Dua pekan belakangan, taman budaya pekanbaru
menyelenggarakan event tari dari dua sanggar berbeda didalam agenda rutinnya
bertajuk Pasar Seni yang diadakan setiap malam minggu. Dua minggu ini pula
wajah Kepala Taman Budaya selalu tampak diacara tersebut. Bahkan, dalam
apresiasinya saat berpidato beliau menjanjikan untuk mensponsori kedua sanggar
tersebut untuk tampil didua event bergengsi. Event Malam Seni pada PON XVIII
nanti dan Perlombaan tari tingkat provinsi.
Pada malam itu beliau mengatakan bahwa akan
mensupport kegiatan sanggar tari yang ada dikota Pekanbaru. Beliau juga
menunjukkan semangat yang tinggi sekali terhadap penampilan dua sanggar
tersebut. Pada malam minggu pertama (14/4) sanggar tari Seri Melayu menampilkan
tiga tarian rakyat yaitu Zapin, Serampang Dua Belas, dan Joged Dangkung. Sekitar
tiga puluhan orang yang menjadi pendukung dari agenda tersebut. Sangat semarak.
Pada malam minggu kedua (21/4) sanggar tari
Tameng Sari menampilkan lebih banyak pertunjukan diantaranya Joged, Silat,
Randai, Zapin Dan Senandung. Semuanya dikemas didalam satu tema yang diberi
judul “Let’s Dance”. Sebuah kemasan pertunjukan yang sangat menarik. Tarian
rakyat Melayu ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan beberapa tarian
kontemporer yang memang sedang In
saat ini. Sebut saja gerakan Capoeira,
shuffling,breakdance, dan masih banyak lagi unsur gerakan tari kontemporer
lainnya. Sangat menarik.
Namun sayang, penampilan kedua sanggar tersebut
harus rusak seketika oleh pidato Bapak Kepala Taman Budaya Sunardi Amd Sn. Betapa
tidak, beliau mengapresiasikan penampilan kedua sanggar tersebut dengan janji
yang muluk-muluk. Padahal, dengan kapasitas beliau sebagai salah seorang
punggawa kesenian dan kebudayaan dikota ini, akan cukup banyak yang bisa
dilakukan dengan memaksimal ruang pertunjukan terbuka seperti Taman Budaya.
Lihat saja event Pasar Seni yang sudah digelar
hingga edisi kedelapan ini, jarang sekali terlihat wajah-wajah baru
dibangku-bangku penonton. Apalagi wajah tokoh dan budayawan local itu sendiri. Kebanyakan
dari mereka sepertinya lebih sibuk bersemedi sambil meratapi situs perbelanjaan
modern yang sedang digarap. Bagaimana mungkin regenerasi pegiat seni budaya
bisa terjadi dengan mapan bila apresiasi yang dilakukan hanya sebatas agenda
menghabiskan anggaran belaka. Sedih sekali bila benar begitu.
Dari beberapa event sebelumnya yang selalu
diapresiasikan oleh pegiat seni yang masih muda seperti SMU Widya Graha dengan
Kabaret Malin Kundangnya atau bahkan Rumah Seni Budaya Siku Keluang dengan
variasi pertunjukannya, sepertinya tak pernah ramai kunjungan. Ada apa
sebenarnya dengan Taman Budaya Pekanbaru? Jangan katakan bila ruang public pertunjukan
ini kehabisan ide untuk menggelar pertunjukan. Sangat malang sekali. Lalu dimana
apresiasi seni budaya yang sesungguhnya?
Saya jadi teringat adegan mati lampu saat
pementasan Bujanggi tempo lalu. Saat itu Yose Rizal selaku narator berseloroh “inilah
susahnya berkesenian dipekanbaru”. Bila mau ditilik kembali, rasanya tak akan
begitu susah jika saja budayawan sekelas Sang Narator sudi memberi sedikit
apresiasi dengan sesekali menghadiri pertunjukan mereka yang muda dan bergairah
tersebut. Tabik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar