Tanda
Tanya
Karya
Hanung Bramantyo
Review
oleh: Hambs Dekil
Film ini diproduksi tahun 2011 yang lalu. Karya
sineas muda Indonesia Hanung Bramantyo. Bagi kebanyakan orang film ini dinilai
sarat dengan nilai-nilai pluralisme yang mengacu pada paham liberal. Beberapa
tokoh keagamaan menyebutnya sebagai “film yang sesat dan menyesatkan” bahkan
dihimbau untuk tidak ditonton oleh mereka yang taat. Kurang dari dua minggu
setelah Gala Premiere nya di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki film ini pun harus
dilarang penayangannya ditempat umum. Alasannya klise, “ bahwa film ini
menggambarkan konsep pluralism yang vulgar”. Lantas ada apa dengan film Tanda
Tanya sebenarnya?. Kenapa seperti banyak orang kebakaran jenggot setelah
menonton film ini.
Penulis akan mencoba membedah film ini dari
beberapa unsure yang nantinya akan didiskusikan bersama.
Cerita: Dari segi alur cerita, sebenarnya film ini hanya
menggambarkan realitas yang terjadi didalam dinamika sosial masyarakat
kekinian. Pada tahun-tahun belakangan isyu mengenai kepercayaan tidak lagi
bersifat universal seperti biasanya. Banyak terjadii perselisihan yang sifatnya
kontroversif bahkan beberapa mengarah kepada konflik yang bersifat fisik. Dalam
hal ini saya menilai Hanung sebagai seorang produser sangat cerdas dalam
membangun imaji terhadap kondisi ini.
Banyak pelajaran moral yang bila ditilik dengan
teliti dapat kita ambil dari film ini. Sebut saja beberapa adegan yang
menggambarkan bahwa keberagaman tidak selamanya berdampak buruk bagi kehidupan
bermasyarakat. Bahkan bisa membangun sebuah dinamika yang penuh dengan
toleransi. Misalnya saja, adegan dimana seorang musllimah yang menjadi pelayan
rumah makan yang menjual makanan yang menggandung babi. Hal ini jauh dari
kewajaran untuk diangkat kedalam sebuah produk tontonan, namun Hanung berhasil
menggambarkannya sebagai sebuah dinamika yang positif.
Selain itu, juga bisa diilihat saat adegan dimana
Menuk yang Muslimah justru disupport oleh teman-temannya yang tidak seagama
untuk tetap bersabar dalam mempertahankan ikatan keluarganya saat Soleh sang
suami menuntut cerai karena tidak mampu menafkahi akibat ia pengangguran. Dalam
adegan tersebut secara tidak langsung bahwa setiap agama menuntut hal yang sama
terhadap sebuah ikatan pernikahan. Dalam kejadian nyata, tentunya hal ini sangat susah kita lihat langsung.
Entahlah apa masalahnya. Tapi ini adalah sebuah ide yang cerdas.
Konsep pluralitas yang coba
disampaikan oleh Hanung dan rekannya adalah sebuah kebersamaan yang sangat
humanis (kemanusiaan). Hal-hal seperti sesungguhnya sudah langka saat ini.
Banyak lagi konsep universalitas dari keberagaman yang diangkat dalam film ini.
Factor lain yang menjadikan film ini
menarik adalah tidak ada gambaran kemana sebenarnya cerita ini film ini akan dibawa.
Sangat khas sekali dengan karya-karya Hanung, lihat saja Perempuan Berkalung
Sorban, Sang Pencerah dan lain-lain.
Settting: Film ini berkisah tentang dinamika sosial
masyarakat disuatu daerah dipulau Jawa sana. Diatur dengan pencahayaan yang
sama khas dengan karya Hanung lainnya. Penuh dengan warna-warna smooth
dan sedikit sephia. Berlatar belakang sebuah kota tua dengan set
cerita berada disebuah pasar tengah perkampungan yang berada ditengah
bangunan-bangunan tua. Ada kemiripan latar dalam hal set bangunan yang
ada dalam film ini dengan set yang dipakai dalam filmnya Riri Reza
yang berjudul Soe Hok Gie. Saat itu set yang dipakai pada lokasi shooting
nya adalah wilayah kota tua yang ada di Semarang.
Dalam beberapa scene juga
sempat digambarkan beberapa tempat ibadah yang kelihatannya cukup berumur
seperti vihara dan gereja yang dipakai. Set rumah makan yang dipakai
oleh tokoh Tan Kat Sun (Hengky Soelaiman) juga merupakan bangunan tua. Set cerita
inilah yang membuat film ini semakin menarik dan sangat mendukung dengan cerita
yang diangkat.
