Rabu, April 04, 2012
That's My Funny Nephew..
Once, saya sedang berjalan-jalan dengan keluarga saya. Kakak saya bersama suami dan kedua anaknya yang masih lucu-lucunya, Bunda dan Ayah saya serta saya sendiri. Aktifitas ini sudah menjadi rutinitas kami sekeluarga sekali tiap bulannya. Lantas, apa yang istimewa kalau sudah menjadi rutinitas seperti itu?.
Keunikan terjadi ketika saya memangku Savira, anak pertama Kakak saya, ketika melewati jalan Sudirman dan melihat Tugu Pesawat terbang yang besar itu, biasanya ia akan berteriak histeris "cepawat pakcik, cepawat" (maksudnya adalah Pesawat pakcik pesawat, dimaklumi saja jika anak yang belum genap 4 tahun berteriak). Kami biasanya tertawa beramai-ramai. Karena memang tingkah polos dari bocah keriting centil ini sangat menggemaskan.
Beberapa waktu kemudian, jika kami jalan sekeluarga lagi kami lebih memilih menghindari jalan Sudirman, terutama diseputaran Tugu Pesawat. Hal ini dikarenakan Tugu tersebut sedang dalam tahap pergantian menjadi Tugu Zapin. Keponakan saya yang sudah mendapatkan Chemistry tersendiri dengan Tugu tersebut pun lebih rentan diam dan malas bila harus melihat bekas Tugu tersebut.
Tak berselang lama kemudian, kami mendengar kabar bahwa Tugu Zapin sudah selesai dikerjakan. Bahkan, terjadi polemik yang cukup alot mengenai Tugu tersebut. Ada yang mengatakan pembuatan Tugu tersebut adalah sebuah pemborosan, ada juga yang mengatakan bahwa Tugu tersebut mengandung unsur Porno. Maka, dengan semangat penasaran bersama kami sekeluarga memutuskan untuk melihat Tugu tersebut pada jalan-jalan keluarga selanjutnya.
Tepat pada bulan Januari, setelah event Tahun Baru, kami mengunjungi keluarga di salah satu daerah di Pekanbaru. Kami juga memutuskan untuk mengunjungi Tugu tersebut. Dengan kendaraan dan komposisi yang sama kami berangkat.
Pada saat melewati Jalan Sudirman, Bunda menunjuk kearah Tugu Zapin sambil memanggil Savira "kakak, itu lihat Nari-Nari" (maksudnya adalah patung orang sedang menari).
Lantas, Savira pun melirik.
Mendadak ia hanya terdiam, antara terpukau dan kagum. Saya juga kurang yakin dengan apa yang ia pikirkan. Mobil pun dipelankan jalannya agar Savira bisa lebih merekam apa yang ia lihat adalah sebuah karya seni yang maha Mahal.
Tiba-tiba,
Sambil mencondongkan badannya kedepan kearah Dashboard mobil. Perlahan diacungkannya tangan kiri dengan jari telunjuk menuding kearah Tugu.
Ia berteriak "Pakcik Pantat Pakcik, Malu Pakcik Malu"
Dengan suara cempreng tidak terkira dan wajah Innocent-nya.
That's My Funny Nephew :).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar