama.

Cerita: Dari segi alur cerita, sebenarnya film ini hanya menggambarkan realitas yang terjadi didalam dinamika sosial masyarakat kekinian. Pada tahun-tahun belakangan isyu mengenai kepercayaan tidak lagi bersifat universal seperti biasanya. Banyak terjadii perselisihan yang sifatnya kontroversif bahkan beberapa mengarah kepada konflik yang bersifat fisik. Dalam hal ini saya menilai Hanung sebagai seorang produser sangat cerdas dalam membangun imaji terhadap kondisi ini.
Banyak pelajaran moral yang bila ditilik dengan teliti dapat kita ambil dari film ini. Sebut saja beberapa adegan yang menggambarkan bahwa keberagaman tidak selamanya berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Bahkan bisa membangun sebuah dinamika yang penuh dengan toleransi. Misalnya saja, adegan dimana seorang musllimah yang menjadi pelayan rumah makan yang menjual makanan yang menggandung babi. Hal ini jauh dari kewajaran untuk diangkat kedalam sebuah produk tontonan, namun Hanung berhasil menggambarkannya sebagai sebuah dinamika yang positif.
Selain itu, juga bisa diilihat saat adegan dimana Menuk yang Muslimah justru disupport oleh teman-temannya yang tidak seagama untuk tetap bersabar dalam mempertahankan ikatan keluarganya saat Soleh sang suami menuntut cerai karena tidak mampu menafkahi akibat ia pengangguran. Dalam adegan tersebut secara tidak langsung bahwa setiap agama menuntut hal yang sama terhadap sebuah ikatan pernikahan. Dalam kejadian nyata, tentunya hal ini sangat susah kita lihat langsung. Entahlah apa masalahnya. Tapi ini adalah sebuah ide yang cerdas.
Konsep pluralitas yang coba disampaikan oleh Hanung dan rekannya adalah sebuah kebersamaan yang sangat humanis (kemanusiaan). Hal-hal seperti sesungguhnya sudah langka saat ini. Banyak lagi konsep universalitas dari keberagaman yang diangkat dalam film ini.
Factor lain yang menjadikan film ini menarik adalah tidak ada gambaran kemana sebenarnya cerita ini film ini akan dibawa. Sangat khas sekali dengan karya-karya Hanung, lihat saja Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah dan lain-lain.
Settting: Film ini berkisah tentang dinamika sosial masyarakat disuatu daerah dipulau Jawa sana. Diatur dengan pencahayaan yang sama khas dengan karya Hanung lainnya. Penuh dengan warna-warna smooth dan sedikit sephia. Berlatar belakang sebuah kota tua dengan set cerita berada disebuah pasar tengah perkampungan yang berada ditengah bangunan-bangunan tua. Ada kemiripan latar dalam hal set bangunan yang ada dalam film ini dengan set yang dipakai dalam filmnya Riri Reza yang berjudul Soe Hok Gie. Saat itu set yang dipakai pada lokasi shooting nya adalah wilayah kota tua yang ada di Semarang.
Dalam beberapa scene juga sempat digambarkan beberapa tempat ibadah yang kelihatannya cukup berumur seperti vihara dan gereja yang dipakai. Set rumah makan yang dipakai oleh tokoh Tan Kat Sun (Hengky Soelaiman) juga merupakan bangunan tua. Set cerita inilah yang membuat film ini semakin menarik dan sangat mendukung dengan cerita yang diangkat.
Alur Cerita: Alur cerita yang dipakai adalah alur cerita yang maju dengan beberapa Plot yang terpisah. Ada beberapa alur konflik yang diangkat seperti; dalam Keluarga Menuk yang bercerita tentang dinamika sebuah keluarga kecil dengan satu anak dan seorang adik ipar dari pihak suami. Tulang punggung keluarganya adalah seorang istri yang bekerja dirumah makan Tan Kat Sun. dalam perjalannya kemudian Soleh sebagai suami yang belum bekerja akhirnya mendapatkan peruntungan. Ia bergabung dengan sebuah satuan pengamanan dari salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia yaitu Banser NU.
Dilain pihak, tokoh-tokoh lainnya juga memiliki konflik yang beragam. Ada Rika dengan konflik existensinya sebagai orang yang baru berpindah keyakinan dan belum bisa diterima oleh pihak orang tuanya. Paling menarik adalah anaknya yang bernama Aby adalah seorang muslim yang sangat didukung oleh Rika untuk terus mengaji dan memperdalam ke-islamannya. Rika sendiri sebagai seorang Katolik belum bisa melepaskan keyakinannya terhadap agama sebelumnya. Lihat saja adegan dimana Rika diminta untuk menggambarkan bentuk kasih tuhan, ia menggambarkannya dengan pandangan pada agamanya terdahulu.
Lalu ada keluarga Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu. Konflik yang terjadi adalah krisis kepercayaan untuk memberikan anaknya Ping Hen atau Hendra dalam meneruskan usaha rumah makannya tersebut. Dalam hal ini, Tan memiliki banyak keraguan akan kemampuan anaknya. Dilain pihak, Hen juga merasa jenuh dengan sikap ayah dan ibunya yang menurutnya sangat tidak perhatian kepada anaknya. Maka Hen kemudian memutuskan untuk belajar mengelola rumah makan agar kemudian bisa dijoinkan dengan temannya yang sanggup berinvestasi direstoran itu.
Lantas ada juga tokoh Surya yang diperankan oleh Agus Kuncoro. Ia berprofesi sebagai actor ptofesional. Selama 10 tahun berkarier tak sekalipun ia dipercayakan sebagai tokoh utama, ia selalu memainkan peran figuran dalam setiap pekerjaannya. Nah, kesempatan itu baru datang saat ia dipercaya untuk memerankan tokoh Yesus Kristus sementara Surya sendiri adalah seorang muslim yang baik. Ketika ia tidak punya tempat tinggal, ia justru harus menginap dimasjid kampung terdekat dan belajar memerankan tokohnya didalam masjid.
Bila dikaji lebih jauh, banyak sekali hal-hal yang diluar kebiasaan yang justruu dipertunjukkan didalam film ini. Hal-hal demikian yang justru membuat kualitas cerita dari film ini menjadi semakin menarik untuk ditonton. Dan menurut saya, film inii wajib tonton sebagai sebuah pembelajaran tentang bagaimana menempatkan diri dimasyarakat.
Overall: film yang sangat menarik ini akan sangat disayangkan bila dilewatkan. Baik secara alur cerita, settingan dan audio visualnya, film ini sudah cukup menarik dan sangat khas dari seorang Hanung Bramantyo. Bagaimana menempatkan diri dengan konflik sosial yang terjadi dan realitas yang ada akan sangat menarik tentunya untuk disimak.
Bagian yang harus menjadi perhatian adalah saat Hanung membangun sebuah adegan dimana dalam merayakan hari Natal, Pihak Katolik justru tidak sungkan untuk memesan makan dari pihak Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu yang langsung di koordinatori oleh Menuk, lalu karena tahu bahwa ada orang muslim yang bermain teater, dibuatkan juga makanan yang bisa dimakan oleh mereka. Ini adalah sebuah gambaran dimana toleransi terhadap perbedaan adalah hal yang sangat indah.
Sebaiknya ditonton saja dahulu filmnya agar dapat diketahui makna dan falsafahnya yang menarik. Semoga dapat diambil pembelajaran darinya dan semoga tetap bergairah. Salam ;).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar