Rabu, Mei 19, 2010

Antara Teh Hangat dan Nasi Kare

Bersama segelas teh dan sepiring nasi kare aku mulai kembali menarikan tarian jejari diatas keyboard laptop. Udara siang ini tidak seperti biasanya. Tidak begitu panas, tapi cukup membuat keringatku menetes.

Lagi-lagi aku terkesima. Rasanya, setiap kali mengitari kota banda aceh ini aku selalu ingin menulis. Mulai dari keragaman budayanya, tingkah polah warganya, kebiasaan-kebiasaannya, dan banyak lagi hal menarik lainnya. Salah satu diantaranya adalah watak orang aceh yang bersumbu pendek alias pemarah.


Dibeberapa surat kabar lokal, berita yang sedang marak diantaranya adalah tentang sidang keluarga mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang berakhir ricuh, lalu ada juga keributan pada saat aksi masa aktivis lingkungan menolak jual beli karbon, dan banyak berita lainnya. Menarik sekali sebenarnya, hanya saja saya rasa kasus mahasiswa Unsyiah terlihat lebih tolol daripada kasus perkelahian supporter sepak bola.
Saya rasa setiap pembaca yang pernah berkuliah pasti pernah mengalami yang namanya sidang mahasiswa. Apapun itu namanya, yang jelas itu adalah forum dimana setiap golongan mahasiswa bertemu. Mari kita bertanya, saat kita mengalami dead lock dalam perdebatan lantas kita melemparkan makian dan kata kasar kepada peserta forum yang lain?. Saya rasa tidak sebodoh itu.
Menurut sejarah, bangsa Aceh adalah bangsa yang besar. Bisa menguasai seputaran malaka sampai daratan india. Bahkan, nama rajanya pun termasyhur di Negara Turki. Tapi kenapa tingkah generasi lebih buruk daripada manusia zaman Food and Gathering dulu?. Sekali lagi lucu bin konyol.
Bagi saya idealisme itu patut dipertahankan bila menyangkut kehidupan banyak orang lainnya. Tapi sebagai golongan terdidik bergelar mahasiswa, seharusnya lebih memaksimalkan otak daripada otot. Bukan begitu.
Aaahh.. Nasinya sudah habis, saya mau tambah lagi takut kekenyangan. Begitu juga dengan tehnya. Mmhh, sepertinya lebih baik disambung lain waktu sajalah.

-saleum-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar