
Bujanggi bukanlah kelompok Jazz pertama yang ada di Riau, sebut saja Geliga yang juga digawangi oleh Eri Bob dan Sisca Mamiri.
Walaupun terdapat kesamaan personel diantara kedua kelompok musisi ini, namun terdapat banyak sekali perbedaan didalam karyanya. Misalnya saja dari hal yang paling simple, dari segi alat music yang digunakan. Aroma Melayu yang diutarakan oleh Geliga terungkap secara gamblang dan jernih. Baik dari segi kualitas nada dan alat music yang memang ethnic dan khas Melayu. Sedangkan Bujanggi, kelompok music ini lebih cenderung memainkan nada nada konvensional seperti yang dimainkan oleh Musisi Jazz kebanyakan. “Jauh panggang dari api”, agaknya itu pula ungkapan yang pas untuk menggambarkan bagaimana perbedaan permainan yang dimainkan dengan seloroh yang dibunyikan saat Press conference di Rumah Budaya Siku Keluang beberapa hari sebelumnya.
Menurut Eri Bob pada saat Presscon Tersebut, bahwa nada akan melahirkan kata yang yang penuh misteri dan menggambarkan unsure-unsur kemelayuan. Agaknya terlalu jauhlah untuk melihat kesana. Bandingkan juga dengan permainan kelompok musisi jazz yang memainkan irama melayu lainnya seperti Melacca Ensemble yang sangat kental sekali aroma music Ethnic Melayunya. Lihatlah permainan mereka saat memainkan lagu bunga seroja, suara violin yang mendayu dari Hendri Lamiri sangat memanjakan telinga.
Pada dataran konsep pertunjukan, akan terihat bagaimana konser ini seperti acara main-main tak lebih. Terlalu banyak prolog atau narasi yang dibacakan oleh Yos Riezal dikemas seolah pertunjukan sastra tunggal membuat acara ini semakin monoton. Sempat muncul dibenak saya “ ini sebenarnya pertunjukkan music atau event sastra sih”, sukses membuat sedikit mengantuk. Secara teknis, acara ini harus diulang pada lagu pertamanya setidaknya 3 kali. Listrik gedung mengalami turun arus dan entah bisa disebut naas atau tidak, panitia tidak menyiapkan sumber arus listrik yang lebih stabil. Inilah yang membuat saya menilai acara ini tidak seserius pernyataannya. Untuk sebuah pertunjukan Jazz Melayu dengan Sponsor salah satu provider telekomunisasi, ini adalah sebuah Ironi.
Dengan mengusung cita-cita mulia yaitu ingin memasyarakatkan music jazz ditengah kesesatan music pasar yang merajalela dimasyarakat agaknya akan berhasil untuk membangun sebuah imaji bahwa music jazz adalah music semua orang. Jauh dari interpretasi selama ini yang mengatakan bahwa music jazz adalah music mahal dan milik kalangan elit saja. Namun, bila melihat mahalnya tariff tiket yang diletakkan oleh pihak manajemen justru membuat imej music jazz semakin jauh dipuncak dari pendengaran masyarakat umum. Musik Jazz bak menara gading, semakin nyata rasanya bila melihat konsep pertunjukkan yang diangkat. Sekali lagi saya menyatakan ini sebagai sebuah ironi.
Ibarat ucapan apologi sang narrator saat mati arus yang pertama “memang susah berkesenian di Riau”. Ya, tentunya akan susah sekali bila mental yang dipelihara masih bersifat ansih dan tidak sepenuhnya berkarya untuk memberi kenikmatan pada sesama. Saya percaya, bahwa unsur music khas Melayu yang ada di Pekanbaru adalah sesuatu yang menarik untuk dinikmati secara bersama.
Semoga ;).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar