Sekilas bicara tentang masyarakat Aceh, akan terdapat banyak hal yang bisa kita bahas. Mulai dari kebiasaan, adat istiadat, budaya dan kebiasaan ekonominya yang mencolok. Banyak hal menarik yang tentunya akan menjadi pembicaraan tersendiri.
Yang paling khas dari kebudayaan masyarakat Aceh adalah “nongkrong” atau lumrahnya kita sebut dengan aktifitas berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang umumnya terjadi diwilayah sekitar si pelaku. Saat berkumpul, yang menjadi temannya yang paling khas adalah kopi. Maka tak heran bila banyak orang Aceh menghabiskan waktunya dengan berkumpul di warung-warung kopi. Jangan heran bila yang menunggui warung kopi, orangnya itu-itu saja. Memang benar hal ini tidak terjadi pada semua orang Aceh. Tapi mayoritas orang Aceh memang senang duduk dan menghabiskan waktu di warung kopi.
Pernah saya bertanya pada teman saya, apa sih yang membuat banyak orang senang menghabiskan waktu diwarung kopi?. Jawabannya mudah saja, karena memang banyak peluang yang bisa didapatkan dari warung kopi. Mungkin, kebiasaan ini tak jauh berbeda dari kebiasaan orang-orang ditempat lain di luar Aceh. misalnya, orang jogja yang senang berkumpul di angkringan, atau orang solo dengan warung koboy nya.
Menurut teman saya lagi, orang Aceh itu membahas hal-hal yang beragam. Ada anekdot ringan dari teman saya, turun naiknya pemimpin daerah di Aceh, itu ditentukan di warung kopi. Kontan saya tertawa mendengarnya. Tapi memang saya banyak mendengar bahwa orang Aceh banyak mendiskusikan isu-isu disekitarnya dengan cara berkumpul di warung kopi atau balee jaga (pos kamling).
Bila kawan sempat berkunjung ke Banda Aceh, maka anda sendiri pasti akan kebingungan dengan banyaknya warung kopi disini. Ada lagi cerita lucu dari teman saya yang lain. Teman ini adalah seorang peneliti dari World Bank. Dia bercerita pada saya, di Aceh mau minum kopi saja bingung. Lantas saya bertanya, memang kenapa?. Dia bilang, setiap warung kopi lain-lain rasa kopinya. Yah, berhubung saya sudah 5 tahun berhenti minum kopi, ya saya tidak tahu dimana perbedaannya. Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penelitian tentang kebiasaan masyarakat Aceh dengan warung kopinya. Setelah selesai, kami sepakat menyebut Aceh sebagai kota sejuta warung kopi.
Yap, itulah segelintir catatan dari obrolan saya.
-saleum-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar