Jumat, Mei 21, 2010

Going Crazy In Lhonk Nga..Part 1 (Pantai Abis)



Melintasi jalanan panjang banda aceh menuju pesisir Lhok Nga. Ada workshop tentang biogas yang harus saya datangi. Sendiri bermotor sejauh nyaris 25 km lebih. Mumpung pagi hari jadi tidak perlu merasa kesulitan. Teduh dan berangin.

Bersama dendang riang Photograph dari Weezer dari Ipod yang dikirim kekasih tersayang. Melewati jalanan dengan kecepatan 40 km/h. Wilayah yang sepi dipagi hari. Sebatang produk Philip Morris sialan terselip diantara jari dan coklat batangan yang setengah meleleh. Tenang menuju pantai. Nice trip.

Sepanjang jalan aku melihat banyak rumah-rumah warga yang sudah mulai dibangun kembali paska bencana Tsunami. Ada juga beberapa rumah yang memang masih berdiri tegak. Salah satunya adalah rumah Ratu Perang asal Aceh. Ya, rumah Tjoet Njak Dhien masih berdiri tegak dengan gagahnya. Memang replica buatan tahun 1980an, karena yang asli sudah dibakar kompeni tahun 1896. Tapi bangunan tersebut tetap gagah. Rekan pembaca bisa mengulik hasik jepretan perjalan saya nanti.

Akhirnya saya sampai ditujuan. Workshop yang diadakan oleh salah satu perusahaan semen multi internasional. Program CSR perusahaan tersebut melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui pengadaan pilot project dibeberapa titik. Biogas dari kotoran sapi atau lembu. Sebuah system energy alternatif yang menarik. Memang sekarang sedang zamannya serba alternatif. Hehee.

Banyak warga adat disekitar wilayah Lhok Nga yang datang. Didalam workshop tersebut mereka tampil apa adanya. Saat ditanya kesannya terhadap bio energy tersebut, mereka pun menjawab dengan apa adanya. Polos namun tetap menarik.

Tanpa terasa hari mulai mendekati sore. Suasana juga mulai berubah. Dimulai dengan hawa panas yang mulai menyerang, orkes pun mulai menggema dilambung saya yang tak seberapa, dan keinginan saya yang menggebu-gebu tak tertahankan lagi. Sepertinya enak makan ikan bakar di daerah Lhoong. Mmmmhh..

Mulai menyusuri jalan kembali dengan rute semakin menjauh dari pusat kota. Persis dilokasi yang berjejer penjual ikan bakar, disanalah saya mulai menyandarkan motordan menghajar beberapa potong ikan bakar dengan keji. Bersama sambal kecap dan terasi khas Aceh. Kalau orang Aceh bilang seperti ini, “hai mangat that..”. Kenyang.
Manstaaappp..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar