![]() | |
| Para Pemain Kabaret |
![]() | |
| Salah Satu Adegan didalam Kabaret "Malin Kundang" |
Hari sabtu yang lalu tanggal 7 april 2012, Kelompok Teater SMU Widya Graha Pekanbaru mengadakan pertunjukan seni di Taman Budaya Pekanbaru. Gelaran tersebut diadakan dalam rangkaian kegiatan reguler Pasar Seni yang menjadi salah satu agenda rutin Taman Budaya Pekanbaru saban akhir pekan. Malam itu mereka menampilkan sebuah Kabaret berjudul “Malin Kundang” dan sebuah Pembacaan Puisi Berantai. Adapun selain agenda pertunjukan kesenian, pihak Taman budaya juga menggelar acara Nonton Film bersama.
Agenda menonton ini juga termasuk kedalam daftar
kegiatan rutin mingguannya. Malam itu film yang diputar juga berbeda daripada
film yang sudah pernah diputar. Malam ini diputar film Tjoet Njak Dhien yang
diperankan oleh Christin Hakim dan Slamet Rahardjo yang juga merupakan karya
sineas Eros Djarot.
Acara yang biasanya dimulai pukul 20.00 WIB setiap
hari sabtunya tersebut menjadi agak terlambat dikarenakan kehadiran para pemain
yang juga terlambat. Namun, agenda yang kemudian dimulai tepat pukul 21.00
tersebut tidak mengurangi minat para penonton dalam mengapresiasikan
pertunjukan mereka. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme penonton yang tetap
setia menunggu. Tak hanya dari teman-teman sekolah saja, banyak juga dari
kalangan umum yang tertarik untuk menonton pertunjukan tersebut.
Pertunjukan pertama yang digelar adalah sebuah
Kabaret berjudul Malin Kundang. Kabaret ini berusaha mempelesetkan legenda
rakyat Sumatera Barat. Dalam kisah sebenarnya, Malin Kundang dikutuk Ibundanya
menjadi batu dipinggir pantai. Sedangkan dalam pertunjukan tersebut Siswa SMU
Widya Graha justru menggambarkan bahwa Malin Kundang dikutuk menjadi “Tai”
didalam kamar mandi. Walaupun dimainkan dengan gaya khas remaja ABG,
pertunjukan tersebut berhasil memikat gelak tawa para penonton.
Sebenarnya, dari konsep yang diangkat pada
pertunjukan tidak menimbulkan suatu ciri khas dari legenda yang terjadi selain
beberapa tokoh yang memang ada. Namun, keberanian para siswa tersebut dalam
membangun mental ber-pertunjukan tetap patut diacungi jempol. Setidaknya
sebagai pengingat kepada pekerja pertunjukan yang ada dikota Pekanbaru yang
terkenal minim acara pertunjukan. Terlalu berani dan sinis memang, tapi tetap
kreatif.
Kabaret dimulai dengan suara Narator yang
bercerita dengan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Minang sambil
menggunakan dialeg khas Jawa yang kental. Setelahnya masuklah tokoh Malin
Kundang bersama Ibundanya. Adegan demi adegan pun berlanjut hingga selesai.
Pertunjukan semakin menarik dengan adanya aransemen musik yang dikutip dari
beberapa lagu Musisi Papan Atas baik lokal maupun Internasional. Sebut saja
lagu “Caiya-Caiya” yang dinyanyikan oleh Norman Kamaroo dan “My Heart Will Go
On” milik Celine Dion pun ikut diangkut sebagai musik latar malam itu.
Pertunjukan selanjutnya adalah pembacaan Puisi
Berantai. Konsep permainan ini sangat menarik karena dimainkan oleh empat orang
dengan karakter yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menjadi Petani, Koki
(tukang buat kue), Pecinta dan seorang lagi berperan sebagai Ustad. Mereka berkolaborasi
membacakan puisi dengan sebuah tema yang sama tapi dengan gaya karakter tokoh
yang dimainkan.
![]() |
| Para Pemain Puisi Berantai |
Misalnya saja, saat si petani membacakan bagian “akan kusirami dan kusiangi..” lantas disambung oleh si Koki dengan “lalu kusimpan dan kubungkus ia dengan rapat..” dan disambung lagi oleh si Pecinta “cinta kita berdua agar abadi..” dan ditimpali langsung oleh sang Ustad dengan “sampai akhir zaman..”. Pertunjukan ini menjadi sangat menarik melihat para pemain bersahut-sahutan dengan gaya karakternya. Sayangnya, saat ditengah acara salah seorang dari pemain tidak ingat bagian puisi yang harus dibacanya. Ini membuatkan mereka berempat saling terdiam sambil berusaha membisiki pemain yang kelupaan.
Kejadian tersebut sontak membuat para penonton
tertawa. Para pemainpun semakin salah tingkah. Pertunjukan ditutup oleh si
Ustad yang kemudian melompat kepada bagian terakhir. Pertunjukan malam itu pun
selesai.
Memasuki agenda kedua Nonton Film Bersama yang
memutar film Indonesia berjudul Tjoet Njak Dhien. Film ini tetap menarik minat
para penonton malam itu. Karya Eros Djarot yang diproduksi pada tahun 1988 ini
bercerita tentang kehidupan pahlawan perempuan dari Aceh beserta Kronik Perang
Aceh yang terkenal memakan banyak korban. Film berdurasi hampir dua jam ini ditonton
dengan khidmat oleh para penonton yang rata-rata bertahan hingga selesai.
Animo yang terbentukpun berbeda daripada film-film
yang pernah diputar sebelumnya. Pasar Seni Taman Budaya Pekanbaru pada
pekan-pekan sebelumnya memutar film dengan Tema yang tidak mendidik seperti
“Transformer 3, 3 Doa 3 Cinta, dll”. Malam itu, kondisi sungguh berbeda karena
film yang disuguhkan bercerita tentang kepahlawanan dan dari kisah nyata.
Gambar lainnya Klik disini.......................................>>>> Malin Kundang, Ku Kutuk Kau Jadi Tai



Tidak ada komentar:
Posting Komentar