
Berapa banyak dari orang tua yang menyadari kemampuan anaknya sejak usia dini?
Bagaimana nalar kreatifitas si anak kemudian dapat terbaca oeh orangtuanya?
Bicara tentang perkembangan kognitif anak usia dini (baca; anak kecil), seharusnya dapat dilihat dari kecenderungan si anak itu sendiri. Nah, dalam hal ini kebanyakan orang tua lebih menilai kreatifitas anak-anak sebagai buah tingkah laku kenakalan. Identik memang, daya ingin tahu yang sangat besar pada anak usia dini terhadap lingkungan sekitarnya mendorong mereka untuk ber-eksperimentasi terhadap akal dan objek disekitarnya.
Menarik memang, membicarakan tingkah polah anak usia dini yang bila dilihat secara awam pasti akan cenderung dinilai “destruktif”. Padahal, bila diperhatikan lebih lanjut tingkah tersebut lebih kepada respon alami mereka terhadap objek yang ada disekitarnya saja. Tak layak memang diperbandingkan dengan imajinasi orang dewasa, sebab mereka pasti akan sangat berbeda respon alaminya apabila melihat benda yang sama dengan yang dilihat oleh anak usia dini tersebut.
| Savira Laisa Rabbani (12 mei nanti 4 tahun) |
Dirumah saya, ada dua orang ponakan saya yang kebetulan berusia dini. Namanya Laisa Savira Rabbani, anak pertama dari kakak perempuan saya. Saat ini usianya sudah mau jalan menuju tahun ke empat. Bila membicarakan tingkahnya, saya rasanya ibunya saja sudah menyerah. Kesenangannya selain pada bunyi benda-benda yang ia hentakkan (lebih tepatnya dihempaskannya) dan obsesinya terhadap warna-warna telah berhasil menghiasi rumah kami. Beberapa hasil karya bocah ini akan saya pertunjukkan disini. Hehehe, kaya promosi yah.
Enjoy it fellas.
Lengkapnya bisa dilihat di link ini..
Savira Laisa Rabbani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar