Rabu, April 04, 2012

Surat Untuk Pak

Pak..
Adakah Kau Lihat Kebangunan yang di Ujung Jalan Itu?
Ya, Dua Blok dari Istanamu Pak..
Kata Mereka, disana Orang Orang Sakit Bisa Sembuh Pak??
Tapi Sekarang Berbeda Pak, yang Masuk Disana, Sekeluarnya Akan Langsung Hinggap di Prodeo..

Pak..
Kau Sudah Dengarkan Kata Anak Sebelah?
Tentang Temannya yang Bunuh Diri Karena Orang Tuanya tak Kuat Bayar SPP..
Kata Ibu Warung, “Daripada Malu Ya Skalian Mati Saja”

Pak..
Sebenarnya Kita Ini Punya Sawah Atau Tidak Ya Pak?
Kok, Berasnya Dikirim Kampung Sebelah Ya Pak?
Jadi yang Ditanam Kemarin Itu Apa?

Pak..
Sebenarnya Aku Masih Ingin Bertanya Lagi..
Tapi Kau Diam Saja Sedari Tadi..
Ada Apa Ya Pak?

Panggung Bebas

Panggung ini panggung bebas
Lepas Tak berbatas
Bisa aku
Atau kau
Atau mereka yang berdiri disini

Panggung ini panggung milik kita
Tak juga kau
Aku
Atau mereka berhak mengaturnya

Karena panggung ini adalah panggung bebas
Lepas Tak berbatas..!!






#Sebuah Kritik Untuk Panggung Pertunjukan Seni Budaya Pekanbaru yang Kaku Seperti Batu

Selasa, April 03, 2012

Bujanggi, Mimpi Jazz Melayu yang Tak Sampai

Bujanggi, kelompok musisi jazz asal kota bertuah Pekanbaru. Digawangi oleh Eri Bob (keyboard), Chipponk (drum), Ridho (Accordion), Yusak Nathaniel (bass), David (gitar). Sedangkan pada vocal ada Della dihari pertunjukan yang pertama dan Sisca Mamiri pada hari pertunjukan yang kedua. Sebuah konser bertajuk Majelis Dunia dengan konsep Jazz Melayu yang dihelay pada 23-24 Maret 2012 yang lalu.

Bujanggi bukanlah kelompok Jazz pertama yang ada di Riau, sebut saja Geliga yang juga digawangi oleh Eri Bob dan Sisca Mamiri.

Walaupun terdapat kesamaan personel diantara kedua kelompok musisi ini, namun terdapat banyak sekali perbedaan didalam karyanya. Misalnya saja dari hal yang paling simple, dari segi alat music yang digunakan. Aroma Melayu yang diutarakan oleh Geliga terungkap secara gamblang dan jernih. Baik dari segi kualitas nada dan alat music yang memang ethnic dan khas Melayu. Sedangkan Bujanggi, kelompok music ini lebih cenderung memainkan nada nada konvensional seperti yang dimainkan oleh Musisi Jazz kebanyakan. “Jauh panggang dari api”, agaknya itu pula ungkapan yang pas untuk menggambarkan bagaimana perbedaan permainan yang dimainkan dengan seloroh yang dibunyikan saat Press conference di Rumah Budaya Siku Keluang beberapa hari sebelumnya.

Menurut Eri Bob pada saat Presscon Tersebut, bahwa nada akan melahirkan kata yang yang penuh misteri dan menggambarkan unsure-unsur kemelayuan. Agaknya terlalu jauhlah untuk melihat kesana. Bandingkan juga dengan permainan kelompok musisi jazz yang memainkan irama melayu lainnya seperti Melacca Ensemble yang sangat kental sekali aroma music Ethnic Melayunya. Lihatlah permainan mereka saat memainkan lagu bunga seroja, suara violin yang mendayu dari Hendri Lamiri sangat memanjakan telinga.

Pada dataran konsep pertunjukan, akan terihat bagaimana konser ini seperti acara main-main tak lebih. Terlalu banyak prolog atau narasi yang dibacakan oleh Yos Riezal dikemas seolah pertunjukan sastra tunggal membuat acara ini semakin monoton. Sempat muncul dibenak saya “ ini sebenarnya pertunjukkan music atau event sastra sih”, sukses membuat sedikit mengantuk. Secara teknis, acara ini harus diulang pada lagu pertamanya setidaknya 3 kali. Listrik gedung mengalami turun arus dan entah bisa disebut naas atau tidak, panitia tidak menyiapkan sumber arus listrik yang lebih stabil. Inilah yang membuat saya menilai acara ini tidak seserius pernyataannya. Untuk sebuah pertunjukan Jazz Melayu dengan Sponsor salah satu provider telekomunisasi, ini adalah sebuah Ironi.

Dengan mengusung cita-cita mulia yaitu ingin memasyarakatkan music jazz ditengah kesesatan music pasar yang merajalela dimasyarakat agaknya akan berhasil untuk membangun sebuah imaji bahwa music jazz adalah music semua orang. Jauh dari interpretasi selama ini yang mengatakan bahwa music jazz adalah music mahal dan milik kalangan elit saja. Namun, bila melihat mahalnya tariff tiket yang diletakkan oleh pihak manajemen justru membuat imej music jazz semakin jauh dipuncak dari pendengaran masyarakat umum. Musik Jazz bak menara gading, semakin nyata rasanya bila melihat konsep pertunjukkan yang diangkat. Sekali lagi saya menyatakan ini sebagai sebuah ironi.

Ibarat ucapan apologi sang narrator saat mati arus yang pertama “memang susah berkesenian di Riau”. Ya, tentunya akan susah sekali bila mental yang dipelihara masih bersifat ansih dan tidak sepenuhnya berkarya untuk memberi kenikmatan pada sesama. Saya percaya, bahwa unsur music khas Melayu yang ada di Pekanbaru adalah sesuatu yang menarik untuk dinikmati secara bersama.

Semoga ;).

Ponakan Punya Kerjaan


Berapa banyak dari orang tua yang menyadari kemampuan anaknya sejak usia dini?

Bagaimana nalar kreatifitas si anak kemudian dapat terbaca oeh orangtuanya?

Bicara tentang perkembangan kognitif anak usia dini (baca; anak kecil), seharusnya dapat dilihat dari kecenderungan si anak itu sendiri. Nah, dalam hal ini kebanyakan orang tua lebih menilai kreatifitas anak-anak sebagai buah tingkah laku kenakalan. Identik memang, daya ingin tahu yang sangat besar pada anak usia dini terhadap lingkungan sekitarnya mendorong mereka untuk ber-eksperimentasi terhadap akal dan objek disekitarnya.

Menarik memang, membicarakan tingkah polah anak usia dini yang bila dilihat secara awam pasti akan cenderung dinilai “destruktif”. Padahal, bila diperhatikan lebih lanjut tingkah tersebut lebih kepada respon alami mereka terhadap objek yang ada disekitarnya saja. Tak layak memang diperbandingkan dengan imajinasi orang dewasa, sebab mereka pasti akan sangat berbeda respon alaminya apabila melihat benda yang sama dengan yang dilihat oleh anak usia dini tersebut.

Savira Laisa Rabbani (12 mei nanti 4 tahun)


Dirumah saya, ada dua orang ponakan saya yang kebetulan berusia dini. Namanya Laisa Savira Rabbani, anak pertama dari kakak perempuan saya. Saat ini usianya sudah mau jalan menuju tahun ke empat. Bila membicarakan tingkahnya, saya rasanya ibunya saja sudah menyerah. Kesenangannya selain pada bunyi benda-benda yang ia hentakkan (lebih tepatnya dihempaskannya) dan obsesinya terhadap warna-warna telah berhasil menghiasi rumah kami. Beberapa hasil karya bocah ini akan saya pertunjukkan disini. Hehehe, kaya promosi yah.

Enjoy it fellas.


Lengkapnya bisa dilihat di link ini.. Savira Laisa Rabbani