

Melanjutkan perjalananku kembali. Seharusnya perjalanan ini saya buat kemarin, tapi karena satu dan lain hal terpaksa edisi kemarin media ini tidak ada posting. Maklum perjalanan yang melelahkan. Sewaktu saya kuliah dijogja dulu, kalau saya ingin jalan-jalan saya tidak begitu terasa lelah. Maklum, saya selalu bepergian bersama tunangan saya tersayang. Jadi lelahnya hilang karena bahagia.
Ok. Kita kembali dengan cerita saya. Setelah melahap ikan bakar dengan sadisnya saya pun memutuskan untuk pulang. Ditengah jalan saya teringat bahwa ada rumah salah seorang pahlawan nasional dipinggir jalan ini. Pahlawan ini dahulu terkenal sebagai Ratu Perang Aceh, namanya adalah Tjoet Njak Dhien.
Seperti yang saya ulas sedikit pada postingan saya sebelumnya. Rumah ini adalah bentuk replica dari yang asli. Rumah aslinya sudah dibakar lebih dari seabad yang lalu, tepatnya tahun 1896. Rumah ini hanya meninggalkan pondasinya dan sumur yang kebetulan setinggi 3 meter-an. Rumah dengan dekorasi yang unik ini didirikan kembali oleh pengikut Tjoet Njak Dhien secara diam-diam. Baru kemudian dipugar kembali oleh pemerintah pada tahun 1980-an. Saat ini rumah tersebut menjadi salah satu asset sejarah yang dimiliki oleh bangsa Aceh.
Banyak hal yang menarik perhatian saya. Diantaranya adalah Grand Design rumah tersebut yang sangat menarik. Persis seperti istana. Menurut ibu penjaga, rumah itu dulu digunakan sebagai benteng pertahanan wilayah Lhok Nga. Berhubung Teuku Umar sang suami tinggal disana, maka banyak sekali pengikutnya yang juga tinggal dirumah tersebut.
Rumah yang kini menjadi ikon Rumoh Aceh itu masi berdiri tegak dengan anggun. Didalamnya banyak sekali foto-foto menarik peninggalan belanda. Mulai dari foto-foto 2 Sultan Aceh terakhir, foto Teuku Umar dan pengikutnya diberanda rumah sebelum dibakar, foto Tjoet Njak Dhien sampai foto dokumentasi Jenderal-Jenderal Belanda dan aksi agresi mereka di wilayah Aceh.
Disini saya melihat ada beberapa hal yang sangat menarik pengamatan saya. Diantaranya adalah kenangan terhadap Sang Ratu perang yang sangat mendalam dan kisah sumur dibelakang rumah. Kenapa kenangan terhadap Sang Ratu perang begitu mendalam, ketika saya mengingat kembali beberapa literature yang berkaitan dan film yang bercerita tentang Tjoet Njak Dhien, saya jadi paham kenapa ia begitu diagungkan oleh pengikutnya.
Membayangkan bagaimana karismanya dizaman dulu membuat saya merinding. Bagaimana usaha para Jenderal-Jenderal Belanda yang berusaha menumpas gerakannya namun selalu sia-sia. Tidak sedikit Jenderal-Jenderal tersebut yang memutuskan untuk bunuh diri karena frustasi. Bahkan hal ini juga berlaku pada saat penangkapan suaminya Teuku Umar. Banyak Jenderal yang mati sia-sia. Mungkin rekan pembaca pernah mendengar Jenderal Rudolf Kohler?. Dia adalah salah satu Jenderal Belanda yang mati sia-sia. Bahkan jenazahnya tidak lagi diterima di Belanda sana.
Hal kedua yang kemudian menarik minat saya adalah model sumur yang ada pada zaman tersebut. Sumur tersebut luar biasa tingginya. Ketika saya menanyakan perihal tinggi sumur tersebut yang mencapai 3 meter. Ibu penjaga mengatakan bahwa zaman perang dulu, keluarga Teuku Umar dan Tjoet Njak Dhien begitu di incar oleh banyak orang. Baik mata-mata lokal maupun pasukan kompeni yang menyelinap. Maka tak heran bila sumur tersebut sangat tinggi dan mulut sumur hanya bisa dicapai bila kita naik kedalam rumah terlebih dahulu.
Menarik sekali perjalanan saya sekali ini.
Melihat waktu yang sudah mendekati jam 4 sore saya memutuskan untuk segera pulang kembali kekantor. Dijalan saya kembali mengingat kembali sejarah peperangan tersebut. Saya jadi teringat satu hal penting. Bahwa tekad orang Aceh sangat kuat untuk meraih kebebasan dan kemerdekaan. Terbukti dari kisah-kisah sejarahnya sendiri. Tapi rekan pembaca tahukah?, bahwa Tjoet Njak Dhien dan Teuku Umar mengakhiri perjuangannya bukan karena menyerah. Perjuangan mereka berakhir akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Sebutlah Teuku Umar yang dikhianati oleh Syah Bandar Kerajaan Aceh. Sedangkan istrinya Tjoet Njak dhien Sang Ratu Perang memilih mengakhiri perjuangannya akibat diberitahukannya tempat persembunyiannya oleh Pang Laot. Benar-benar sebuah kejadian yang mengerikan. Tekad dan pengkhianatan.
Sambil berjalan tak lupa saya kembali mendengarkan Photograph dari Weezer. Saya pun mulai bersenandung sambil berjalan “If You Want It, You Can Have It.. But You’ve Got To Learn To Reach Out There And Grab It..”.
Sepertinya saya harus menjadikan pengalaman perang mereka sebagai tekad hidup saya.
-saleum meutuah-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar