Oleh: Win Halim
“Mengawali dari sebuah keresahan secuil masa dikota ini. gundah tak dapat direndam, malah yang ada berdiam”.
Penggalan kalimat diatas adalah ungkapan kekesalan saya terhadap mereka yang berdasi, berotak encer (?), berduit untuk sekedar melirik sampai dimana kota mewujudkan berkesenian yang meruang. Sejenak kita mencoba berpikir santai, meluangkan waktu sebentar untuk melihat kedalam diri kita masing-masing. Apa yang sedang terjadi?, saya yakin anda dan saya punya cara sendiri untuk menjawabnya.
Meminta satu ruang yang panjang tentang sebuah tempat berkarya bagi seniman akan terasa berat untuk dikabulkan daripada menandatangani berita acara proyek yang berdigit-digit angka, koma dan titik. Sementara suara seniman hanya menjadi suara sumbang, suara yang nyaris tak bernada, bahkan berharap welas asih dari mereka agar dapat dipenuhinya satu ruang untuk menyalurkan segala aspirasipun hanya menjadi isapan jempol belaka. Kekhawatiran itu bukan sekedar ini.
Itulah yang dialami oleh sebagian seniman daerah dalam mengapresiasikan karya-karya mereka. Dan penggalan kalimat diatas mengajak kita untuk bisa merasakan apa yang terjadi dengan daerah kita ini. Seperti tidak ada Kerjasama yang baik antara pemerintah dan seniman yang senantiasa memberikan banyak manfaat besar dalam berbagai bidang. Baik ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Itu semua semata-mata karena kemajuan daerah kita sendiri.
Akan tetapi harapan itu tidak semua dapat dirasakan, dari seribu hanya seperdelapan yang menolak atas pengakuan tersebut. Termasuk saya. Mengapa? Karena saya melihat dengan sudut pandang nurani bukan sekedar berani.
Berkesenian adalah salah satu aktivitas bagi seniman dalam berolah rasa dan pikiran. Hampir tak mengenal waktu dan ruang, seniman yang gigih menjadikan prioritas utama dalam menciptakan karya. Semacam nafas bagi tubuhnya. Baik itu tari, lukis, sastra, patung, craft (kerajinan tangan) dan lain sebagainya, tak menyurutkan semangat untuk terus mengembangkan keahlian mereka masing-masing. Namun terbentur dengan tekanan sosial yang tidak sinergi memberikan ruang itu menjadi tertutup. Antara kepentingan atau sekedar peraturan, maka hal yang dianggap sederhana dengan sengaja diabaikan.
Memiliki tempat wisata yang indah, sejarah yang kuat, budaya yang kental, bahasa yang ragam, membuat getol para pelancong untuk segera berkunjung dan menikmati wangi pala cengkeh Moloku Kie Raha. Hingga kita sangat berbangga hati dengan kedatangan mereka. Tak sekedar wisatawan domestik, wisatawan asing pun sudah selalu berkunjung hanya sekedar melihat atau sekedar mengetahui sejarah, budaya dan alam Moloku Kie Raha.
Tentu kita harus berbangga hati dengan itu semua. Bukan hanya sekedar melihat seberapa banyak pendapatan yang masuk, akan tetapi sudah puaskah yang kita berikan bagi mereka?. itu yang perlu kita pertanyakan. Ini hanya masalah seni, dan saya berharap itu menjadi satu dari sebagian besar masalah daerah yang ada untuk di tempatkan pada posisi yang tidak tersudutkan atau perhatian kita bersama.
Barangkali hal inilah yang menjadi kegelisahan saya. Karena bagi saya, senyawa daerah terletak pada senimannya. Bali bisa maju, karena pemerintah daerah mau bekerja sama dengan seniman. Yogjakarta bisa kental dengan budayanya karena suara seniman selalu menjadi ukuran bagi pemerintah setempat. Bandung, Semarang, Surabaya dan kota besar lainnya yang terus mengembangkan budaya mereka, itu semua disebabkan kesetaraan pemerintahan yang bahu membahu meluruskan niat dan kepedulian mereka dengan benar dan tulus untuk menjadikan semua itu bersinergi. Sinergitas inilah yang menjadi harapan seniman daerah itu sendiri.
Seniman dan karya seperti benang tipis yang tidak bisa terpisahkan. Antara mereka itu merupakan kekuatan Tuhan yang terwujud. Dalam diri seniman banyak yang akan dia ungkapkan dengan menggunakan bahasanya sendiri. Tapi bagaimana jadinya, jika ungkapan itu tak ada tempat buat dia untuk berkarya.
Menata dengan seni, maka melihatpun akan berseri. Mengutarakan isi hati tanpa ada paksaan. Agar ada lirikan, senyuman terlebih simpati yang memukau untuk itu.
Idealisme kebudayaan memberikan pemikiran-pemikiran baru bagi siapa saja yang datang atau mencintai kebudayaan tanpa ada paksaan karena merasa berbudaya, maka idealisme itu akan diterima. Tak membatasi ruang dan waktu dalam berinteraksi. Cukup dengan memiliki alasan yang sama, kepuasan akan lahir sebagai nurani yang abadi.
Lalu sampai kapan daerah ini harus begini ? apakah harus terus mengabaikan semua aspirasi-aspirasi seniman? Sementara mereka membutuhkan perhatian meski hanya sekedar menyediakan satu ruang yang bisa mewujudkan karya-karya mereka dengan tanpa melihat siapa dan darimana mereka datang.
Karenanya suara seniman adalah suara perubahan. Suara yang memiliki senyawa, suara yang tidak mencampuri urusan politik, sara dan kepentingan-kepentingan yang merugikan. Bahkan suara seniman adalah suara yang peduli terhadap kebudayaan, sosial serta perubahan itu sendiri.
Hingga pada satu titik, saya mulai meneruskan suara seniman menjadi suara nurani. Yang berani tanpa tirani, dan berharap menjadi pasti. Semoga !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar