Ia yang menggenggam dunia dengan sepasang sedotan
Menghisap seluruh kenikmatan hidup yang tak menggurui
Menghantam cadas yang tiap tiap kali datang mencoba rampas darinya
Menggemuruh selayaknya badai tapi tak menghancurkan
Ia yang membelah arus peradaban antara barat dan timur
Yang menengahi kiri dan kanan
Menceraikan langit dan bumi, dan
Ia pula yang melogikan nalar dan ambisi yang berbalut arogansi sedikit ditaburi remah kebencian yang menyalak malam
Hanya sejumput dibalik belahan dada indahmu
Teronggok seumpama daging busuk bila kau tak sanggup mengendalikannya
Ia adalah nurani,
yang kadang kau kesampingkan demi ego dan kebrutalan
demi watak dan kemunafikan
terhadap semua pengingkaran pada kebenaran
Nurani yang acapkali kau diamkan suaranya
Tapi ketika tulah menghampiri, kau mengumpatnya karena suaranya yang tak sampai kedalam liang terlingamu yang sesak.
Persetan
Tampilkan postingan dengan label Imaginasi Liar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imaginasi Liar. Tampilkan semua postingan
Rabu, April 04, 2012
Sabtu, Maret 31, 2012
BBM Naik SBY Turun (ooooppsss, April Mop..!!!)
BBM Naik SBY Turun…!!
Saat ini, nyaris diseluruh kota terdengar teriakan nyaring dengan bunyi yang hamper sama. Semuanya bersifat seruan yang setengah mengancam. BBM Naik SBY Turun..!!. Sebenarnya apa yang diperdebatkan sampai sedemikian rusuh begitu?
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik lagi pada 1 april nanti. Sepertinya sudah menjadi agenda rutin pemerintah negeri ini untuk memberikan kado istimewa untuk rakyatnya. Lihat saja agenda beberapa tahun belakangan. Tiap kali tanggal 1 april selalu muncul kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Rutinitaskah? Atau mungkin hanya kebetulan saja?
Selayaknya dinegara-negara barat sana, setiap tanggal 1 april juga ada rutinitas atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Sebut saja budaya April Mop. Pada hari tersebut, warga saling menyiapkan sebuah kebohongan kecil yang bersifat candaan untuk saling mengerjai dan bercanda bersama dengan orang terdekatnya. Saya rasa kebiasaan ini yang dicontoh oleh pemerintah negeri yang kian hari kian ringkih ini.
Aneh,
Ahh.. Sudah bosan rasanya saya menggunakan kata ini. Sepertinya tidak ada istilah hal aneh dinegeri ini. Justru keadaan yang tenang baru bisa disebut aneh. Kalau begitu, mari kita sama sama teriak “ BBM Naik SBY Turun..!!” ooopppss, April Mop..!! hehehe..
Saat ini, nyaris diseluruh kota terdengar teriakan nyaring dengan bunyi yang hamper sama. Semuanya bersifat seruan yang setengah mengancam. BBM Naik SBY Turun..!!. Sebenarnya apa yang diperdebatkan sampai sedemikian rusuh begitu?
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik lagi pada 1 april nanti. Sepertinya sudah menjadi agenda rutin pemerintah negeri ini untuk memberikan kado istimewa untuk rakyatnya. Lihat saja agenda beberapa tahun belakangan. Tiap kali tanggal 1 april selalu muncul kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Rutinitaskah? Atau mungkin hanya kebetulan saja?
Selayaknya dinegara-negara barat sana, setiap tanggal 1 april juga ada rutinitas atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Sebut saja budaya April Mop. Pada hari tersebut, warga saling menyiapkan sebuah kebohongan kecil yang bersifat candaan untuk saling mengerjai dan bercanda bersama dengan orang terdekatnya. Saya rasa kebiasaan ini yang dicontoh oleh pemerintah negeri yang kian hari kian ringkih ini.
Aneh,
Ahh.. Sudah bosan rasanya saya menggunakan kata ini. Sepertinya tidak ada istilah hal aneh dinegeri ini. Justru keadaan yang tenang baru bisa disebut aneh. Kalau begitu, mari kita sama sama teriak “ BBM Naik SBY Turun..!!” ooopppss, April Mop..!! hehehe..
Sabtu, Mei 22, 2010
Lagi Lagi Kekerasan, Kekerasan Lagi-lagi
Lagi-lagi kekerasan.
Kaget sekaligus terkejut ketika kemarin sedang berbincang-bincang dengan rekan-rekan dikantor. Mereka bilang ada salah seorang wartawan dipukuli hingga masuk rumah sakit. Lantas saya bertanya, “kenapa bisa terjadi demikian? Siapa yang mukul?”. Rekan saya mengatakan tidak tahu, yang jelas ia dipukul karena berita yang ia buat. Saya semakin penasaran ada apa gerangan. Belakangan saya baru tahu kalau wartawan saya dipukul oleh oknum perwira tentara karena membongkar kasus illegal logging sang perwira.
Sekilas saya jadi teringat dengan masa-masa orde baru yang lalu. Wartawan adalah sebuah profesi yang sangat mengundang bahaya. Karena berita dan informasi yang ia buat, banyak wartawan yang berakhir dengan kematian. Sebut saja Udin di Jogja dan masih banyak lainnya. Baru-baru ini salah seorang wartawan media lokal tempat saya bekerja Harian Aceh, juga mengalami pemukulan, intimidasi menggunakan senjata dan ancaman akan dibunuh seluruh keluarganya. Hal ini terjadi akibat ia berhasil membongkar pelanggaran yang dilakukan oleh si oknum perwira tentara tersebut.
Saya jadi bingung sendiri dengan kejadian tersebut. Seingat saya Aceh sudah membuat perjanjian damai dengan pihak NKRI, tapi kenapa masa lalu masih terus menghantui seperti ini?. Apakah orang Aceh tidak berhak untuk hidup damai dan tenteram layaknya orang Indonesia lainnya?. Apakah kami yang di Aceh ini tidak memiliki hak untuk bekerja dengan tenang dan nyaman?.
Dilain sisi, pemukulan terhadap insan pers adalah salah satu bentuk intimidasi dan usaha pembredelan. Melihat dari maksud untuk menghentikan arus informasi terhadap kasus Illegal Logging yang sedang marak terjadi. Jangan-jangan hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak usah tahu tentang kegiatan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu?.
Kasihan sekali. Kelakuan barbar oknum aparat terhadap pers adalah bukti bahwa demokrasi dan era kebebasan pers belum sepenuhnya diakui. Padahal, mengacu pada UU no. 4/1999 dijelaskan bahwa pers adalah salah satu pilar demokrasi dalam mengusung kebebasan informasi. Memang kenyataan selalu bertolak belakang.
Akankah pers kembali dikekang?. Atau kebebasan informasi hanya mimpi kosong belaka?.
Hom hai..
Kaget sekaligus terkejut ketika kemarin sedang berbincang-bincang dengan rekan-rekan dikantor. Mereka bilang ada salah seorang wartawan dipukuli hingga masuk rumah sakit. Lantas saya bertanya, “kenapa bisa terjadi demikian? Siapa yang mukul?”. Rekan saya mengatakan tidak tahu, yang jelas ia dipukul karena berita yang ia buat. Saya semakin penasaran ada apa gerangan. Belakangan saya baru tahu kalau wartawan saya dipukul oleh oknum perwira tentara karena membongkar kasus illegal logging sang perwira.
Sekilas saya jadi teringat dengan masa-masa orde baru yang lalu. Wartawan adalah sebuah profesi yang sangat mengundang bahaya. Karena berita dan informasi yang ia buat, banyak wartawan yang berakhir dengan kematian. Sebut saja Udin di Jogja dan masih banyak lainnya. Baru-baru ini salah seorang wartawan media lokal tempat saya bekerja Harian Aceh, juga mengalami pemukulan, intimidasi menggunakan senjata dan ancaman akan dibunuh seluruh keluarganya. Hal ini terjadi akibat ia berhasil membongkar pelanggaran yang dilakukan oleh si oknum perwira tentara tersebut.
Saya jadi bingung sendiri dengan kejadian tersebut. Seingat saya Aceh sudah membuat perjanjian damai dengan pihak NKRI, tapi kenapa masa lalu masih terus menghantui seperti ini?. Apakah orang Aceh tidak berhak untuk hidup damai dan tenteram layaknya orang Indonesia lainnya?. Apakah kami yang di Aceh ini tidak memiliki hak untuk bekerja dengan tenang dan nyaman?.
Dilain sisi, pemukulan terhadap insan pers adalah salah satu bentuk intimidasi dan usaha pembredelan. Melihat dari maksud untuk menghentikan arus informasi terhadap kasus Illegal Logging yang sedang marak terjadi. Jangan-jangan hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak usah tahu tentang kegiatan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu?.
Kasihan sekali. Kelakuan barbar oknum aparat terhadap pers adalah bukti bahwa demokrasi dan era kebebasan pers belum sepenuhnya diakui. Padahal, mengacu pada UU no. 4/1999 dijelaskan bahwa pers adalah salah satu pilar demokrasi dalam mengusung kebebasan informasi. Memang kenyataan selalu bertolak belakang.
Akankah pers kembali dikekang?. Atau kebebasan informasi hanya mimpi kosong belaka?.
Hom hai..
Rabu, Mei 19, 2010
Singin'.."Calm Like a Bee.."


Menghabiskan waktu-waktu terakhir dikantor dengan sebungkus rokok dan air mineral. Letih setelah bekerja. Sambil mendengarkan Calm Like A Bomb nya Rage Against The Machine saya lantas teringat pada lebah yang saya foto menjelang siang tadi.
Sekilas, lebah adalah makhluk kecil yang lucu. Lembut dan tidak berbahaya adalah kesan yang dapat dilihat dari ukuran dan warna-warnanya yang menarik. Benar-benar hewan yang sangat memukau. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari tingkah laku lebah. Mulai dari pola sosialnya yang rukun dan tertib. Belajar tentang kesetiaannya yang mendalam terhadap sang ratu lebah.
Sekilas aku jadi bernyanyi sendiri lyric sangar dari band funk Amerika ini. Mulai berteriak “I be walking god like a dog, My narrative fearless, Word war returns to burn.. and bla..bla..bla..”. Tanpa sadar aku jadi ingin seperti lebah. Calm Like a Bomb membahana melewati rongga telinga langsung menyambar detak jantung dan memaksa sel-sel otakku untuk menggagas ide-ide nakal. Haaahh..
Ssssssuuuuuuuuttttttt... Kusedot kencang produk Philip Morris sialan ini semampuku.
Tahu kah dirimu kawan, lebah adalah hewan yang selalu siap mengorbankan nyawanya. Ketika ia memutuskan dengan insting hewani yang ia miliki untuk menyundut setiap subjek yang mengganggunya, maka saat itu pulalah ia memutuskan untuk bersiap menuju mati. Benar-benar sikap tenang yang mengalahkan sosok anggun seorang Ottori Shigeru saat menebas lengan Ando demi menyelamatkan Tomasu di Mino dalam novel Across The Nightingale Floor karya Lian Hearn.
Bahkan ditengah keteraturan dalam pola sosialnya, para lebah tetap memikirkan bahwa mereka hidup untuk melindungi sang ratu lebah. Hingga mereka bisa berjejalan tanpa merasa kesempitan dan kehilangan lahan. Benar-benar proses hidup yang anggun dan luar biasa. Benar-benar kecintaan yang mampu mengalahkan penghianatan Ratu Gertrude terhadap suaminya Sang Raja Hamlet dalam karya besar Shakespeare ataupun penghianatan seorang Amber Leighton terhadap Giuseppe dalam adegan romantis menyayat difilm Swept Away.
Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari makhluk sekecil dan selembut lebah. Lantas, kenapa manusia yang mendominasi kehidupan lebih jelek dari lebah?. Lihat kasus Tanjung Priok yang belum lama terjadi di ibu kota. Atau lihat penghianatan Pemerintah Provinsi Aceh yang “demam” perdagangan karbon sehingga mau mengorbankan hak-hak ulayat tradisional?.
Ataukah manusia mampu mengevolusikan wataknya menjadi seperti lebah sang pekerja keras?.
Seperti kata orang-orang tua Aceh “hom hai.. han ‘ek loen teu’oh”
Selasa, Mei 18, 2010
Sang Bintangpun Demam Panggung
Demam Panggung..!!
Mungkin kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa konyolnya seseorang yang sedang kikuk saat beraksi. Lantas, kenapa saya mengomentari hal tersebut sepagi ini? apa menariknya? Tak ada yang menarik saya rasa. Hanya saja saya tergelak melihat beberapa media lokal ditempat saya bekerja belakangan ini.
Rekan pembaca mungkin sudah tahu bahwa Aceh terkenal akan kemajemukan ragam budayanya. Termasuk juga dengan tingkah polah orang-orangnya. Salah satunya adalah salah seorang pemimpin daerahnya. Ia belakangan ini terkenal dengan beberapa kebijakan yang pernah ia buat. Terkadang kontroversi itu dibutuhkan untuk mendukung karier seseorang. Layaknya artis-artis.
Dilalah, sang bupati tersebut pernah mengeluarkan kebijakan yang sangat menggemparkan emosi khalayak. Terutama kaum hawa. Bayangkan, ia mengeluarkan sebuah kebijakan pelarangan menggunakan celana jeans bagi perempuan. Kebijakan ini membuat kaget mayoritas warga perempuan. Tidak hanya di wilayahnya saja, namun seluruh Aceh pun tercengang. Konyolnya lagi, beberapa media asing pun sampai ikut-ikutan meliput kebijakan aneh tersebut.
Pada dasarnya ia mengeluarkan kebijakan tersebut dengan didasari oleh azas-azas didalam syariah. Namun tak ayal, masyarakat pun menuntut agar kebijakan tersebut diusut kembali. Hingga akhirnya pemimpin provinsi pun turun tangan. Hal ini berujung dengan malu dan akhirnya sang pimpinan daerah memutuskan untuk mencabut kembali kebijakannya tersebut.
Beberapa waktu belakangan, sang pemimpin daerah kembali berulah. Alih-alih untuk mengantisipasi kemungkinan teroris dikalangan pegawai pemerintah (PNS). Si pemimpin daerah yang lucu ini kembali mengeluarkan kebijakan konyol. Ia melarang setiap pegawai pemerintah didaerahnya untuk memelihara jenggot. Bayangkan dengan jabatan sekelas pemimpin daerah dilengkapi dengan kewenangan yang melimpah-limpah hanya mampu memikirkan “bawahan perempuan dan jenggot”. Alangkah memalukan.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan sang pemimpin terlihat begitu dungu?. Apakah karena ia baru pertama kali menjadi pemimpin dari sebuah organisasi masyarakat?. Jangan demam panggung hanya karena gerogi melihat wewenang dan kekuasaan yang begitu besarnya. Konyol.
Bila saya boleh member nasehat, lebih baik bertanya dahulu pada orang-orang terdekatnya. Tanya istrinya “apa perempuan cocok atau tidak pake celana jeans?” atau tanya teungku-teungku disekitar, apa pegawai yang berjenggot mirip teroris?. Menggelikan.
Mungkin kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa konyolnya seseorang yang sedang kikuk saat beraksi. Lantas, kenapa saya mengomentari hal tersebut sepagi ini? apa menariknya? Tak ada yang menarik saya rasa. Hanya saja saya tergelak melihat beberapa media lokal ditempat saya bekerja belakangan ini.
Rekan pembaca mungkin sudah tahu bahwa Aceh terkenal akan kemajemukan ragam budayanya. Termasuk juga dengan tingkah polah orang-orangnya. Salah satunya adalah salah seorang pemimpin daerahnya. Ia belakangan ini terkenal dengan beberapa kebijakan yang pernah ia buat. Terkadang kontroversi itu dibutuhkan untuk mendukung karier seseorang. Layaknya artis-artis.
Dilalah, sang bupati tersebut pernah mengeluarkan kebijakan yang sangat menggemparkan emosi khalayak. Terutama kaum hawa. Bayangkan, ia mengeluarkan sebuah kebijakan pelarangan menggunakan celana jeans bagi perempuan. Kebijakan ini membuat kaget mayoritas warga perempuan. Tidak hanya di wilayahnya saja, namun seluruh Aceh pun tercengang. Konyolnya lagi, beberapa media asing pun sampai ikut-ikutan meliput kebijakan aneh tersebut.
Pada dasarnya ia mengeluarkan kebijakan tersebut dengan didasari oleh azas-azas didalam syariah. Namun tak ayal, masyarakat pun menuntut agar kebijakan tersebut diusut kembali. Hingga akhirnya pemimpin provinsi pun turun tangan. Hal ini berujung dengan malu dan akhirnya sang pimpinan daerah memutuskan untuk mencabut kembali kebijakannya tersebut.
Beberapa waktu belakangan, sang pemimpin daerah kembali berulah. Alih-alih untuk mengantisipasi kemungkinan teroris dikalangan pegawai pemerintah (PNS). Si pemimpin daerah yang lucu ini kembali mengeluarkan kebijakan konyol. Ia melarang setiap pegawai pemerintah didaerahnya untuk memelihara jenggot. Bayangkan dengan jabatan sekelas pemimpin daerah dilengkapi dengan kewenangan yang melimpah-limpah hanya mampu memikirkan “bawahan perempuan dan jenggot”. Alangkah memalukan.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan sang pemimpin terlihat begitu dungu?. Apakah karena ia baru pertama kali menjadi pemimpin dari sebuah organisasi masyarakat?. Jangan demam panggung hanya karena gerogi melihat wewenang dan kekuasaan yang begitu besarnya. Konyol.
Bila saya boleh member nasehat, lebih baik bertanya dahulu pada orang-orang terdekatnya. Tanya istrinya “apa perempuan cocok atau tidak pake celana jeans?” atau tanya teungku-teungku disekitar, apa pegawai yang berjenggot mirip teroris?. Menggelikan.
Senin, Mei 17, 2010
Ketololan Seorang Cicero
Bagi setiap orang yang mencita-citakan dirinya menjadi seorang orator, tentu ia kenal dengan yang namanya Cicero. Pria yang bernama lengkap Marcus Tullius Cicero. Seorang lelaki Roma yang bercita-cita untuk menjadi seorang senator sedari muda ini. Konon, seorang Soekarno begitu mengidolakan caranya berpidato yang begitu agitatif dan cerdas dalam memainkan emosi massa nya.
Begitukah sempurnakah kehidupan seorang Cicero yang hidup pada tahun-tahun sebelum masehi, sehingga dia di idolakan hingga saat ini? .
Cicero adalah seorang pengacara sukses kedua di Roma pada masa itu setelah hortensius. Ia sendiri belajar ber-orasi pada seorang master pidato. Homer Illiad namanya. Pada sebuah novel kolosal karya Robert Harris, Imperium, dijelaskan bahwa Homer melatihnya ber-orasi dengan cara menyuruh Cicero berdiri dipinggir pantai, ia ingin melihat apakah suaranya mampu mengalahkan debur ombak. Dilain waktu, Cicero juga diminta untuk berpidato ditengah-tengah rindangnya hutan. Homer ingin melihat, apakah suaranya mampu menggetarkan dedaunan pohon ek disana.
Demikian keraslah seorang Cicero berlatih demi mencapai cita-citanya. Hal ini dituliskan dalam setiap papyrus yang dikumpulkan oleh seorang budaknya yang bernama Tiro yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Lantas dimana letak ketololan seorang Marcus Tullius Cicero yang jenius?
Pada karier politik awalnya sebagai seorang Senator dengan jabatan Praetor, Cicero pernah ditantang untuk menyelesaikan kasus korupsi yang dilakukan oleh Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres. Verres mengancam akan menghukum mati seorang sipil bernama Sthenius akibat ia keberatan untuk menyerahkan patung perunggunya kepada sang Gubernur.
Pada masa itu, seorang Gubernur memiliki kekuatan untuk mengatur hukum yang berlaku didaerahnya sekaligus dibekali kekebalan hukum. Hal ini membuat ia tidak dapat dituntut oleh sipil biasa sekelas Sthenius. Di Roma pada masa itu, yang mampu menuntut seorang Gubernur hanyalah Senat yang di isi oleh para bangsawan yang disebut Senator.
Ceritanya, Sthenius mengadu pada Cicero dikarenakan ia adalah seorang pengacara terkuat kedua setelah Horthensius yang korup dan berpihak kepada Verres. Cicero mengambil langkah untuk membicarakan kesewenang-wenangan Verres pada Triumph dengan cara membuat sebuah mosi gugatan. Dalam forum tersebut, Cicero dianggap sebagai orang idiot, karena posisinya sebagai Senator rendahan jelas tidak akan membuatnya didengar.
Diluar dugaan, ternyata ayah dari seorang Gaius Verres yang serakah adalah seorang Senator Senior yang terhormat dan terkenal jujur. Ia yang sedih mendengar kelakuan anaknya kemudian memutuskan untuk menyurati Verres agar membatalkan tuntutannya terhadap Sthenius. Kontan Verres marah dan malah mengambil keputusan untuk segera menjemput Sthenius di Roma agar segera di eksekusi di Sisilia.
