Jumat, Mei 11, 2012

Maklumat Zubaidah

Aku tak hendak ditumbalkan
Aku ingin meminta banding atas syarat melepas Lancang Kuning
Hidup bayiku lebih berharga daripada alasan demi melayarkan sebuah kapal belaka
Kenapa tak engkau saja yang menumbalkan dirimu yang pengecut?
Toh, kaum engkau jua yang berdiri dihaluan
Bukan aku

Aku menuntut persamaan hak
Apakah karena dada ku yang bulat penuh ini maka aku tak bisa menjadi Panglima
Aku pun ingin memimpin armada besar seperti Malahayati
Atau menjadi pakar tauladan seperti adinda Kartini
Kenapa justru aku yang harus dijadikan pembayar sebuah nafsu yang tak sampai

Persetan dengan nasib negeri
Hidupku aku yang miliki, aku pula yang akan memilih bagaimana akan ku akhiri
Tak ada hak kalian memaksa kehendak atasku
Apalagi engkau..!!






#Sedikit Jawaban Atas Sebuah Melodi Pengakuan,-)

Sebuah Melodi Pengakuan dari Teater Selembayung

Salah Satu Adegan Melodi Pengakuan - Teater Selembayung


Sabtu tanggal 5 mei 2012 yang lalu, kelompok Teater Selembayung menggelar sebuah pertunjukan bertajuk “Melodi Pengakuan” yang diangkat dari kisah “Hikayat Lancang Kuning”. Cerita tersebut disadur oleh sutradara Rina Nazaruddin Entin dari sudut feminis seorang Zubaidah yang merupakan istri dari Panglima Umar. Dalam cerita tersebut, Rina mencoba untuk melakukan rekonstruksi ulang dari keenam tokoh utama yang menjadi sentral dari malapetaka yang diangkat. Keenam tokoh tersebut adalah Panglima Hasan, Datuk Laksamana, Inang, Panglima Umar, Bomo dan Zubaidah sendiri.

Konsep permainan yang diangkat adalah setiap tokoh sentral tersebut akan ber-monolog secara bergantian dengan diiringi seorang penari sebagai bayangannya. Konsep ini mungkin terbilang baru dan unik. Disertai dekorasi yang apik dari Soha Riau tentunya menjadi nilai tambah didalam pertunjukan tersebut. Namun sayang, dalam beberapa hal pertunjukan tersebut terkesan membosankan.

Seperti biasa, penulis akan mencoba menuangkan kesan yang tertangkap dari pertunjukan malam tersebut.

Pertunjukan malam itu dikemas dengan konsep kilas balik yang coba direkam dari masa modern menuju masa lalu. Dari percakapan dua orang wanita ibu dan anak, menuju monolog enam tokoh sentral yang membingungkan. Penulis katakan membingungkan karena monolog yang dilakukan dikemas secara membosankan, terlalu lama dan diiringi musik yang monoton. Dalam diskusi pada akhir acara, seorang audiens menyatakan bahwa ia mengalami kebisingan yang disebabkan oleh nada dengung yang digunakan sebagai backsound sepanjang monolog.

Selain itu, ada beberapa penyimbolan yang penulis anggap gagal. Dalam kisah tersebut tokoh Zubaidah sedang hamil 7 bulan namun dalam pertunjukan tersebut justru tidak diperlihatkan. Beda halnya dengan tokoh Inang yang diperlihatkan karakternya sebagai perempuan tua atau datuk laksamana yang nampak tua dari dandanannya. Ini justru membuat karakter mereka semakin menguat. Sayangnya, hal ini juga yang kemudian menjadikan karakter-karakter tersebut seperti kehilangan ruh.

Dari sisi kekuatan dialog dalam bermonolog, saya mengacungkan jempol kepada tokoh Inang. Karakter perempuan tua yang diperankan sangat mengena baik dialog dan gestuur, sedangkan kelima tokoh lainnya saya nilai biasa saja. Terutama tokoh Zubaidah yang penulis anggap vokalnya sangat tidak mengena. Bila mengacu pada kritikan dari Pak Taufik Effendi Arya, setiap pemain harus dapat membedakan mana Vokal Panggung dan mana Vokal Sehari-hari. Mungkin hal ini dikarenakan faktor lelah saja setelah tiga hari penampilan.

Dalam pengambilan ide cerita, penulis sangat kecewa dengan pertunjukan malam itu. Dari beberapa ulasan yang penulis dapatkan didalam blog maupun catatan didalam blog/web maupun beberapa akun jejaring sosial pemain, banyak yang menyebutkan bahwa pertunjukan ini adalah sebuah rekonstruksi ulang dari Hikayat Lancang Kuning yang masyhur. Disebutkan pula bahwa cerita ini mengangkat kekuatan feminisme yang digambarkan oleh tokoh Zubaidah.
Sayangnya, kekuatan feminisme yang digambarkan tidak begitu nampak kepermukaan. Penulis tidak melihat bentuk penolakan pada adegan penumbalan Zubaidah. Bahkan, dalam dialog Tokoh Zubaidah penulis menangkap suatu sikap keikhlasan dan keputusasaan atas kurang ajarnya Panglima Hasan yang tak senonoh serta dibayangi dengan alasan berkorban demi negeri Bukit Batu. Bayangkan saja, jika hari ini ada penggusuran terhadap Monumen Ikan Selais untuk diganti dengan Monumen Tongkol dan itu membutuhkan korban perempuan. Pastinya banyak perempuan putus asa (baca; galau, pen) yang siap untuk berkorban. Ini adalah suatu penggambaran yang menyedihkan.

Dalam suatu skema rekonstruksi ulang yang diangkat oleh sutradara Rina N.E, keenam tokoh melakukan monolog yang keseluruhannya adalah pembelaan diri dari kesalahan ataupun kelalaian yang dilakukan. Dari hal itu saja penulis merasa ini bukanlah sebuah rekonstruksi ulang melainkan sebuah pledoi berjamaah, selayaknya anggota dewan yang terkena kasus korupsi. Pasti panjang sekali pembelaannya yang sudah pasti berputar-putar saja. Lantas dari segi apakah rekonstruksi dalam cerita yang diangkat tersebut?

Tentulah menjadi janggal jika sebuah rekonstruksi ulang suatu cerita dengan tema Melodi Pengakuan namun tidak ada yang berubah antara kisah dalam Hikayat dengan yang dipertunjukkan. Didalam Hikayat Lancang Kuning, Zubaidah mati ditumbal. Dalam kisah pertunjukan, Zubaidah juga mati ditumbal. Bedanya hanyalah, didalam Hikayat tokoh Zubaidah terlebih dahulu melakukan perlawanan sebelum akhirnya mati ditumbal. Sedangkan didalam kisah pertunjukan tokoh Zubaidah bersedia ditumbal dengan alasan kejayaan negeri (bahwa kaum hawa juga bisa berjuang demi bangsa dengan cara mengorbankan diri untuk sebuah kapal yang tak hendak berlayar). Ini terasa janggal bagi penulis, sebab penulis tidak menangkap unsur rekonstruksi didalam Melodi Pengakuan yang diangkat oleh Kelompok Teater Selembayung.

Jikalau penulis diperbolehkan berharap, malam itu penulis berharap mendapatkan pertunjukan yang nakal dan banal. Misalkan saja sebuah adegan dimana Zubaidah menolak ditumbalkan dan menuntut syarat penumbalan juga melibatkan laki-laki uzur atau harus salah satu dari sekian Panglima yang dimiliki Negeri Bukit Batu. Atau, Zubaidah menuntut untuk dijadikan pemimpin armada perang seperti suaminya demi membela negeri. Atau mungkin adegan lain yang kira-kira menunjukkan suatu kenakalan arena pertunjukan. Entahlah, mungkin inilah yang hendak disampaikan pula oleh sutradara Rini N.E dan para pemeran.

Walau begitu, sebagai sebuah pertunjukan penulis tetap mengacung jempol pada semangatnya. Biarpun sedikit merasa janggal, penulis tetap harus mengapresiasikan semangat berkreasi dan ber-pertunjukan di Riau. Tabikk.

Jumat, Mei 04, 2012

SIKARI Proudly Present

The Biggest Cartoon Sydicate's in Riau Proudly Present
 


Klinik Kartun



it's a regular programs in SIKARI (SIndikat KArtunis RIau).

Minggu ini acara Klinik Kartun akan di isi oleh Mr. Bagong's Wkwk, seorang perupa kawakan asal Kota Pekanbaru.

So, for all of you who love cartoon, let's join us..


Inget yaa, tanggal 5 mei 2012 di kompleks gedung MTQ (tepatnya di DKR).




Don't Miss it and Keep Cartoon..!!

Rabu, Mei 02, 2012

Ketika Tampangku Go Public, Lagi.. (Part II)


Yupp..
Ini adalah salah satu hasil pemaksaan saya juga,
Express banget..
Siang barusan diorder eh, uda jadi..

Mantepppp doonkkk..

hehehehehe..

Karya Abdul Rachman (anggota Sindikat Kartunis Riau)






Asli cadas, kesan dekilnya ok banget..
hehehehe..


thx ya Man..
besok2 kalo dipalakin lagi harus tetep ikhlas yaa..

hehehehehe..




52 Tahun Bunda

lima dua
angka yang diberikan Tuhan pada Bunda hari ini
aku bahkan belum bisa memberimu sesuatu

Bunda
dihari ini aku senang masih bisa menciumi bau keringatmu
menciumi tanganmu seperti hari hari biasa
sungguh aku bersyukur atas setiap perhatianmu sepanjang hari
mulai sejak pagi hingga menuju pagi selanjutnya


tak pernah aku mendengar keluhmu
bahkan ketika aku pulang terlalu larut
dengan wajah terkantuk tetap diriku jua yang engkau tunggui


tiada setitikpun tampak keraguan diwajahmu
bahkan ketika menghadapi kekonyolan dan kebebalan diriku

itulah dirimu Bunda
dan aku tetap sayang padamu
sama seperti hari hari biasanya





 
  #selamat ulang tahun yang ke-52 untuk Ibunda terhebat sepanjang masa. Bahkan dalam
   diampun aku tetap sayang dan rindu, aku yakin Bunda juga begitu.

Ketika Tampangku Go Public

Seorang kawan saya yg dengan ikhlasnya mengabadikan tampang saya yg amat sangat ngepassssss banget..


Nih, hasilnya..


Hehehehehehee..

Danny Art'rihzm (kartunis anggota Sindikat Kartunis Riau)


Ini adalah hasil gambar yang juga merupakan hasil malak si kartunis..
Hehehehehee..


Gambarnya keren kaya aslinya.. Percayalah..
Hikhikhik..



Ketika Telat Bayar Utang (kartunis Danny Art'rihzm)

Kalo yang ini sii, gara2 kelamaan bayar utang janji sama si Danny..
Jadi deh dikerjai kaya begini..
Tapi ga papa, yang penting asik..


sipsipsip..






--------->>> Thx berat untuk Danny yg uda meluangkan waktunya untuk mengapresiasikan wujud antik saya.. Tabikk

Selasa, Mei 01, 2012

Kritik yang Tertahan didalam Hikayat Puyu Puyu

Sebuah Review oleh: Hambs Dekil


Sabtu lalu, tepatnya tanggal 28 april kemarin saya meluangkan waktu untuk mengunjungi sebuah pertunjukan teater yang diadakan di gedung teater Idrus Tintin yang ada di Kompleks MTQ pekanbaru. Pertunjukan tersebut sudah lama saya nantikan permainannya, sebab sudah terlalu banyak saya membaca artikel yang menyoal pada tema yang akan dimainkan oleh teater tersebut. Jelas saja itu membuat saya semakin penasaran.

Dengan hati berseri pula maka saya memutuskan untuk berangkat dan menonton pertunjukan berjudul Hikayat Puyu Puyu yang dimainkan oleh kelompok Teater MARA dengan sutradaranya adalah Hang Kafrawi. Konon, cerita ini diangkat dari dua sisi menarik yang berbeda namun memiliki keterkaitan. Sisi yang pertama adalah cerita ini diangkat dari sebuah cerita rakyat melayu yang berjudul Syair Terubuk, sedangkan sisi yang kedua adalah kemahiran sang sutradara dalam mengkomparasikan Syair tersebut dengan realitas sosial mengenai pencaplokan Pulau Padang oleh perusahaan internasional bernama RAPP. Sungguh sebuah pengemasan pertunjukan yang sangat menarik. Atas keberanian sang sutradara tersebut saya mengacungkan jempol dengan penuh kebanggaan (tabik untuk Hang Kafrawi).

Pertunjukan malam itu dijadwalkan pada pukul 20.00 malam, walaupun kemudian agak bergeser sedikit waktunya. Saya rasa tak mengapa, sebab pertunjukan tetap berjalan dengan lancar. Saya pun dengan beberapa orang kawan akhirnya masuk kedalam ruang pertunjukan tersebut. Aroma Melayu yang sangat kental sudah dapat dirasakan mulai saat pembacaan narasi hingga alunan music yang didendangkan. Sangat menenangkan. Setidaknya itulah kesan pertama yang saya tangkap saat mulai memasuki ruangan teater. Music arranger pada pertunjukan tersebut adalah Ridho Fatwandi yang juga pemain accordion pada Grup Bujanggi tempo waktu yang lalu.

Alunan syahdu dari petikan gambus yang dikombinasikan dengan beat disko ala 80 an sangat mengena sekali. Kesan etnic yang berbalut dengan modernisasi music rollerdisco tak membuat musikalisasi pertunjukan tersebut terasa kering. Ditambah dengan padu padan antara gerakan tari tentunya membuat pertunjukan semakin menarik. Suasana gelap ruangan tentunya menyihir para penonton untuk semakin masuk kedalam kekhusyukan permainan. Menarik sekali.

Sebelum saya menghadiri pertunjukan dari kelompok Teater MARA, terlebih dahulu saya banyak mendengar tentang respon penonton pada pertunjukan yang kabarnya sudah dimainkan sebelumnya dikota Lampung. Dan saya pun akhirnya memulai tontonan hingga selesai dan berlanjut pada diskusi antara penonton dan para personel yang terlibat dalam proses penggarapan teater tersebut. Saya rasa dalam tulisan ini pula akan saya sampaikan pandangan saya mengenai pertunjukan malam tersebut.


Permainan

Jika dilihat dari permainannya, terus terang saja saya sedikit kecewa. Banyak sekali terjadi kejanggalan terhadap jalannya cerita yang menurut saya cukup fatal baik dari segi dialog maupun gestuur. Salah satu kejanggalan tersebut adalah pada saat dialog tokoh terubuk yang mengatakan “aku rela mengeluarkan modal sebanyak-banyaknya demi mendapatkan keuntungan yang banyak” menurut saya itu tak sesuai dengan teori ekonomi sebenarnya yang berbunyi “ dengan modal sesedikit mungkin dapat menghasilkan laba sebanyak-banyaknya”. Saya rasa Adam Smith sebagai pencetus teori tersebut tentunya akan kecewa. Tapi tak apalah, toh Adam Smith pun tak melihat pertunjukannya. Hehee..

Konsep teatrikal yang saya pahami selama ini adalah bagaimana mengkombinasikan berbagai symbol/semiotika kedalam unsure dialog dan gerak tubuh/gestuur. Saya rasa disanalah kekuatan terbesar dari seni pertunjukan teater. Dalam hal pertunjukan Hikayat Puyu Puyu, Hang Kafrawi berhasil menyimbolkan realitas sosial yang ia angkat kedalam tokoh Terubuk dan Puyu Puyu sendiri. Dimana yang pertama selaku Kapitalis (baca; RAPP, pen) dengan setelan jas mewah berdasi dan berwatak obsesif sedang yang kedua sebagai objeknya (baca; Pulau Padang, pen) dimana kostum yang dipakai adalah pakaian muslim Melayu. Dalam hal ini, saya menjadi bingung terhadap posisi tokoh yang lain sebenarnya menggambarkan siapa? Terutama tokoh Belut yang menurut saya dan beberapa penonton malam itu sangat fenomenal. Bayangkan, seorang Belut dapat menjadi actor intelektual dikala tokoh lainnya kebingungan dalam membangun strategi untuk menguasai Puyu Puyu.

Siapakah kira-kira belut sebenarnya? Adakah ia seorang bagian dari pemerintah? Lantas kenapa semua komplotan dipakaikan jas secara klimis? Siapakah yang menjadi symbol pemerintah? Aparat dan lainnya? Tentunya akan banyak sekali pertanyaan dalam hal ini.

Agaknya bung Kafrawi sedikit lebih hati-hati dalam hal ini. Sayangnya kehati-hatian tersebut justru membuat konteks kritik sosial yang diangkat menjadi abu-abu dan hambar. Jika saja dalam membangun penyimbolan tersebut lebih dipertegas, saya rasa pertunjukan tersebut akan semakin menarik. Proses kritik sosial yang dimaksud dialam pertunjukan tersebutpun tentunya akan semakin menantang dan mantap. Saya rasa itu penting sekali.

Mengoreksi konsep penokohan, agaknya efek terbesarnya adalah munculnya ketidakpahaman dari maksud sang sutradara dalam karyanya tersebut. Hal ini terasa semakin nyata seiring dengan beberapa pertanyaan dari para penonton disaat sesi diskusi yang dilakukan setelah pertunjukan tersebut selesai. Banyak dari penonton termasuk saya merasa konsep perlawanan tersebut menjadi tak terasa karena symbol yang hendak dilawan tidak ditunjukkan dengan tegas. Jika dikatakan yang diharus dilawan kemudian adalah pihak korporasi penindas sebagai kapitalis, saya rasa konteks tersebut terlalu global dan terjadi pembesaran makna didalamnya. Sebab dalam konteks sebenarnya, tentunya proses perampasan hak masyarakat Pulau Padang tak akan berhasil tanpa adanya campur tangan beberapa pihak lainnya. Dalam beberapa adegan yang dimainkan, ada yang paling menarik bagi saya pribadi. Pada saat tokoh Puyu Puyu menyampaikan kekhawatiran mimpinya kepada tokoh Tapah, Badar dan Keli. Saya sempat merinding dengan kekuatan watak dan emosi yang dihantarkan oleh tokoh tersebut. Secara tak langsung adegan tersebut berhasil membawa saya berpikir bahwa bahaya yang akan datang adalah sebuah musibah besar yang dapat membuat hilangnya sebuah negeri dari sejarah peradaban manusia, tentunya itu adalah suatu hal yang sangat membahayakan.

Namun, lagi-lagi saya harus dikecewakan pada ending pementasan. Pada saat ending cerita, saya tidak menangkap adanya kekhawatiran besar yang digambarkan pada adegan Puyu Puyu tadi. Sebenarnya ketakutan seperti apa sih yang dimaksud? Saya sendiri tak menangkap maksudnya.

Bila melihat dari tanggapan para pemain, bahwa mereka sudah bermain sesuai dengan selera mereka, dan jika tidak berkenan dengan selera penonton maka itu tidak menjadi kesalahan mereka. Saya rasa, seorang performer yang baik tidak akan berujar seperti itu pada audience nya. Selayaknya yang diucapkan oleh Bung Kafrawi sendiri pada closing acara bahwa pementasan ini tiada artinya tanpa kehadiran para penonton. Maka sangat disayangkan sekali respon yang harus ditampakkan bila seperti itu. Karena hakikat sebuah pertunjukan tidaklah berbicara mengenai selera pemain atau selera penonton, melainkan bagaimana proses penyampaian pesan yang terkandung menjadi berarti dan dapat tertuang dengan baik dalam imaji setiap pemirsanya. Saya rasa demikianlah.

Overall, saya cukup terhibur dengan adanya pertunjukan ini sebagai sebuah tontonan. Namun, bila bicara sebagai sebuah pertunjukan berbasis pada kritik sosial, saya rasa himbauan yang ditujukan tidaklah sampai. Walau begitu saya tetap mengapresiasikan diri saya pribadi terhadap keberanian Bung Kafrawi dan Rekans yang sudah menampilkan pertunjukan ini secara berani. Tabik buat Bung Kafrawi dan Rekans.

Jumat, April 27, 2012

Melulu Jika..

Jika saja mereka mau meluangkan waktu untuk menggunakan telinganya
Jika saja mereka berhenti tertawa dan bergunjing tentang kekonyolan
Jika saja mereka memahami perbedaan antara TOTALITAS dan TOLOLITAS
Jika saja mereka membaca tulisan ini
Jika saja mereka punya malu barang sekerat saja

Jika.. ah, melulu terhenti pada "Jika" belaka..




"Jika adalah sesuatu yg menggantungkan ketidakpastian, sama halnya dengan andai yg tak kunjung menampakkan maksud, serupa pula dengan bila yang selalu menaruh bingung. Jangan menaruh tanya pada setiap ucapan, sebab jawaban tak pasti selalu sama".



Salute buat temans PPI di Berlin, Jerman.
Semoga temans yang lain juga bisa meniru..

Tabikk..

Senin, April 23, 2012

Amnesia


Jikalau ia bisa berteriak
Ia pasti kecewa
Jika saja mereka mampu bergerak
Tentu mereka yang akan berdiri dimuka

Tapi apalah daya mereka kini
Mereka kini renta
Berserak diantara belulang serupa hikayat usang dalam lemari
Lantas apa yang harus dibuat jika segala kemajuan dianggap sesat sementara kebenaran lapuk dimamah peradaban

Sirna waktu atas segala kenyataan yang tergadai
Luluh melepuh setiap ruang yang dibangun
Matilah sudah

Long Time No Ngol.. Hehehe..


Lama rasanya tak menulis. Kangen juga nih dengan ruang sempit yang sudah lama tidak disinggahi di beberapa waktu belakangan. Tapi apa daya, sampai tulisan ini terjadi pun tak ditemukan juga bahan yang hendak dikuliti untuk kemudian ditulis disini. Membaca sajalah kalau begitu.

Tabik.

Jika Saja Mereka Lebih Diperhatikan..


Dua pekan belakangan, taman budaya pekanbaru menyelenggarakan event tari dari dua sanggar berbeda didalam agenda rutinnya bertajuk Pasar Seni yang diadakan setiap malam minggu. Dua minggu ini pula wajah Kepala Taman Budaya selalu tampak diacara tersebut. Bahkan, dalam apresiasinya saat berpidato beliau menjanjikan untuk mensponsori kedua sanggar tersebut untuk tampil didua event bergengsi. Event Malam Seni pada PON XVIII nanti dan Perlombaan tari tingkat provinsi.

Pada malam itu beliau mengatakan bahwa akan mensupport kegiatan sanggar tari yang ada dikota Pekanbaru. Beliau juga menunjukkan semangat yang tinggi sekali terhadap penampilan dua sanggar tersebut. Pada malam minggu pertama (14/4) sanggar tari Seri Melayu menampilkan tiga tarian rakyat yaitu Zapin, Serampang Dua Belas, dan Joged Dangkung. Sekitar tiga puluhan orang yang menjadi pendukung dari agenda tersebut. Sangat semarak.

Pada malam minggu kedua (21/4) sanggar tari Tameng Sari menampilkan lebih banyak pertunjukan diantaranya Joged, Silat, Randai, Zapin Dan Senandung. Semuanya dikemas didalam satu tema yang diberi judul “Let’s Dance”. Sebuah kemasan pertunjukan yang sangat menarik. Tarian rakyat Melayu ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan beberapa tarian kontemporer yang memang sedang In saat ini. Sebut saja gerakan Capoeira, shuffling,breakdance, dan masih banyak lagi unsur gerakan tari kontemporer lainnya. Sangat menarik.

Namun sayang, penampilan kedua sanggar tersebut harus rusak seketika oleh pidato Bapak Kepala Taman Budaya Sunardi Amd Sn. Betapa tidak, beliau mengapresiasikan penampilan kedua sanggar tersebut dengan janji yang muluk-muluk. Padahal, dengan kapasitas beliau sebagai salah seorang punggawa kesenian dan kebudayaan dikota ini, akan cukup banyak yang bisa dilakukan dengan memaksimal ruang pertunjukan terbuka seperti Taman Budaya.

Lihat saja event Pasar Seni yang sudah digelar hingga edisi kedelapan ini, jarang sekali terlihat wajah-wajah baru dibangku-bangku penonton. Apalagi wajah tokoh dan budayawan local itu sendiri. Kebanyakan dari mereka sepertinya lebih sibuk bersemedi sambil meratapi situs perbelanjaan modern yang sedang digarap. Bagaimana mungkin regenerasi pegiat seni budaya bisa terjadi dengan mapan bila apresiasi yang dilakukan hanya sebatas agenda menghabiskan anggaran belaka. Sedih sekali bila benar begitu.

Dari beberapa event sebelumnya yang selalu diapresiasikan oleh pegiat seni yang masih muda seperti SMU Widya Graha dengan Kabaret Malin Kundangnya atau bahkan Rumah Seni Budaya Siku Keluang dengan variasi pertunjukannya, sepertinya tak pernah ramai kunjungan. Ada apa sebenarnya dengan Taman Budaya Pekanbaru? Jangan katakan bila ruang public pertunjukan ini kehabisan ide untuk menggelar pertunjukan. Sangat malang sekali. Lalu dimana apresiasi seni budaya yang sesungguhnya?

Saya jadi teringat adegan mati lampu saat pementasan Bujanggi tempo lalu. Saat itu Yose Rizal selaku narator berseloroh “inilah susahnya berkesenian dipekanbaru”. Bila mau ditilik kembali, rasanya tak akan begitu susah jika saja budayawan sekelas Sang Narator sudi memberi sedikit apresiasi dengan sesekali menghadiri pertunjukan mereka yang muda dan bergairah tersebut. Tabik.

Jumat, April 13, 2012

Pekanbaru: Kota Berkuah yang Tak Lagi Bertuah


“Kota Pekanbaru Kota Bertuah, itu dulu.. sekarang tuh yang ada Pekanbaru Kota Berkuah”

Agaknya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan Kota Pekanbaru saat ini. Begitulah sekiranya kata kawan saya saat menanggapi dinamika kota yang makin hari makin monoton. Banyak hal yang sudah tidak terkendali lagi dikota ini. baik dalam hal identitas kota yang tergerus dan meningginya kepentingan yang tertimbun dikota yang dahulunya dianggap sebagai kota yang penuh dengan kesempatan dan peluang ini. Lantas, apa yang salah dengan kota ini yaa?

Dalam banyak hal, banyak sekali ketidakcocokan yang terjadi didalam dinamika kota Pekanbaru. Terlalu banyak ide yang berceceran sedangkan penerapannya sangat minim sekali. Lihat saja bagaimana kota ini berkembang kemudian. Tak ada lagi hal menarik yang dapat dijadikan sebuah identitas atau symbol kota yang dapat diangkat.

Dikota ini, yang semakin marak adalah kasus seni budaya dan penghancuran tata kota. Lihat saja dari beberapa perdebatan yang terjadi didalam lingkup kota Pekanbaru saat ini. Ada kasus dipindahkannya atau bahkan dirobohkannya beberapa monument yang sudah dianggap sebagai ikon kota, yang lebih hebat lagi ada kasus dimana ukiran dibadan tong sampah pun jadi perdebatan alot. Wanna Amazing Pekanbaru. Begitu persisnya.

Bila saja para pahlawan tanah melayu ini bisa dihidupkan kembali, mereka pasti akan menjerit “bukan ini yang kami tuju, lelah berperang pun marwah tetap tergadai” mungkin akan seperti itu. Lihat saja dari beberapa kejadian yang saya sampaikan diatas, tidak ada suatupun kejadian yang memang berpijak pada kebutuhan dari masyarakat kota ini sendiri. Sebagai warga saya merasa jenuh dengan kondisi kota saya saat ini.

Saya merasa heran dengan kasus yang saya paparkan sebelumnya. Lihat saja kasus dimana monument kota yang dihancurkan atau dipindahkan. Salah satunya adalah monument pesawat terbang yang dipindahkan untuk kemudian diganti dengan monument zapin (saat ini diisebut sebagai monument Tarian Rakyat, nanti saya jelaskan lebih lanjut). Banyak dari kalangan Budayawan yang justru memperdebatkan bahwa monument tersebut justru tidak menggambarkan sebuah gerakan zapin, tapi lebih seperti gerakan menampar orang dan bahkan tidak menggambarkan etika melayu. Bagi saya, perdebatan seperti itu adalah perdebatan yang tidak bermutu. Karena, jikalaupun ada hal yang layak diperdebatkan adalah mengenai keberadaan tugu tersebut untuk menggantikan monument kota yang seblumnya (monument pesawat terbang-red).

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi penting. Apa yang membuat monument zapin ini menjadi begitu kuat perannya untuk diletakkan ditengah kota yang notabene ada sebuah monument yang sukses menjadi Kota Pekanbaru selama ini. Hal seperti inilah yang menurut saya dinilai perlu untuk dilakukan sebuah koreksi. Akan sangat bertele-tele apabila masih memperdebatkan model gerak, warna apalagi etika budaya yang digambarkan. Ini konyol namanya. Lihat saja perdebatannya disini.

 Lalu ada lagi perdebatan mengenai gambar selembayung ditubuh tong sampah yang dibuat oleh Pemda. Apa sebenarnya yang harus diperdebatkan dari sebuah logo yang dianggap sebagai salah sebuah model ukiran khas. Lihat saja gedung Bandar Serai yang kini sudah bersatu dengan tanah. Kurang banyak apa ukiran khas Melayu Riau disana? Apakah ada dari kalangan budayawan yang berusaha menyelamatkan atau minimal membawa pulang ukiran tersebut agar tidak terbuang. Jawabnya tentu saja tidak seorangpun. Lantas apa yang menjadi penting jika ukiran tersebut diletakkan sebagai motif tong sampah?. Toh, masyarakat justru menilai itu sebagai bentuk keindahan.

Perdebatan-perdebatan seperti inilah yang kemudian membuat kota Pekanbaru tidak berkembang dinamika seni budaya nya. Lihat saja Taman Budaya yang kian hari kian minim kegiatan, lihat Purna MTQ yang dulu megah kini tak lebih sebagai lokasi muda mudi menggeliat dimalam hari. Inilah yang orang sering sebut dengan istilah meleset.

Dikala daerah yang lain sibuk membangun Identitas Budaya, justru disini terlalu sibuk untuk membangun budaya identik. Padahal yang dibutuhkan oleh kota ini adalah identitas budaya yang melekat yang bisa membedakan kota ini dari kota lain. Sekaligus pula sebagai pembuktian bahwa kota ini telah siap menjadi ikon peradaban melayu dunia, setidaknya begitulah yang selalu digembar-gemborkan. Melihat hal itu kemudian banyak yang menyebutnya sebagai rencana didalam mimpi.

Kembali kepada teman saya yang tadi, bahwa dia berpendapat dikota ini terlalu banyak orang yang pintar memainkan lidah sehingga terlalu banyak kuah dalam ucapannya. Memang lidah tak bertulang begitulah kata pepatah lama, tapi janganlah pula terlalu banyak kuahnya (baca, liur-red). Hehe. Semoga sajalah ;).


Beberapa link bacaan terkait:

Resume Diskusi Film Tanda Tanya

Tanda Tanya
Karya Hanung Bramantyo
Review oleh: Hambs Dekil

Film ini diproduksi tahun 2011 yang lalu. Karya sineas muda Indonesia Hanung Bramantyo. Bagi kebanyakan orang film ini dinilai sarat dengan nilai-nilai pluralisme yang mengacu pada paham liberal. Beberapa tokoh keagamaan menyebutnya sebagai “film yang sesat dan menyesatkan” bahkan dihimbau untuk tidak ditonton oleh mereka yang taat. Kurang dari dua minggu setelah Gala Premiere nya di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki film ini pun harus dilarang penayangannya ditempat umum. Alasannya klise, “ bahwa film ini menggambarkan konsep pluralism yang vulgar”. Lantas ada apa dengan film Tanda Tanya sebenarnya?. Kenapa seperti banyak orang kebakaran jenggot setelah menonton film ini.
Penulis akan mencoba membedah film ini dari beberapa unsure yang nantinya akan didiskusikan bersama.

Cerita: Dari segi alur cerita, sebenarnya film ini hanya menggambarkan realitas yang terjadi didalam dinamika sosial masyarakat kekinian. Pada tahun-tahun belakangan isyu mengenai kepercayaan tidak lagi bersifat universal seperti biasanya. Banyak terjadii perselisihan yang sifatnya kontroversif bahkan beberapa mengarah kepada konflik yang bersifat fisik. Dalam hal ini saya menilai Hanung sebagai seorang produser sangat cerdas dalam membangun imaji terhadap kondisi ini.
Banyak pelajaran moral yang bila ditilik dengan teliti dapat kita ambil dari film ini. Sebut saja beberapa adegan yang menggambarkan bahwa keberagaman tidak selamanya berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Bahkan bisa membangun sebuah dinamika yang penuh dengan toleransi. Misalnya saja, adegan dimana seorang musllimah yang menjadi pelayan rumah makan yang menjual makanan yang menggandung babi. Hal ini jauh dari kewajaran untuk diangkat kedalam sebuah produk tontonan, namun Hanung berhasil menggambarkannya sebagai sebuah dinamika yang positif.
Selain itu, juga bisa diilihat saat adegan dimana Menuk yang Muslimah justru disupport oleh teman-temannya yang tidak seagama untuk tetap bersabar dalam mempertahankan ikatan keluarganya saat Soleh sang suami menuntut cerai karena tidak mampu menafkahi akibat ia pengangguran. Dalam adegan tersebut secara tidak langsung bahwa setiap agama menuntut hal yang sama terhadap sebuah ikatan pernikahan. Dalam kejadian nyata, tentunya hal ini sangat susah kita lihat langsung. Entahlah apa masalahnya. Tapi ini adalah sebuah ide yang cerdas.
Konsep pluralitas yang coba disampaikan oleh Hanung dan rekannya adalah sebuah kebersamaan yang sangat humanis (kemanusiaan). Hal-hal seperti sesungguhnya sudah langka saat ini. Banyak lagi konsep universalitas dari keberagaman yang diangkat dalam film ini.
Factor lain yang menjadikan film ini menarik adalah tidak ada gambaran kemana sebenarnya cerita ini film ini akan dibawa. Sangat khas sekali dengan karya-karya Hanung, lihat saja Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah dan lain-lain.
Settting: Film ini berkisah tentang dinamika sosial masyarakat disuatu daerah dipulau Jawa sana. Diatur dengan pencahayaan yang sama khas dengan karya Hanung lainnya. Penuh dengan warna-warna smooth dan sedikit sephia. Berlatar belakang sebuah kota tua dengan set cerita berada disebuah pasar tengah perkampungan yang berada ditengah bangunan-bangunan tua. Ada kemiripan latar dalam hal set bangunan yang ada dalam film ini dengan set yang dipakai dalam filmnya Riri Reza yang berjudul Soe Hok Gie. Saat itu set yang dipakai pada lokasi shooting nya adalah wilayah kota tua yang ada di Semarang.
Dalam beberapa scene juga sempat digambarkan beberapa tempat ibadah yang kelihatannya cukup berumur seperti vihara dan gereja yang dipakai. Set rumah makan yang dipakai oleh tokoh Tan Kat Sun (Hengky Soelaiman) juga merupakan bangunan tua. Set cerita inilah yang membuat film ini semakin menarik dan sangat mendukung dengan cerita yang diangkat.
Alur Cerita: Alur cerita yang dipakai adalah alur cerita yang maju dengan beberapa Plot yang terpisah. Ada beberapa alur konflik yang diangkat seperti; dalam Keluarga Menuk yang bercerita tentang dinamika sebuah keluarga kecil dengan satu anak dan seorang adik ipar dari pihak suami. Tulang punggung keluarganya adalah seorang istri yang bekerja dirumah makan Tan Kat Sun. dalam perjalannya kemudian Soleh sebagai suami yang belum bekerja akhirnya mendapatkan peruntungan. Ia bergabung dengan sebuah satuan pengamanan dari salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia yaitu Banser NU.
Dilain pihak, tokoh-tokoh lainnya juga memiliki konflik yang beragam. Ada Rika dengan konflik existensinya sebagai orang yang baru berpindah keyakinan dan belum bisa diterima oleh pihak orang tuanya. Paling menarik adalah anaknya yang bernama Aby adalah seorang muslim yang sangat didukung oleh Rika untuk terus mengaji dan memperdalam ke-islamannya. Rika sendiri sebagai seorang Katolik belum bisa melepaskan keyakinannya terhadap agama sebelumnya. Lihat saja adegan dimana Rika diminta untuk menggambarkan bentuk kasih tuhan, ia menggambarkannya dengan pandangan pada agamanya terdahulu.
Lalu ada keluarga Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu. Konflik yang terjadi adalah krisis kepercayaan untuk memberikan anaknya Ping Hen atau Hendra dalam meneruskan usaha rumah makannya tersebut. Dalam hal ini, Tan memiliki banyak keraguan akan kemampuan anaknya. Dilain pihak, Hen juga merasa jenuh dengan sikap ayah dan ibunya yang menurutnya sangat tidak perhatian kepada anaknya. Maka Hen kemudian memutuskan untuk belajar mengelola rumah makan agar kemudian bisa dijoinkan dengan temannya yang sanggup berinvestasi direstoran itu.
Lantas ada juga tokoh Surya yang diperankan oleh Agus Kuncoro. Ia berprofesi sebagai actor ptofesional. Selama 10 tahun berkarier tak sekalipun ia dipercayakan sebagai tokoh utama, ia selalu memainkan peran figuran dalam setiap pekerjaannya. Nah, kesempatan itu baru datang saat ia dipercaya untuk memerankan tokoh Yesus Kristus sementara Surya sendiri adalah seorang muslim yang baik. Ketika ia tidak punya tempat tinggal, ia justru harus menginap dimasjid kampung terdekat dan belajar memerankan tokohnya didalam masjid.
Bila dikaji lebih jauh, banyak sekali hal-hal yang diluar kebiasaan yang justruu dipertunjukkan didalam film ini. Hal-hal demikian yang justru membuat kualitas cerita dari film ini menjadi semakin menarik untuk ditonton. Dan menurut saya, film inii wajib tonton sebagai sebuah pembelajaran tentang bagaimana menempatkan diri dimasyarakat.
Overall: film yang sangat menarik ini akan sangat disayangkan bila dilewatkan. Baik secara alur cerita, settingan dan audio visualnya, film ini sudah cukup menarik dan sangat khas dari seorang Hanung Bramantyo. Bagaimana menempatkan diri dengan konflik sosial yang terjadi dan realitas yang ada akan sangat menarik tentunya untuk disimak.
Bagian yang harus menjadi perhatian adalah saat Hanung membangun sebuah adegan dimana dalam merayakan hari Natal, Pihak Katolik justru tidak sungkan untuk memesan makan dari pihak Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu yang langsung di koordinatori oleh Menuk, lalu karena tahu bahwa ada orang muslim yang bermain teater, dibuatkan juga makanan yang bisa dimakan oleh mereka. Ini adalah sebuah gambaran dimana toleransi terhadap perbedaan adalah hal yang sangat indah.
Sebaiknya ditonton saja dahulu filmnya agar dapat diketahui makna dan falsafahnya yang menarik. Semoga dapat diambil pembelajaran darinya dan semoga tetap bergairah. Salam ;).