Saya yakin dan percaya jika pembaca semua pasti pernah dengar yang namanya kartun atau komik One Piece. Sebuah cerita tentang kehidupan bajak laut yang suka citanya dihabiskan di atas kapal. Bila rekan-rekan pembaca mengikuti ceritanya, saya ingin kembali mengulas tentang cerita episode 40 an saya lupa nomor berapa, tapi yang pasti saat episode petualangan mereka dinegeri seven water.
Dalam cerita tersebut, grup bajak laut Topi jerami yang dipimpin oleh Luffy sedang mengalami dilema dimana mereka harus memperbaiki kapal Going Mery mereka. Dinegeri Seven Water yang terkenal dengan keahlian warganya yang sangat mahir menjadi montir kapal. Saat mereka mulai menjelajahi negeri tersebut mereka menemukan ada sebuah dok kapal yang berisi montir-montir terbaik. Mereka pun memutuskan berkonsultasi.
Singkat cerita, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kapal Going Mery tidak lagi dapat dibetulkan karena suatu hal. Dilain sisi,uang yang mereka miliki untuk memperbaiki kapal telah hilang dicuri, Ussop yang dipercayakan memegang uang tersebut pun pingsan akibat dikeroyok pencuri. Sungguh konflik yang membingungkan.
Puncak klimaksnya terjadi saat Luffy sang Kapten Bajak Laut Topi Jerami harus menjelaskan kepada Ussop yang baru sadar dari pingsannya bahwa Going Mery tidak bisa diperbaiki. Parahnya, Ussop yang notabene orang yang dipercayakan untuk memelihara kapal tersebut merasa kecewa. Disinilah terjadi hal yang mengejutkan. Luffy sang kapten harus memutuskan untuk memilih membeli kapal baru, atau melepas Ussop karena ia berkeras untuk mempertahankan Going Mery dengan kondisi yang sangat parah tersebut.
Pelajaran yang saya ambil adalah, demi mempertahankan cita-cita untuk menjadi Raja Bajak Laut nomor satu, Luffy akhirnya memutuskan untuk duel dengan Ussop yang sekarat. Tentunya dapat ditebak hasilnya, bahwa Luffy lah yang menang sekaligus juga ia memutuskan untuk meninggalkan Ussop dan Going Mery nya. Menurut Zoro salah satu awak kapalnya, “lebih baik memberikan keputusan yang tegas, daripada harus membiarkan mental awak kapal lainnya jatuh. Karena kapten yang lemah, tidak layak memimpin awak kapal yang kuat”.
Lantas apa hubungannya dengan susno?
Disini saya melihat ada kemiripan konflik. Susno yang salah satu pembesar di institusi kepolisian Negara berhasil menjadi dua ikon tersendiri. Ikon yang pertama adalah sebagai polisi yang baik dan benar layaknya seorang Serpico di LAPD. Ikon yang lainnya adalah sebagai polisi korup khas Indonesia.
Tapi poin pentingnya bukan disitu, poin pentingnya adalah bahwa orang yang menjadi pemimpin dari institusi tempat susno bekerja seharusnya sudah lebih tanggap terhadap kemungkinan kejadian seperti ini. Seperti kata Zoro, Kapten yang lemah tidak layak memimpin awak kapal yang kuat.
Saya rasa masi banyak “susno-susno” lain, “Susno” di pajak juga sudah terungkap, “susno” dipertanahan sudah ketahuan, kira-kira “susno”dibidang apa lagi yah??. Semoga menjadi pembelajaran.
-saleum-
NB: Bapak yang suka curhat itu juga kalo sudah merasa lemah, jangan tetap ngotot pak. Kata Zoro “kapten yang lemah tidak layak memimpin awak yang kuat”. Hehehe..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar