Seorang artis pantomime Pekanbaru hadir untuk
memainkan karya-karya nya pada hari rabu yang lalu. Karya yang bercerita
tentang bergesernya pola kehidupan manusia dari wilayah yang realistis menjadi kehidupan
yang sifatnya ambigu didalam dunia maya. Singkatnya, karya ini bertemakan Social Network Addict yang kemudian
dikemas dan diberi judul “Cyberspace”. Sebuah permainan dua babak yang kemudian
dibuat remix. Babak pertamanya adalah proses penggambaran aktivitas manusia
didunia nyata seperti memancing, mencuci, dan lainnya. Sedangkan babak yang
kedua bercerita tentang kebingungan manusia yang terjebak ditengah arus Social
Network. Tema yang cukup menarik dan memang sedang menjadi suatu booming
tersendiri beberapa tahun belakangan.
Malam semakin larut saat itu. Hujan baru saja
reda, sang artis belum juga menunjukkan geliatnya diarena pertunjukan yang
sudah dipersiapkan. Jam sudah mendekati pukul 20.30, artinya pertunjukan sudah
terlambat sekitar 30 menit. Baru 15 menit kemudian sang artis muncul dan tepat
pukul 21.00 WIB pertunjukan dimulai.
Pertunjukan malam itu, dikemas dengan alunan
suara electro musical yang diputar diperangkat Laptop dan Speaker aktif 2 in 1.
Konsep permainannya juga sederhana saja dengan berlatarkan sebuah screen yang
sekaligus berfungsi sebagai background dari Syamsul yang merekam permainannya secara
langsung. Jadi penonton bisa melihat secara langsung permainan tersebut dari 2
arah dengan cara yang bersamaan.
Secara teknis, konsep pertunjukannya memang
sangat memukau dan brilliant. Namun, pada tahapan pelaksanaan terjadi sebuah
masalah yang membuat penonton cukup bingung. Ketika Syamsul sebagai artis
pantomime berusaha menampilkan halaman akun jejaring sosialnya namun in focus
yang digunakan pada malam tersebut justru tidak bisa digunakan. Akibatnya,
terjadi miss antara penonton terhadap
alur cerita. Ketidaksiapan proses pertunjukan bisa dijadikan evaluasi untuk
pertunjukan kedepannya.
Permainan berdurasi sekitar 35 menit ini tetap
menarik. Syamsul yang permainannya khas dengan kekuatan karakter yang tajam.
Sangat jelas sekali bila diperhatikan bahwa permainan tersebut sangat
terpengaruh dengan gaya permainan Jemek Supardi sang maestro Pantomime
Indonesia. Selain itu, terdapat juga unsur Bhuto –pantomime tradisional khas
Jepang- didalamnya. Bila dinilai secara keseluruhan dari pertunjukan sebelumnya
yang digelar di Taman Budaya pada minggu lalu, maka pertunjukan pada rabu malam
tersebut akan terkesan tidak begitu menarik. Walau begitu, secara konsep
pertunjukan permainan pada rabu malam tersebut patut diacungi jempol.
Untuk koleksi foto pertunjukan lainnya klik disini: ...............Pekanbaru Pantomime

Tidak ada komentar:
Posting Komentar