Tampilkan postingan dengan label Sastramnesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastramnesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 11, 2012

Maklumat Zubaidah

Aku tak hendak ditumbalkan
Aku ingin meminta banding atas syarat melepas Lancang Kuning
Hidup bayiku lebih berharga daripada alasan demi melayarkan sebuah kapal belaka
Kenapa tak engkau saja yang menumbalkan dirimu yang pengecut?
Toh, kaum engkau jua yang berdiri dihaluan
Bukan aku

Aku menuntut persamaan hak
Apakah karena dada ku yang bulat penuh ini maka aku tak bisa menjadi Panglima
Aku pun ingin memimpin armada besar seperti Malahayati
Atau menjadi pakar tauladan seperti adinda Kartini
Kenapa justru aku yang harus dijadikan pembayar sebuah nafsu yang tak sampai

Persetan dengan nasib negeri
Hidupku aku yang miliki, aku pula yang akan memilih bagaimana akan ku akhiri
Tak ada hak kalian memaksa kehendak atasku
Apalagi engkau..!!






#Sedikit Jawaban Atas Sebuah Melodi Pengakuan,-)

Rabu, Mei 02, 2012

52 Tahun Bunda

lima dua
angka yang diberikan Tuhan pada Bunda hari ini
aku bahkan belum bisa memberimu sesuatu

Bunda
dihari ini aku senang masih bisa menciumi bau keringatmu
menciumi tanganmu seperti hari hari biasa
sungguh aku bersyukur atas setiap perhatianmu sepanjang hari
mulai sejak pagi hingga menuju pagi selanjutnya


tak pernah aku mendengar keluhmu
bahkan ketika aku pulang terlalu larut
dengan wajah terkantuk tetap diriku jua yang engkau tunggui


tiada setitikpun tampak keraguan diwajahmu
bahkan ketika menghadapi kekonyolan dan kebebalan diriku

itulah dirimu Bunda
dan aku tetap sayang padamu
sama seperti hari hari biasanya





 
  #selamat ulang tahun yang ke-52 untuk Ibunda terhebat sepanjang masa. Bahkan dalam
   diampun aku tetap sayang dan rindu, aku yakin Bunda juga begitu.

Senin, April 23, 2012

Amnesia


Jikalau ia bisa berteriak
Ia pasti kecewa
Jika saja mereka mampu bergerak
Tentu mereka yang akan berdiri dimuka

Tapi apalah daya mereka kini
Mereka kini renta
Berserak diantara belulang serupa hikayat usang dalam lemari
Lantas apa yang harus dibuat jika segala kemajuan dianggap sesat sementara kebenaran lapuk dimamah peradaban

Sirna waktu atas segala kenyataan yang tergadai
Luluh melepuh setiap ruang yang dibangun
Matilah sudah

Rabu, April 04, 2012

Surat Untuk Pak

Pak..
Adakah Kau Lihat Kebangunan yang di Ujung Jalan Itu?
Ya, Dua Blok dari Istanamu Pak..
Kata Mereka, disana Orang Orang Sakit Bisa Sembuh Pak??
Tapi Sekarang Berbeda Pak, yang Masuk Disana, Sekeluarnya Akan Langsung Hinggap di Prodeo..

Pak..
Kau Sudah Dengarkan Kata Anak Sebelah?
Tentang Temannya yang Bunuh Diri Karena Orang Tuanya tak Kuat Bayar SPP..
Kata Ibu Warung, “Daripada Malu Ya Skalian Mati Saja”

Pak..
Sebenarnya Kita Ini Punya Sawah Atau Tidak Ya Pak?
Kok, Berasnya Dikirim Kampung Sebelah Ya Pak?
Jadi yang Ditanam Kemarin Itu Apa?

Pak..
Sebenarnya Aku Masih Ingin Bertanya Lagi..
Tapi Kau Diam Saja Sedari Tadi..
Ada Apa Ya Pak?

Panggung Bebas

Panggung ini panggung bebas
Lepas Tak berbatas
Bisa aku
Atau kau
Atau mereka yang berdiri disini

Panggung ini panggung milik kita
Tak juga kau
Aku
Atau mereka berhak mengaturnya

Karena panggung ini adalah panggung bebas
Lepas Tak berbatas..!!






#Sebuah Kritik Untuk Panggung Pertunjukan Seni Budaya Pekanbaru yang Kaku Seperti Batu

Jumat, Mei 21, 2010

Tjoet Njak Dhien

Aku Berjalan Melintasi Waktu
Mengingat Kembali Kisah Kelam Satu Abad Yang Lalu
Teriakan, Darah, dan Senyuman
Aku Merasa Bertabur Duka Dibalik Asap Mesiu dan Api

Melihat Rumahmu
Dengan Segenap Lintasan Peristiwa yang Terekam Didalamnya
Betapa Aku Tahu Bahwa Engkau Dipuja dan Dibenci

Dipuja Oleh Mereka Yang Menginginkan Kebebasan
dan Dibenci Oleh Mereka Yang Serakah dan Keji

Kini Kau Dikenang Sebagai Simbol Perlawanan
Mereka yang Dulu Menginginkan Kematianmu pun Mengakuinya

Kawan Kenalkah Kau Pada Sosoknya?

Ya
Dialah Tjoet Njak Dhien
Sang Ratu Perang Atjeh

Rabu, Mei 19, 2010

Hikayat Tukang Pangkas

10 tahun yang lalu.

Aku adalah seorang tukang cukur keliling. Menjajakan kemampuanku kepada setiap orang yang merasa butuh penampilan baru. Mulai dari remaja, bapak-bapak sampai anak-anak. Bahkan, sssst.. terkadang aku juga melayani wanita yang ingin pangkas rambut. Itu juga bila dipaksa, karena sebenarnya aku tidak punya kemampuan untuk memangkas rambut wanita. Bukannya aku tak mau belajar, tapi mereka jenis yang terlalu cerewet dan banyak permintaan.

Aku lajang, memulai usahaku karena aku tidak sanggup bersaing untuk kerja berdasi. Maklum, aku berasal dari kelas yang takkan sanggup membayar pendidikan. Sekalipun dipaksa. Hari-hari biasa aku habiskan dengan melewati jalanan gampong sambil berteriak “koh u’..koh u’..”. Perlu energy lebih banyak untuk mampu meneriakkan kata-kata tersebut sambil menggendong perkakas cukuran sejauh belasan kilometre sehari daripada energy yang dipakai oleh seorang komandan kepada anggotanya.


Usahaku ini juga tidak dapat dikatakan laris. Sehari paling banyak aku mendapatkan tiga, ah.. paling banyak empat kepala sehari. Rute kelilingku dimulai dari daerah lingke menuju lampriet lalu masuk ke pocut baren sampai peunayong lantas melewati arah lam pulo kemudian masuk ke lam baro skep baru akhirnya aku mencari lorong-lorong kecil yang entah apa namanya sampai kembali ke lingke. Lelah. Aku tidak kenal kata itu. Karena orang sepertiku hanya akan mati tergilas roda zaman bila terlalu cepat menyerah.

Lapar dan haus itu biasa teman, puasa dua atau tiga hari itu juga lumrah. Bagiku, mendapat uang Rp. 10.000,- sekali cukur itu mukjizat. Sebenarnya tarifku untuk sekali pangkas adalah Rp. 12.500,-. Jangan kau bilang mahal teman, di Banda Aceh tidak ada yang murah. Bahkan untuk sekali kencing di Masjid Raya saja kau harus mengeluarkan uang Rp. 2000,-. Walaupun jargonnya air itu karunia Tuhan. Banyak orang yang memakai jasaku yang tak setuju membayar dengan tarif sejumlah tersebut. Biasanya mereka akan menawar hingga Rp. 8000,- paling banyak Rp. 9000,-. Alasannya adalah, karena aku tukang pangkas keliling. Mereka juga selalu bilang begini “aku mau pangkas sama abang, karena malas keluar rumah”. Memang dasar mereka saja yang pelit.

Suatu ketika, aku sedang berjalan disekitar wilayah Lampriet. Terik mentari membuatku terpaksa berteduh dibawah pohon rindang milik sebuah rumah yang menjorok keluar dari halaman. Teduhya. Duduk sambil berkipas dengan topi lusuh yang selalu aku kenakan setiap harinya. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara nyonya pemilik rumah berteriak “pa.. dirapikan dulu rambutnya, masa’ pergi keacara gubernur begitu?!”. Tuan pemilik rumah itupun menjawab “gak sempat lagi ma.. nih papa uda terlambat”. Karena terlalu rebut, aku memutuskan untuk berpindah tempat. Saat lewat didepan gerbangnya, aku dipanggil oleh nyonya pemilik rumah. Lantas, aku disuruh untuk merapikan rambut suaminya.

Ternyata, tuan pemilik rumah tersebut senang dengan potonganku. Ia berkata, besok pagi aku harus menemuinya. Aku tidak mengerti apa maksud dari keinginannya, kupikir tidak ada salahnya.

Keesokan harinya. Aku datang menemui tuan tersebut ditempat yang sama. Terkaget-kaget aku mendengarkan keinginannya. Ia ingin aku mengelola sebuah took miliknya di daerah pasar peunayong untuk dibukakan usaha pangkas rambut. Saat aku bertanya kenapa, ia hanya bilang pangkasanku bagus dan rapih. Ia hanya ingin berlangganan denganku saja.

Belakangan baru aku tahu bahwa tuan tersebut adalah seorang pejabat provinsi yang cukup terkenal.


5 tahun kemudian.

Aceh berada dalam posisi konflik yang aku tak tahu kemungkinan berakhirnya. Tapi satu hal yang aku tahu, bahwa usahaku kian hari kian laris. Tarifku bertambah, bila dulu sekali pangkas aku tetapkan Rp.12.500,- sekarang menjadi Rp. 18.000,-. Tak ada lagi orang yang keberatan, bahkan pelangganku semasa aku masih berkeliling juga tak lagi berani menawar. Aku selalu geli sendiri bila mengingat bagaimana mereka dulu selalu mengolok-olokku sebagai pilihan terakhir atau karena malas keluar rumah.
Pelangganku berasal dari beragam profesi. Mulai dari guru, pengusaha, pegawai, tentara, bahkan milisi yang sedang menyamar. Aku tahu itu semua karena kebiasaan orang aceh yang selalu bercerita saat sedang dipangkas. Tapi tak ada alasan bagiku untuk memberitahukan kepada pelanggan lainnya. Hanya khusus untukmu kawan, karena sekarang aku yang sedang bercerita.

Semakin hari pelangganku selalu bertambah. Banyak rekanan dari tuan yang membantuku ikut menggunakan jasaku disini. Awalnya aku cukup kesulitan karena pelangganku terus bertambah. Pelan-pelan aku mulai mencari tenaga tambahan untuk membantu usahaku.


4 tahun berlalu.

Kini aku tak lagi menjadi tukang pangkas jago kandang. Aku tidak lagi memangkas ditokoku sendiri. Aku hanya akan memangkas bila ada order istimewa dari orang-orang kalangan pejabat saja. Namaku mulai tersohor, hingga pejabat Negara yang singgah ke aceh mulai menggunakan jasaku dalam mengurusi penampilan mereka. Sssst.. Jangan katakan pada siapapun, bila presiden berkunjung kemari selalu aku yang dipanggil.

Akhirnya aceh memasuki masa perdamaian. Tidak ada lagi ketakutan dimana-mana. Saat ini setiap orang sudah mulai membuka identitas dirinya. Dulu milisi yang selalu was-was bila sedang dipangkas, sekarang ia mulai santai. Bahkan, beberapa pelangganku yang dulunya milisi sudah mulai berani bicara terang-terangan. Semuanya terjadi begitu saja seiring istilah milisi diganti menjadi kombatan. Intinya semua orang bahagia. Aku tak tahu apakah ini sementara, yang pasti tak ada ruginya bagiku.

Masa-masa ini terasa damai dan tenteram. Hidupku sudah berkecukupan, aku sudah memiliki rumah sendiri, anakku bisa sekolah lebih tinggi dariku, istriku juga cantik. Tak ada lagi masa-masa dimana aku harus berpuasa karena tidak ada pemasukkan. Sekarang aku hanya berpuasa disaat Ramadhan tiba, tidak lagi kelaparan apalagi kehausan. Sampai suatu ketika terjadi hal yang tidak pernah aku perkirakan.

Pagi itu aku sedang bersiap dirumah untuk berangkat menuju tempat usahaku. Aku sengaja tidak terburu-buru. Bagiku menikmati segelas kopi hangat dipagi hari adalah ritual yang menyenangkan. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara istriku yang mengatakan ada tamu yang mencariku. Kupikir masih terlalu pagi, tapi menolak tamu adalah hal yang tidak sopan. Tamu tersebut adalah seorang laki-laki. Tidak terlalu muda juga tidak dapat dikatakan sudah tua. Menurutku usianya sekitar tiga puluhan, entah berapa usia sebenarnya. Orang tersebut mencari orang untuk mencukur jenggot dan rambutnya. Dari penampilannya ia terlihat berantakan, memakai topi dan berbaju yang sudah kumal akibat keringat dan banyak bekas-bekas tanahnya. Melihatnya aku teringat masa lalu diriku yang sama kumalnya dengan penampilan orang tersebut. Lantas aku memutuskan untuk membantunya. Sebenarnya aku penasaran, tapi sepertinya tak pantas aku mempertanyakan hal tersebut. Aku hanya ingin membantunya.

Beberapa bulan sejak kejadian tersebut, aku tidak lagi bertanya-tanya siapa gerangan tamu tersebut. Aku kembali kepada rutinitasku seperti semula. Hingga akhirnya aku didatangi oleh beberapa orang yang mengaku polisi. Mereka menangkapku dan menanyakan hal-hal yang menurutku aneh. Aku ditangkap atas tuduhan melindungi seorang tersangka teroris. Aku mendadak kaget bukan kepalang, sungguh tuduhan yang aku tidak paham duduk permasalahannya.

Aku di intimidasi dan dipukuli saat di interogasi. Mereka banyak bertanya kenapa aku melindungi teroris. Aku tidak tahu jawabannya karena memang aku tidak merasa berbuat begitu. Mereka menyangka aku membantu seorang tersangka dalam menyamar. Dengan mencukur jenggot seseorang aku dituduh begitu. Lantas kenapa saat aku mencukur jenggot seorang presiden aku tidak dapat pujian?.

Masa-masa yang aku alami mulai berubah. Hari-hari biasa yang aku lewati juga semakin tak biasa. Aku yang biasanya disediakan segelas kopi hangat dengan beberapa potong pisang goreng atau ubi rebus, kini tak lagi kunikmati. Sedari pagi aku sudah merasakan pertanyaan yang dibumbui intimidasi dan pemukulan yang bertubi-tubi. Hanya karena profesi sebagai tukang cukur.

Aku tak kuasa menahan perlakuan tersebut. Statusku juga berubah. Dari orang yang membantu tersangka bergeser menjadi tersangka. Aku ditahan dan diadili menurut cara mereka. Sekarang aku terancam akan diganjar hukuman 15 tahun penjara. Bagiku ini konyol. Mana ada seorang tukang pangkas dihukum karena ia melayani pelanggannya. Seperti yang telah kuceritakan, mulai dari pejabat sampai jelata sudah pernah kupangkas. Dari kombatan sampai aparat sudah pernah kulayani. Kenapa baru sekarang ini aku dituduh sedemikian lucunya.

Sungguh hal yang lucu. Lebih lucu daripada tingkah polah mereka yang lebih berhak ditahan akibat memakan hak rakyat. Hukum macam apa ini?. Entahlah.

Selasa, Mei 18, 2010

Puisi Rindu


Tidurlah Tidur Kasihku Sayang
Hilangkan Lelahmu Sejenak

Lelaplah Kekasihku Disana
Mengadulah Pada Malam Dengan Segenap Cita-citamu

Karena Aku Akan Menghampirimu Bersama Angin Yang Membelai dan Memelukmu Erat..

Senin, Mei 17, 2010

Dag..Dig..Dug..

sssttt...
jangan teriak-teriak nanti dia terbangun
aku sudah menidurkannya tadi
jangan diganggu lagi

hei..
kan sudah kubilang
melangkah pelan-pelan
jangan terburu-buru
nanti dia tahu dan terbangun

padahal..
aku sudah beri dia obat
biar tidak segera terbangun
sudah kuusahakan agar dia tidak cepat sadar

dag..dig............................dug..

sial..
dia bangun lagi

sepertinya tak mungkin tidur lagi..!!