Cicero yang mendengar berita tersebut menjadi marah sekaligus ketakutan. Ia menyesali hasil negosiasinya dengan ayah Verres. Dalam negosiasi tersebut, Cicero memutuskan untuk berhenti mengajukan mosi karena ayahnya akan menyurati Verres. Ternyata usaha tersebut gagal diakibatkan sikap Verres yang terlalu keras kepala.
Akibat kesalahannya yang vatal itulah ia harus berpikir untuk mempertaruhkan reputasinya dengan nasib seorang sipil yang tidak berdosa. Akhirnya Cicero memutuskan untuk kembali mengajukan mosi kepada Triumph dengan menahan cercaan.
Disinilah kemudian keluar sebuah adagium Romawi yang terkenal yang berbunyi “Est Impunitum Satium Relinqui Facinus Nocent, Damnari Innocentem Quam”. Kira-kira kalo saya boleh mengartikan maksudnya adalah, “akan lebih baik bila kejahatan itu dibiarkan meraja lela tanpa hukuman, daripada membiarkan orang yang tidak bersalah dihukum”. Walaupun adagium terlontar akibat kekecewaan seorang Cicero terhadap keputusan Triumph sekaligus akibat ketololannya yang begitu percaya bahwa hubungan keluarga dapat menyelesaikan sebuah masalah.
Semoga menjadi Khidmat bagi pembaca yang ingin terjun kebidang hukum dan keadilan.
-saleum-
Begitukah sempurnakah kehidupan seorang Cicero yang hidup pada tahun-tahun sebelum masehi, sehingga dia di idolakan hingga saat ini? .
Cicero adalah seorang pengacara sukses kedua di Roma pada masa itu setelah hortensius. Ia sendiri belajar ber-orasi pada seorang master pidato. Homer Illiad namanya. Pada sebuah novel kolosal karya Robert Harris, Imperium, dijelaskan bahwa Homer melatihnya ber-orasi dengan cara menyuruh Cicero berdiri dipinggir pantai, ia ingin melihat apakah suaranya mampu mengalahkan debur ombak. Dilain waktu, Cicero juga diminta untuk berpidato ditengah-tengah rindangnya hutan. Homer ingin melihat, apakah suaranya mampu menggetarkan dedaunan pohon ek disana.
Demikian keraslah seorang Cicero berlatih demi mencapai cita-citanya. Hal ini dituliskan dalam setiap papyrus yang dikumpulkan oleh seorang budaknya yang bernama Tiro yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Lantas dimana letak ketololan seorang Marcus Tullius Cicero yang jenius?
Pada karier politik awalnya sebagai seorang Senator dengan jabatan Praetor, Cicero pernah ditantang untuk menyelesaikan kasus korupsi yang dilakukan oleh Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres. Verres mengancam akan menghukum mati seorang sipil bernama Sthenius akibat ia keberatan untuk menyerahkan patung perunggunya kepada sang Gubernur.
Pada masa itu, seorang Gubernur memiliki kekuatan untuk mengatur hukum yang berlaku didaerahnya sekaligus dibekali kekebalan hukum. Hal ini membuat ia tidak dapat dituntut oleh sipil biasa sekelas Sthenius. Di Roma pada masa itu, yang mampu menuntut seorang Gubernur hanyalah Senat yang di isi oleh para bangsawan yang disebut Senator.
Ceritanya, Sthenius mengadu pada Cicero dikarenakan ia adalah seorang pengacara terkuat kedua setelah Horthensius yang korup dan berpihak kepada Verres. Cicero mengambil langkah untuk membicarakan kesewenang-wenangan Verres pada Triumph dengan cara membuat sebuah mosi gugatan. Dalam forum tersebut, Cicero dianggap sebagai orang idiot, karena posisinya sebagai Senator rendahan jelas tidak akan membuatnya didengar.
Diluar dugaan, ternyata ayah dari seorang Gaius Verres yang serakah adalah seorang Senator Senior yang terhormat dan terkenal jujur. Ia yang sedih mendengar kelakuan anaknya kemudian memutuskan untuk menyurati Verres agar membatalkan tuntutannya terhadap Sthenius. Kontan Verres marah dan malah mengambil keputusan untuk segera menjemput Sthenius di Roma agar segera di eksekusi di Sisilia.
Cicero yang mendengar berita tersebut menjadi marah sekaligus ketakutan. Ia menyesali hasil negosiasinya dengan ayah Verres. Dalam negosiasi tersebut, Cicero memutuskan untuk berhenti mengajukan mosi karena ayahnya akan menyurati Verres. Ternyata usaha tersebut gagal diakibatkan sikap Verres yang terlalu keras kepala.
Akibat kesalahannya yang vatal itulah ia harus berpikir untuk mempertaruhkan reputasinya dengan nasib seorang sipil yang tidak berdosa. Akhirnya Cicero memutuskan untuk kembali mengajukan mosi kepada Triumph dengan menahan cercaan.
Disinilah kemudian keluar sebuah adagium Romawi yang terkenal yang berbunyi “Est Impunitum Satium Relinqui Facinus Nocent, Damnari Innocentem Quam”. Kira-kira kalo saya boleh mengartikan maksudnya adalah, “akan lebih baik bila kejahatan itu dibiarkan meraja lela tanpa hukuman, daripada membiarkan orang yang tidak bersalah dihukum”. Walaupun adagium terlontar akibat kekecewaan seorang Cicero terhadap keputusan Triumph sekaligus akibat ketololannya yang begitu percaya bahwa hubungan keluarga dapat menyelesaikan sebuah masalah.
Semoga menjadi Khidmat bagi pembaca yang ingin terjun kebidang hukum dan keadilan.
-saleum-
Minggu, Mei 16, 2010
Antara Realita One Piece Dan Susno
Saya yakin dan percaya jika pembaca semua pasti pernah dengar yang namanya kartun atau komik One Piece. Sebuah cerita tentang kehidupan bajak laut yang suka citanya dihabiskan di atas kapal. Bila rekan-rekan pembaca mengikuti ceritanya, saya ingin kembali mengulas tentang cerita episode 40 an saya lupa nomor berapa, tapi yang pasti saat episode petualangan mereka dinegeri seven water.
Dalam cerita tersebut, grup bajak laut Topi jerami yang dipimpin oleh Luffy sedang mengalami dilema dimana mereka harus memperbaiki kapal Going Mery mereka. Dinegeri Seven Water yang terkenal dengan keahlian warganya yang sangat mahir menjadi montir kapal. Saat mereka mulai menjelajahi negeri tersebut mereka menemukan ada sebuah dok kapal yang berisi montir-montir terbaik. Mereka pun memutuskan berkonsultasi.
Singkat cerita, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kapal Going Mery tidak lagi dapat dibetulkan karena suatu hal. Dilain sisi,uang yang mereka miliki untuk memperbaiki kapal telah hilang dicuri, Ussop yang dipercayakan memegang uang tersebut pun pingsan akibat dikeroyok pencuri. Sungguh konflik yang membingungkan.
Puncak klimaksnya terjadi saat Luffy sang Kapten Bajak Laut Topi Jerami harus menjelaskan kepada Ussop yang baru sadar dari pingsannya bahwa Going Mery tidak bisa diperbaiki. Parahnya, Ussop yang notabene orang yang dipercayakan untuk memelihara kapal tersebut merasa kecewa. Disinilah terjadi hal yang mengejutkan. Luffy sang kapten harus memutuskan untuk memilih membeli kapal baru, atau melepas Ussop karena ia berkeras untuk mempertahankan Going Mery dengan kondisi yang sangat parah tersebut.
Pelajaran yang saya ambil adalah, demi mempertahankan cita-cita untuk menjadi Raja Bajak Laut nomor satu, Luffy akhirnya memutuskan untuk duel dengan Ussop yang sekarat. Tentunya dapat ditebak hasilnya, bahwa Luffy lah yang menang sekaligus juga ia memutuskan untuk meninggalkan Ussop dan Going Mery nya. Menurut Zoro salah satu awak kapalnya, “lebih baik memberikan keputusan yang tegas, daripada harus membiarkan mental awak kapal lainnya jatuh. Karena kapten yang lemah, tidak layak memimpin awak kapal yang kuat”.
Lantas apa hubungannya dengan susno?
Disini saya melihat ada kemiripan konflik. Susno yang salah satu pembesar di institusi kepolisian Negara berhasil menjadi dua ikon tersendiri. Ikon yang pertama adalah sebagai polisi yang baik dan benar layaknya seorang Serpico di LAPD. Ikon yang lainnya adalah sebagai polisi korup khas Indonesia.
Tapi poin pentingnya bukan disitu, poin pentingnya adalah bahwa orang yang menjadi pemimpin dari institusi tempat susno bekerja seharusnya sudah lebih tanggap terhadap kemungkinan kejadian seperti ini. Seperti kata Zoro, Kapten yang lemah tidak layak memimpin awak kapal yang kuat.
Saya rasa masi banyak “susno-susno” lain, “Susno” di pajak juga sudah terungkap, “susno” dipertanahan sudah ketahuan, kira-kira “susno”dibidang apa lagi yah??. Semoga menjadi pembelajaran.
-saleum-
NB: Bapak yang suka curhat itu juga kalo sudah merasa lemah, jangan tetap ngotot pak. Kata Zoro “kapten yang lemah tidak layak memimpin awak yang kuat”. Hehehe..
Dalam cerita tersebut, grup bajak laut Topi jerami yang dipimpin oleh Luffy sedang mengalami dilema dimana mereka harus memperbaiki kapal Going Mery mereka. Dinegeri Seven Water yang terkenal dengan keahlian warganya yang sangat mahir menjadi montir kapal. Saat mereka mulai menjelajahi negeri tersebut mereka menemukan ada sebuah dok kapal yang berisi montir-montir terbaik. Mereka pun memutuskan berkonsultasi.
Singkat cerita, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kapal Going Mery tidak lagi dapat dibetulkan karena suatu hal. Dilain sisi,uang yang mereka miliki untuk memperbaiki kapal telah hilang dicuri, Ussop yang dipercayakan memegang uang tersebut pun pingsan akibat dikeroyok pencuri. Sungguh konflik yang membingungkan.
Puncak klimaksnya terjadi saat Luffy sang Kapten Bajak Laut Topi Jerami harus menjelaskan kepada Ussop yang baru sadar dari pingsannya bahwa Going Mery tidak bisa diperbaiki. Parahnya, Ussop yang notabene orang yang dipercayakan untuk memelihara kapal tersebut merasa kecewa. Disinilah terjadi hal yang mengejutkan. Luffy sang kapten harus memutuskan untuk memilih membeli kapal baru, atau melepas Ussop karena ia berkeras untuk mempertahankan Going Mery dengan kondisi yang sangat parah tersebut.
Pelajaran yang saya ambil adalah, demi mempertahankan cita-cita untuk menjadi Raja Bajak Laut nomor satu, Luffy akhirnya memutuskan untuk duel dengan Ussop yang sekarat. Tentunya dapat ditebak hasilnya, bahwa Luffy lah yang menang sekaligus juga ia memutuskan untuk meninggalkan Ussop dan Going Mery nya. Menurut Zoro salah satu awak kapalnya, “lebih baik memberikan keputusan yang tegas, daripada harus membiarkan mental awak kapal lainnya jatuh. Karena kapten yang lemah, tidak layak memimpin awak kapal yang kuat”.
Lantas apa hubungannya dengan susno?
Disini saya melihat ada kemiripan konflik. Susno yang salah satu pembesar di institusi kepolisian Negara berhasil menjadi dua ikon tersendiri. Ikon yang pertama adalah sebagai polisi yang baik dan benar layaknya seorang Serpico di LAPD. Ikon yang lainnya adalah sebagai polisi korup khas Indonesia.
Tapi poin pentingnya bukan disitu, poin pentingnya adalah bahwa orang yang menjadi pemimpin dari institusi tempat susno bekerja seharusnya sudah lebih tanggap terhadap kemungkinan kejadian seperti ini. Seperti kata Zoro, Kapten yang lemah tidak layak memimpin awak kapal yang kuat.
Saya rasa masi banyak “susno-susno” lain, “Susno” di pajak juga sudah terungkap, “susno” dipertanahan sudah ketahuan, kira-kira “susno”dibidang apa lagi yah??. Semoga menjadi pembelajaran.
-saleum-
NB: Bapak yang suka curhat itu juga kalo sudah merasa lemah, jangan tetap ngotot pak. Kata Zoro “kapten yang lemah tidak layak memimpin awak yang kuat”. Hehehe..
Langganan:
Postingan (Atom)