Alur Cerita: Alur cerita yang dipakai adalah alur
cerita yang maju dengan beberapa Plot yang terpisah. Ada beberapa alur
konflik yang diangkat seperti; dalam Keluarga Menuk yang bercerita tentang
dinamika sebuah keluarga kecil dengan satu anak dan seorang adik ipar dari
pihak suami. Tulang punggung keluarganya adalah seorang istri yang bekerja
dirumah makan Tan Kat Sun. dalam perjalannya kemudian Soleh sebagai suami yang
belum bekerja akhirnya mendapatkan peruntungan. Ia bergabung dengan sebuah
satuan pengamanan dari salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia yaitu
Banser NU.
Dilain pihak, tokoh-tokoh lainnya
juga memiliki konflik yang beragam. Ada Rika dengan konflik existensinya
sebagai orang yang baru berpindah keyakinan dan belum bisa diterima oleh pihak
orang tuanya. Paling menarik adalah anaknya yang bernama Aby adalah seorang muslim
yang sangat didukung oleh Rika untuk terus mengaji dan memperdalam
ke-islamannya. Rika sendiri
sebagai seorang Katolik belum bisa melepaskan keyakinannya terhadap agama
sebelumnya. Lihat saja adegan dimana Rika diminta untuk menggambarkan bentuk
kasih tuhan, ia menggambarkannya dengan pandangan pada agamanya terdahulu.
Lalu ada keluarga Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu.
Konflik yang terjadi adalah krisis kepercayaan untuk memberikan anaknya Ping
Hen atau Hendra dalam meneruskan usaha rumah makannya tersebut. Dalam hal ini,
Tan memiliki banyak keraguan akan kemampuan anaknya. Dilain pihak, Hen juga
merasa jenuh dengan sikap ayah dan ibunya yang menurutnya sangat tidak
perhatian kepada anaknya. Maka Hen kemudian memutuskan untuk belajar mengelola
rumah makan agar kemudian bisa dijoinkan dengan temannya yang sanggup
berinvestasi direstoran itu.
Lantas ada juga tokoh Surya yang diperankan oleh
Agus Kuncoro. Ia berprofesi
sebagai actor ptofesional. Selama 10 tahun berkarier tak sekalipun ia
dipercayakan sebagai tokoh utama, ia selalu memainkan peran figuran dalam
setiap pekerjaannya. Nah, kesempatan itu baru datang saat ia dipercaya untuk
memerankan tokoh Yesus Kristus sementara Surya sendiri adalah seorang muslim
yang baik. Ketika ia tidak punya tempat tinggal, ia justru harus menginap
dimasjid kampung terdekat dan belajar memerankan tokohnya didalam masjid.
Bila dikaji lebih jauh, banyak
sekali hal-hal yang diluar kebiasaan yang justruu dipertunjukkan didalam film
ini. Hal-hal demikian yang
justru membuat kualitas cerita dari film ini menjadi semakin menarik untuk
ditonton. Dan menurut saya, film inii wajib tonton sebagai sebuah pembelajaran
tentang bagaimana menempatkan diri dimasyarakat.
Overall: film yang sangat menarik ini akan sangat
disayangkan bila dilewatkan. Baik secara alur cerita, settingan dan audio
visualnya, film ini sudah cukup menarik dan sangat khas dari seorang Hanung
Bramantyo. Bagaimana menempatkan diri dengan konflik sosial yang terjadi dan
realitas yang ada akan sangat menarik tentunya untuk disimak.
Bagian yang harus menjadi perhatian adalah saat
Hanung membangun sebuah adegan dimana dalam merayakan hari Natal, Pihak Katolik
justru tidak sungkan untuk memesan makan dari pihak Tan Kat Sun yang Kong Hu
Chu yang langsung di koordinatori oleh Menuk, lalu karena tahu bahwa ada orang
muslim yang bermain teater, dibuatkan juga makanan yang bisa dimakan oleh
mereka. Ini adalah sebuah gambaran dimana toleransi terhadap perbedaan adalah
hal yang sangat indah.
Sebaiknya ditonton saja dahulu filmnya agar dapat
diketahui makna dan falsafahnya yang menarik. Semoga dapat diambil pembelajaran
darinya dan semoga tetap bergairah. Salam ;).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar