Jumat, April 27, 2012

Melulu Jika..

Jika saja mereka mau meluangkan waktu untuk menggunakan telinganya
Jika saja mereka berhenti tertawa dan bergunjing tentang kekonyolan
Jika saja mereka memahami perbedaan antara TOTALITAS dan TOLOLITAS
Jika saja mereka membaca tulisan ini
Jika saja mereka punya malu barang sekerat saja

Jika.. ah, melulu terhenti pada "Jika" belaka..




"Jika adalah sesuatu yg menggantungkan ketidakpastian, sama halnya dengan andai yg tak kunjung menampakkan maksud, serupa pula dengan bila yang selalu menaruh bingung. Jangan menaruh tanya pada setiap ucapan, sebab jawaban tak pasti selalu sama".



Salute buat temans PPI di Berlin, Jerman.
Semoga temans yang lain juga bisa meniru..

Tabikk..

Senin, April 23, 2012

Amnesia


Jikalau ia bisa berteriak
Ia pasti kecewa
Jika saja mereka mampu bergerak
Tentu mereka yang akan berdiri dimuka

Tapi apalah daya mereka kini
Mereka kini renta
Berserak diantara belulang serupa hikayat usang dalam lemari
Lantas apa yang harus dibuat jika segala kemajuan dianggap sesat sementara kebenaran lapuk dimamah peradaban

Sirna waktu atas segala kenyataan yang tergadai
Luluh melepuh setiap ruang yang dibangun
Matilah sudah

Long Time No Ngol.. Hehehe..


Lama rasanya tak menulis. Kangen juga nih dengan ruang sempit yang sudah lama tidak disinggahi di beberapa waktu belakangan. Tapi apa daya, sampai tulisan ini terjadi pun tak ditemukan juga bahan yang hendak dikuliti untuk kemudian ditulis disini. Membaca sajalah kalau begitu.

Tabik.

Jika Saja Mereka Lebih Diperhatikan..


Dua pekan belakangan, taman budaya pekanbaru menyelenggarakan event tari dari dua sanggar berbeda didalam agenda rutinnya bertajuk Pasar Seni yang diadakan setiap malam minggu. Dua minggu ini pula wajah Kepala Taman Budaya selalu tampak diacara tersebut. Bahkan, dalam apresiasinya saat berpidato beliau menjanjikan untuk mensponsori kedua sanggar tersebut untuk tampil didua event bergengsi. Event Malam Seni pada PON XVIII nanti dan Perlombaan tari tingkat provinsi.

Pada malam itu beliau mengatakan bahwa akan mensupport kegiatan sanggar tari yang ada dikota Pekanbaru. Beliau juga menunjukkan semangat yang tinggi sekali terhadap penampilan dua sanggar tersebut. Pada malam minggu pertama (14/4) sanggar tari Seri Melayu menampilkan tiga tarian rakyat yaitu Zapin, Serampang Dua Belas, dan Joged Dangkung. Sekitar tiga puluhan orang yang menjadi pendukung dari agenda tersebut. Sangat semarak.

Pada malam minggu kedua (21/4) sanggar tari Tameng Sari menampilkan lebih banyak pertunjukan diantaranya Joged, Silat, Randai, Zapin Dan Senandung. Semuanya dikemas didalam satu tema yang diberi judul “Let’s Dance”. Sebuah kemasan pertunjukan yang sangat menarik. Tarian rakyat Melayu ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan beberapa tarian kontemporer yang memang sedang In saat ini. Sebut saja gerakan Capoeira, shuffling,breakdance, dan masih banyak lagi unsur gerakan tari kontemporer lainnya. Sangat menarik.

Namun sayang, penampilan kedua sanggar tersebut harus rusak seketika oleh pidato Bapak Kepala Taman Budaya Sunardi Amd Sn. Betapa tidak, beliau mengapresiasikan penampilan kedua sanggar tersebut dengan janji yang muluk-muluk. Padahal, dengan kapasitas beliau sebagai salah seorang punggawa kesenian dan kebudayaan dikota ini, akan cukup banyak yang bisa dilakukan dengan memaksimal ruang pertunjukan terbuka seperti Taman Budaya.

Lihat saja event Pasar Seni yang sudah digelar hingga edisi kedelapan ini, jarang sekali terlihat wajah-wajah baru dibangku-bangku penonton. Apalagi wajah tokoh dan budayawan local itu sendiri. Kebanyakan dari mereka sepertinya lebih sibuk bersemedi sambil meratapi situs perbelanjaan modern yang sedang digarap. Bagaimana mungkin regenerasi pegiat seni budaya bisa terjadi dengan mapan bila apresiasi yang dilakukan hanya sebatas agenda menghabiskan anggaran belaka. Sedih sekali bila benar begitu.

Dari beberapa event sebelumnya yang selalu diapresiasikan oleh pegiat seni yang masih muda seperti SMU Widya Graha dengan Kabaret Malin Kundangnya atau bahkan Rumah Seni Budaya Siku Keluang dengan variasi pertunjukannya, sepertinya tak pernah ramai kunjungan. Ada apa sebenarnya dengan Taman Budaya Pekanbaru? Jangan katakan bila ruang public pertunjukan ini kehabisan ide untuk menggelar pertunjukan. Sangat malang sekali. Lalu dimana apresiasi seni budaya yang sesungguhnya?

Saya jadi teringat adegan mati lampu saat pementasan Bujanggi tempo lalu. Saat itu Yose Rizal selaku narator berseloroh “inilah susahnya berkesenian dipekanbaru”. Bila mau ditilik kembali, rasanya tak akan begitu susah jika saja budayawan sekelas Sang Narator sudi memberi sedikit apresiasi dengan sesekali menghadiri pertunjukan mereka yang muda dan bergairah tersebut. Tabik.