Tampilkan postingan dengan label Jejak-Jejak Imaginer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak-Jejak Imaginer. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 21, 2010

Going Crazy In Lhok Nga Part 2 (History Of The Atjeh Queen Of War)



Melanjutkan perjalananku kembali. Seharusnya perjalanan ini saya buat kemarin, tapi karena satu dan lain hal terpaksa edisi kemarin media ini tidak ada posting. Maklum perjalanan yang melelahkan. Sewaktu saya kuliah dijogja dulu, kalau saya ingin jalan-jalan saya tidak begitu terasa lelah. Maklum, saya selalu bepergian bersama tunangan saya tersayang. Jadi lelahnya hilang karena bahagia.

Ok. Kita kembali dengan cerita saya. Setelah melahap ikan bakar dengan sadisnya saya pun memutuskan untuk pulang. Ditengah jalan saya teringat bahwa ada rumah salah seorang pahlawan nasional dipinggir jalan ini. Pahlawan ini dahulu terkenal sebagai Ratu Perang Aceh, namanya adalah Tjoet Njak Dhien.

Seperti yang saya ulas sedikit pada postingan saya sebelumnya. Rumah ini adalah bentuk replica dari yang asli. Rumah aslinya sudah dibakar lebih dari seabad yang lalu, tepatnya tahun 1896. Rumah ini hanya meninggalkan pondasinya dan sumur yang kebetulan setinggi 3 meter-an. Rumah dengan dekorasi yang unik ini didirikan kembali oleh pengikut Tjoet Njak Dhien secara diam-diam. Baru kemudian dipugar kembali oleh pemerintah pada tahun 1980-an. Saat ini rumah tersebut menjadi salah satu asset sejarah yang dimiliki oleh bangsa Aceh.
Banyak hal yang menarik perhatian saya. Diantaranya adalah Grand Design rumah tersebut yang sangat menarik. Persis seperti istana. Menurut ibu penjaga, rumah itu dulu digunakan sebagai benteng pertahanan wilayah Lhok Nga. Berhubung Teuku Umar sang suami tinggal disana, maka banyak sekali pengikutnya yang juga tinggal dirumah tersebut.

Rumah yang kini menjadi ikon Rumoh Aceh itu masi berdiri tegak dengan anggun. Didalamnya banyak sekali foto-foto menarik peninggalan belanda. Mulai dari foto-foto 2 Sultan Aceh terakhir, foto Teuku Umar dan pengikutnya diberanda rumah sebelum dibakar, foto Tjoet Njak Dhien sampai foto dokumentasi Jenderal-Jenderal Belanda dan aksi agresi mereka di wilayah Aceh.

Disini saya melihat ada beberapa hal yang sangat menarik pengamatan saya. Diantaranya adalah kenangan terhadap Sang Ratu perang yang sangat mendalam dan kisah sumur dibelakang rumah. Kenapa kenangan terhadap Sang Ratu perang begitu mendalam, ketika saya mengingat kembali beberapa literature yang berkaitan dan film yang bercerita tentang Tjoet Njak Dhien, saya jadi paham kenapa ia begitu diagungkan oleh pengikutnya.

Membayangkan bagaimana karismanya dizaman dulu membuat saya merinding. Bagaimana usaha para Jenderal-Jenderal Belanda yang berusaha menumpas gerakannya namun selalu sia-sia. Tidak sedikit Jenderal-Jenderal tersebut yang memutuskan untuk bunuh diri karena frustasi. Bahkan hal ini juga berlaku pada saat penangkapan suaminya Teuku Umar. Banyak Jenderal yang mati sia-sia. Mungkin rekan pembaca pernah mendengar Jenderal Rudolf Kohler?. Dia adalah salah satu Jenderal Belanda yang mati sia-sia. Bahkan jenazahnya tidak lagi diterima di Belanda sana.

Hal kedua yang kemudian menarik minat saya adalah model sumur yang ada pada zaman tersebut. Sumur tersebut luar biasa tingginya. Ketika saya menanyakan perihal tinggi sumur tersebut yang mencapai 3 meter. Ibu penjaga mengatakan bahwa zaman perang dulu, keluarga Teuku Umar dan Tjoet Njak Dhien begitu di incar oleh banyak orang. Baik mata-mata lokal maupun pasukan kompeni yang menyelinap. Maka tak heran bila sumur tersebut sangat tinggi dan mulut sumur hanya bisa dicapai bila kita naik kedalam rumah terlebih dahulu.

Menarik sekali perjalanan saya sekali ini.

Melihat waktu yang sudah mendekati jam 4 sore saya memutuskan untuk segera pulang kembali kekantor. Dijalan saya kembali mengingat kembali sejarah peperangan tersebut. Saya jadi teringat satu hal penting. Bahwa tekad orang Aceh sangat kuat untuk meraih kebebasan dan kemerdekaan. Terbukti dari kisah-kisah sejarahnya sendiri. Tapi rekan pembaca tahukah?, bahwa Tjoet Njak Dhien dan Teuku Umar mengakhiri perjuangannya bukan karena menyerah. Perjuangan mereka berakhir akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Sebutlah Teuku Umar yang dikhianati oleh Syah Bandar Kerajaan Aceh. Sedangkan istrinya Tjoet Njak dhien Sang Ratu Perang memilih mengakhiri perjuangannya akibat diberitahukannya tempat persembunyiannya oleh Pang Laot. Benar-benar sebuah kejadian yang mengerikan. Tekad dan pengkhianatan.

Sambil berjalan tak lupa saya kembali mendengarkan Photograph dari Weezer. Saya pun mulai bersenandung sambil berjalan “If You Want It, You Can Have It.. But You’ve Got To Learn To Reach Out There And Grab It..”.

Sepertinya saya harus menjadikan pengalaman perang mereka sebagai tekad hidup saya.

-saleum meutuah-

Going Crazy In Lhonk Nga..Part 1 (Pantai Abis)



Melintasi jalanan panjang banda aceh menuju pesisir Lhok Nga. Ada workshop tentang biogas yang harus saya datangi. Sendiri bermotor sejauh nyaris 25 km lebih. Mumpung pagi hari jadi tidak perlu merasa kesulitan. Teduh dan berangin.

Bersama dendang riang Photograph dari Weezer dari Ipod yang dikirim kekasih tersayang. Melewati jalanan dengan kecepatan 40 km/h. Wilayah yang sepi dipagi hari. Sebatang produk Philip Morris sialan terselip diantara jari dan coklat batangan yang setengah meleleh. Tenang menuju pantai. Nice trip.

Sepanjang jalan aku melihat banyak rumah-rumah warga yang sudah mulai dibangun kembali paska bencana Tsunami. Ada juga beberapa rumah yang memang masih berdiri tegak. Salah satunya adalah rumah Ratu Perang asal Aceh. Ya, rumah Tjoet Njak Dhien masih berdiri tegak dengan gagahnya. Memang replica buatan tahun 1980an, karena yang asli sudah dibakar kompeni tahun 1896. Tapi bangunan tersebut tetap gagah. Rekan pembaca bisa mengulik hasik jepretan perjalan saya nanti.

Akhirnya saya sampai ditujuan. Workshop yang diadakan oleh salah satu perusahaan semen multi internasional. Program CSR perusahaan tersebut melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui pengadaan pilot project dibeberapa titik. Biogas dari kotoran sapi atau lembu. Sebuah system energy alternatif yang menarik. Memang sekarang sedang zamannya serba alternatif. Hehee.

Banyak warga adat disekitar wilayah Lhok Nga yang datang. Didalam workshop tersebut mereka tampil apa adanya. Saat ditanya kesannya terhadap bio energy tersebut, mereka pun menjawab dengan apa adanya. Polos namun tetap menarik.

Tanpa terasa hari mulai mendekati sore. Suasana juga mulai berubah. Dimulai dengan hawa panas yang mulai menyerang, orkes pun mulai menggema dilambung saya yang tak seberapa, dan keinginan saya yang menggebu-gebu tak tertahankan lagi. Sepertinya enak makan ikan bakar di daerah Lhoong. Mmmmhh..

Mulai menyusuri jalan kembali dengan rute semakin menjauh dari pusat kota. Persis dilokasi yang berjejer penjual ikan bakar, disanalah saya mulai menyandarkan motordan menghajar beberapa potong ikan bakar dengan keji. Bersama sambal kecap dan terasi khas Aceh. Kalau orang Aceh bilang seperti ini, “hai mangat that..”. Kenyang.
Manstaaappp..

Rabu, Mei 19, 2010

Antara Teh Hangat dan Nasi Kare

Bersama segelas teh dan sepiring nasi kare aku mulai kembali menarikan tarian jejari diatas keyboard laptop. Udara siang ini tidak seperti biasanya. Tidak begitu panas, tapi cukup membuat keringatku menetes.

Lagi-lagi aku terkesima. Rasanya, setiap kali mengitari kota banda aceh ini aku selalu ingin menulis. Mulai dari keragaman budayanya, tingkah polah warganya, kebiasaan-kebiasaannya, dan banyak lagi hal menarik lainnya. Salah satu diantaranya adalah watak orang aceh yang bersumbu pendek alias pemarah.


Dibeberapa surat kabar lokal, berita yang sedang marak diantaranya adalah tentang sidang keluarga mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang berakhir ricuh, lalu ada juga keributan pada saat aksi masa aktivis lingkungan menolak jual beli karbon, dan banyak berita lainnya. Menarik sekali sebenarnya, hanya saja saya rasa kasus mahasiswa Unsyiah terlihat lebih tolol daripada kasus perkelahian supporter sepak bola.
Saya rasa setiap pembaca yang pernah berkuliah pasti pernah mengalami yang namanya sidang mahasiswa. Apapun itu namanya, yang jelas itu adalah forum dimana setiap golongan mahasiswa bertemu. Mari kita bertanya, saat kita mengalami dead lock dalam perdebatan lantas kita melemparkan makian dan kata kasar kepada peserta forum yang lain?. Saya rasa tidak sebodoh itu.
Menurut sejarah, bangsa Aceh adalah bangsa yang besar. Bisa menguasai seputaran malaka sampai daratan india. Bahkan, nama rajanya pun termasyhur di Negara Turki. Tapi kenapa tingkah generasi lebih buruk daripada manusia zaman Food and Gathering dulu?. Sekali lagi lucu bin konyol.
Bagi saya idealisme itu patut dipertahankan bila menyangkut kehidupan banyak orang lainnya. Tapi sebagai golongan terdidik bergelar mahasiswa, seharusnya lebih memaksimalkan otak daripada otot. Bukan begitu.
Aaahh.. Nasinya sudah habis, saya mau tambah lagi takut kekenyangan. Begitu juga dengan tehnya. Mmhh, sepertinya lebih baik disambung lain waktu sajalah.

-saleum-

Senin, Mei 17, 2010

Apung Apung Tsunami


Sekali waktu saya merasa perlu juga untuk berjalan mengelilingi kota Banda Aceh. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah lokasi bersemayamnya sebuah Kapal besar yang bersandar ditengah kota akibat gelombang Tsunami yang melanda aceh medio 2006 yang lalu.
Bukan main besarnya kapal tersebut. Menurut saya, karena kapal tersebut yang begitu besar dan berada persis didalam sebuah perkampungan, bila kita berdiri di atasnya kita dapat melihat Banda Aceh. Silahkan anda membayangkan betapa besarnya kapal tersebut.

Menurut warga sekitar, dulunya kapal tersebut berlabuh dipinggir pantai sebagai bantuan tenaga listrik. Lantas datang bencana Tsunami yang kemudian mengantarkan kapal tersebut di tengah-tengah kampong diwilayah Punge, Banda Aceh. Disekitar kapal tersebut dibuatkan taman yang kemudian warga sekitar lebih senangnya menyebutnya dengan istilah Monumen Tsunami.
Menurut pengamatan saya, dengan adanya kapal tersebut telah membuat sebuah perubahan terhadap kultur ekonomi masyarakat sekitar. Dahulu, disekitarnya hanyalah perkampungan biasa yang tidak begitu maju. Memang tidak begitu kumuh, namun tingkat kepadatan rumah dan tempat tinggalnya cukup rapat.
Saat ini, bila pembaca sekalian berkunjung kelokasi wisata tersebut, pembaca sekalian akan melihat beberapa kios yang menjual souvenir-souvenir bertema kan Tsunami dan ke-khasan dari daerah Aceh. Semacam kaos bertemakan Tsunami, tas dan dompet dengan motif khas Pinto Aceh, dan lainnya. So, bila rekan pembaca sekalian penasaran maka silahkan berkunjung ke Banda Aceh. Sejuta warung kopi akan menyambut kedatangan anda.

Sabtu, Mei 15, 2010

Aceh Kota Sejuta Warung Kopi

Sekilas bicara tentang masyarakat Aceh, akan terdapat banyak hal yang bisa kita bahas. Mulai dari kebiasaan, adat istiadat, budaya dan kebiasaan ekonominya yang mencolok. Banyak hal menarik yang tentunya akan menjadi pembicaraan tersendiri.
Yang paling khas dari kebudayaan masyarakat Aceh adalah “nongkrong” atau lumrahnya kita sebut dengan aktifitas berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang umumnya terjadi diwilayah sekitar si pelaku. Saat berkumpul, yang menjadi temannya yang paling khas adalah kopi. Maka tak heran bila banyak orang Aceh menghabiskan waktunya dengan berkumpul di warung-warung kopi. Jangan heran bila yang menunggui warung kopi, orangnya itu-itu saja. Memang benar hal ini tidak terjadi pada semua orang Aceh. Tapi mayoritas orang Aceh memang senang duduk dan menghabiskan waktu di warung kopi.

Pernah saya bertanya pada teman saya, apa sih yang membuat banyak orang senang menghabiskan waktu diwarung kopi?. Jawabannya mudah saja, karena memang banyak peluang yang bisa didapatkan dari warung kopi. Mungkin, kebiasaan ini tak jauh berbeda dari kebiasaan orang-orang ditempat lain di luar Aceh. misalnya, orang jogja yang senang berkumpul di angkringan, atau orang solo dengan warung koboy nya.
Menurut teman saya lagi, orang Aceh itu membahas hal-hal yang beragam. Ada anekdot ringan dari teman saya, turun naiknya pemimpin daerah di Aceh, itu ditentukan di warung kopi. Kontan saya tertawa mendengarnya. Tapi memang saya banyak mendengar bahwa orang Aceh banyak mendiskusikan isu-isu disekitarnya dengan cara berkumpul di warung kopi atau balee jaga (pos kamling).
Bila kawan sempat berkunjung ke Banda Aceh, maka anda sendiri pasti akan kebingungan dengan banyaknya warung kopi disini. Ada lagi cerita lucu dari teman saya yang lain. Teman ini adalah seorang peneliti dari World Bank. Dia bercerita pada saya, di Aceh mau minum kopi saja bingung. Lantas saya bertanya, memang kenapa?. Dia bilang, setiap warung kopi lain-lain rasa kopinya. Yah, berhubung saya sudah 5 tahun berhenti minum kopi, ya saya tidak tahu dimana perbedaannya. Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penelitian tentang kebiasaan masyarakat Aceh dengan warung kopinya. Setelah selesai, kami sepakat menyebut Aceh sebagai kota sejuta warung kopi.
Yap, itulah segelintir catatan dari obrolan saya.

-saleum-