“Kota Pekanbaru Kota Bertuah, itu dulu..
sekarang tuh yang ada Pekanbaru Kota Berkuah”
Agaknya itulah kata yang pantas untuk
menggambarkan Kota Pekanbaru saat ini. Begitulah sekiranya kata kawan saya saat
menanggapi dinamika kota yang makin hari makin monoton. Banyak hal yang sudah
tidak terkendali lagi dikota ini. baik dalam hal identitas kota yang tergerus
dan meningginya kepentingan yang tertimbun dikota yang dahulunya dianggap
sebagai kota yang penuh dengan kesempatan dan peluang ini. Lantas, apa yang
salah dengan kota ini yaa?
Dalam banyak hal, banyak sekali ketidakcocokan
yang terjadi didalam dinamika kota Pekanbaru. Terlalu banyak ide yang
berceceran sedangkan penerapannya sangat minim sekali. Lihat saja bagaimana
kota ini berkembang kemudian. Tak ada lagi hal menarik yang dapat dijadikan
sebuah identitas atau symbol kota yang dapat diangkat.
Dikota ini, yang semakin marak adalah kasus seni
budaya dan penghancuran tata kota. Lihat saja dari beberapa perdebatan yang
terjadi didalam lingkup kota Pekanbaru saat ini. Ada kasus dipindahkannya atau
bahkan dirobohkannya beberapa monument yang sudah dianggap sebagai ikon kota,
yang lebih hebat lagi ada kasus dimana ukiran dibadan tong sampah pun jadi
perdebatan alot. Wanna Amazing Pekanbaru. Begitu persisnya.
Bila saja para pahlawan tanah melayu ini bisa
dihidupkan kembali, mereka pasti akan menjerit “bukan ini yang kami tuju, lelah
berperang pun marwah tetap tergadai” mungkin akan seperti itu. Lihat saja dari
beberapa kejadian yang saya sampaikan diatas, tidak ada suatupun kejadian yang
memang berpijak pada kebutuhan dari masyarakat kota ini sendiri. Sebagai warga
saya merasa jenuh dengan kondisi kota saya saat ini.
Saya merasa heran dengan kasus yang saya
paparkan sebelumnya. Lihat saja kasus dimana monument kota yang dihancurkan
atau dipindahkan. Salah satunya adalah monument pesawat terbang yang
dipindahkan untuk kemudian diganti dengan monument zapin (saat ini diisebut
sebagai monument Tarian Rakyat, nanti saya jelaskan lebih lanjut). Banyak dari
kalangan Budayawan yang justru memperdebatkan bahwa monument tersebut justru
tidak menggambarkan sebuah gerakan zapin, tapi lebih seperti gerakan menampar
orang dan bahkan tidak menggambarkan etika melayu. Bagi saya, perdebatan
seperti itu adalah perdebatan yang tidak bermutu. Karena, jikalaupun ada hal
yang layak diperdebatkan adalah mengenai keberadaan tugu tersebut untuk
menggantikan monument kota yang seblumnya (monument pesawat terbang-red).
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi penting. Apa
yang membuat monument zapin ini menjadi begitu kuat perannya untuk diletakkan
ditengah kota yang notabene ada sebuah monument yang sukses menjadi Kota
Pekanbaru selama ini. Hal seperti inilah yang menurut saya dinilai perlu untuk
dilakukan sebuah koreksi. Akan sangat bertele-tele apabila masih memperdebatkan
model gerak, warna apalagi etika budaya yang digambarkan. Ini konyol namanya. Lihat
saja perdebatannya disini.
Lalu ada
lagi perdebatan mengenai gambar selembayung ditubuh tong sampah yang dibuat
oleh Pemda. Apa sebenarnya yang harus diperdebatkan dari sebuah logo yang
dianggap sebagai salah sebuah model ukiran khas. Lihat saja gedung Bandar Serai
yang kini sudah bersatu dengan tanah. Kurang banyak apa ukiran khas Melayu Riau
disana? Apakah ada dari kalangan budayawan yang berusaha menyelamatkan atau
minimal membawa pulang ukiran tersebut agar tidak terbuang. Jawabnya tentu saja
tidak seorangpun. Lantas apa yang menjadi penting jika ukiran tersebut
diletakkan sebagai motif tong sampah?. Toh, masyarakat justru menilai itu
sebagai bentuk keindahan.
Perdebatan-perdebatan seperti inilah yang
kemudian membuat kota Pekanbaru tidak berkembang dinamika seni budaya nya. Lihat
saja Taman Budaya yang kian hari kian minim kegiatan, lihat Purna MTQ yang dulu
megah kini tak lebih sebagai lokasi muda mudi menggeliat dimalam hari. Inilah yang
orang sering sebut dengan istilah meleset.
Dikala daerah yang lain sibuk membangun Identitas
Budaya, justru disini terlalu sibuk untuk membangun budaya identik. Padahal
yang dibutuhkan oleh kota ini adalah identitas budaya yang melekat yang bisa
membedakan kota ini dari kota lain. Sekaligus pula sebagai pembuktian bahwa
kota ini telah siap menjadi ikon peradaban melayu dunia, setidaknya begitulah
yang selalu digembar-gemborkan. Melihat hal itu kemudian banyak yang
menyebutnya sebagai rencana didalam mimpi.
Kembali kepada teman saya yang tadi, bahwa dia
berpendapat dikota ini terlalu banyak orang yang pintar memainkan lidah
sehingga terlalu banyak kuah dalam ucapannya. Memang lidah tak bertulang
begitulah kata pepatah lama, tapi janganlah pula terlalu banyak kuahnya (baca,
liur-red). Hehe. Semoga sajalah ;).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar