Jumat, April 13, 2012

Pekanbaru: Kota Berkuah yang Tak Lagi Bertuah


“Kota Pekanbaru Kota Bertuah, itu dulu.. sekarang tuh yang ada Pekanbaru Kota Berkuah”

Agaknya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan Kota Pekanbaru saat ini. Begitulah sekiranya kata kawan saya saat menanggapi dinamika kota yang makin hari makin monoton. Banyak hal yang sudah tidak terkendali lagi dikota ini. baik dalam hal identitas kota yang tergerus dan meningginya kepentingan yang tertimbun dikota yang dahulunya dianggap sebagai kota yang penuh dengan kesempatan dan peluang ini. Lantas, apa yang salah dengan kota ini yaa?

Dalam banyak hal, banyak sekali ketidakcocokan yang terjadi didalam dinamika kota Pekanbaru. Terlalu banyak ide yang berceceran sedangkan penerapannya sangat minim sekali. Lihat saja bagaimana kota ini berkembang kemudian. Tak ada lagi hal menarik yang dapat dijadikan sebuah identitas atau symbol kota yang dapat diangkat.

Dikota ini, yang semakin marak adalah kasus seni budaya dan penghancuran tata kota. Lihat saja dari beberapa perdebatan yang terjadi didalam lingkup kota Pekanbaru saat ini. Ada kasus dipindahkannya atau bahkan dirobohkannya beberapa monument yang sudah dianggap sebagai ikon kota, yang lebih hebat lagi ada kasus dimana ukiran dibadan tong sampah pun jadi perdebatan alot. Wanna Amazing Pekanbaru. Begitu persisnya.

Bila saja para pahlawan tanah melayu ini bisa dihidupkan kembali, mereka pasti akan menjerit “bukan ini yang kami tuju, lelah berperang pun marwah tetap tergadai” mungkin akan seperti itu. Lihat saja dari beberapa kejadian yang saya sampaikan diatas, tidak ada suatupun kejadian yang memang berpijak pada kebutuhan dari masyarakat kota ini sendiri. Sebagai warga saya merasa jenuh dengan kondisi kota saya saat ini.

Saya merasa heran dengan kasus yang saya paparkan sebelumnya. Lihat saja kasus dimana monument kota yang dihancurkan atau dipindahkan. Salah satunya adalah monument pesawat terbang yang dipindahkan untuk kemudian diganti dengan monument zapin (saat ini diisebut sebagai monument Tarian Rakyat, nanti saya jelaskan lebih lanjut). Banyak dari kalangan Budayawan yang justru memperdebatkan bahwa monument tersebut justru tidak menggambarkan sebuah gerakan zapin, tapi lebih seperti gerakan menampar orang dan bahkan tidak menggambarkan etika melayu. Bagi saya, perdebatan seperti itu adalah perdebatan yang tidak bermutu. Karena, jikalaupun ada hal yang layak diperdebatkan adalah mengenai keberadaan tugu tersebut untuk menggantikan monument kota yang seblumnya (monument pesawat terbang-red).

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi penting. Apa yang membuat monument zapin ini menjadi begitu kuat perannya untuk diletakkan ditengah kota yang notabene ada sebuah monument yang sukses menjadi Kota Pekanbaru selama ini. Hal seperti inilah yang menurut saya dinilai perlu untuk dilakukan sebuah koreksi. Akan sangat bertele-tele apabila masih memperdebatkan model gerak, warna apalagi etika budaya yang digambarkan. Ini konyol namanya. Lihat saja perdebatannya disini.

 Lalu ada lagi perdebatan mengenai gambar selembayung ditubuh tong sampah yang dibuat oleh Pemda. Apa sebenarnya yang harus diperdebatkan dari sebuah logo yang dianggap sebagai salah sebuah model ukiran khas. Lihat saja gedung Bandar Serai yang kini sudah bersatu dengan tanah. Kurang banyak apa ukiran khas Melayu Riau disana? Apakah ada dari kalangan budayawan yang berusaha menyelamatkan atau minimal membawa pulang ukiran tersebut agar tidak terbuang. Jawabnya tentu saja tidak seorangpun. Lantas apa yang menjadi penting jika ukiran tersebut diletakkan sebagai motif tong sampah?. Toh, masyarakat justru menilai itu sebagai bentuk keindahan.

Perdebatan-perdebatan seperti inilah yang kemudian membuat kota Pekanbaru tidak berkembang dinamika seni budaya nya. Lihat saja Taman Budaya yang kian hari kian minim kegiatan, lihat Purna MTQ yang dulu megah kini tak lebih sebagai lokasi muda mudi menggeliat dimalam hari. Inilah yang orang sering sebut dengan istilah meleset.

Dikala daerah yang lain sibuk membangun Identitas Budaya, justru disini terlalu sibuk untuk membangun budaya identik. Padahal yang dibutuhkan oleh kota ini adalah identitas budaya yang melekat yang bisa membedakan kota ini dari kota lain. Sekaligus pula sebagai pembuktian bahwa kota ini telah siap menjadi ikon peradaban melayu dunia, setidaknya begitulah yang selalu digembar-gemborkan. Melihat hal itu kemudian banyak yang menyebutnya sebagai rencana didalam mimpi.

Kembali kepada teman saya yang tadi, bahwa dia berpendapat dikota ini terlalu banyak orang yang pintar memainkan lidah sehingga terlalu banyak kuah dalam ucapannya. Memang lidah tak bertulang begitulah kata pepatah lama, tapi janganlah pula terlalu banyak kuahnya (baca, liur-red). Hehe. Semoga sajalah ;).


Beberapa link bacaan terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar