Jumat, April 27, 2012

Melulu Jika..

Jika saja mereka mau meluangkan waktu untuk menggunakan telinganya
Jika saja mereka berhenti tertawa dan bergunjing tentang kekonyolan
Jika saja mereka memahami perbedaan antara TOTALITAS dan TOLOLITAS
Jika saja mereka membaca tulisan ini
Jika saja mereka punya malu barang sekerat saja

Jika.. ah, melulu terhenti pada "Jika" belaka..




"Jika adalah sesuatu yg menggantungkan ketidakpastian, sama halnya dengan andai yg tak kunjung menampakkan maksud, serupa pula dengan bila yang selalu menaruh bingung. Jangan menaruh tanya pada setiap ucapan, sebab jawaban tak pasti selalu sama".



Salute buat temans PPI di Berlin, Jerman.
Semoga temans yang lain juga bisa meniru..

Tabikk..

Senin, April 23, 2012

Amnesia


Jikalau ia bisa berteriak
Ia pasti kecewa
Jika saja mereka mampu bergerak
Tentu mereka yang akan berdiri dimuka

Tapi apalah daya mereka kini
Mereka kini renta
Berserak diantara belulang serupa hikayat usang dalam lemari
Lantas apa yang harus dibuat jika segala kemajuan dianggap sesat sementara kebenaran lapuk dimamah peradaban

Sirna waktu atas segala kenyataan yang tergadai
Luluh melepuh setiap ruang yang dibangun
Matilah sudah

Long Time No Ngol.. Hehehe..


Lama rasanya tak menulis. Kangen juga nih dengan ruang sempit yang sudah lama tidak disinggahi di beberapa waktu belakangan. Tapi apa daya, sampai tulisan ini terjadi pun tak ditemukan juga bahan yang hendak dikuliti untuk kemudian ditulis disini. Membaca sajalah kalau begitu.

Tabik.

Jika Saja Mereka Lebih Diperhatikan..


Dua pekan belakangan, taman budaya pekanbaru menyelenggarakan event tari dari dua sanggar berbeda didalam agenda rutinnya bertajuk Pasar Seni yang diadakan setiap malam minggu. Dua minggu ini pula wajah Kepala Taman Budaya selalu tampak diacara tersebut. Bahkan, dalam apresiasinya saat berpidato beliau menjanjikan untuk mensponsori kedua sanggar tersebut untuk tampil didua event bergengsi. Event Malam Seni pada PON XVIII nanti dan Perlombaan tari tingkat provinsi.

Pada malam itu beliau mengatakan bahwa akan mensupport kegiatan sanggar tari yang ada dikota Pekanbaru. Beliau juga menunjukkan semangat yang tinggi sekali terhadap penampilan dua sanggar tersebut. Pada malam minggu pertama (14/4) sanggar tari Seri Melayu menampilkan tiga tarian rakyat yaitu Zapin, Serampang Dua Belas, dan Joged Dangkung. Sekitar tiga puluhan orang yang menjadi pendukung dari agenda tersebut. Sangat semarak.

Pada malam minggu kedua (21/4) sanggar tari Tameng Sari menampilkan lebih banyak pertunjukan diantaranya Joged, Silat, Randai, Zapin Dan Senandung. Semuanya dikemas didalam satu tema yang diberi judul “Let’s Dance”. Sebuah kemasan pertunjukan yang sangat menarik. Tarian rakyat Melayu ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan beberapa tarian kontemporer yang memang sedang In saat ini. Sebut saja gerakan Capoeira, shuffling,breakdance, dan masih banyak lagi unsur gerakan tari kontemporer lainnya. Sangat menarik.

Namun sayang, penampilan kedua sanggar tersebut harus rusak seketika oleh pidato Bapak Kepala Taman Budaya Sunardi Amd Sn. Betapa tidak, beliau mengapresiasikan penampilan kedua sanggar tersebut dengan janji yang muluk-muluk. Padahal, dengan kapasitas beliau sebagai salah seorang punggawa kesenian dan kebudayaan dikota ini, akan cukup banyak yang bisa dilakukan dengan memaksimal ruang pertunjukan terbuka seperti Taman Budaya.

Lihat saja event Pasar Seni yang sudah digelar hingga edisi kedelapan ini, jarang sekali terlihat wajah-wajah baru dibangku-bangku penonton. Apalagi wajah tokoh dan budayawan local itu sendiri. Kebanyakan dari mereka sepertinya lebih sibuk bersemedi sambil meratapi situs perbelanjaan modern yang sedang digarap. Bagaimana mungkin regenerasi pegiat seni budaya bisa terjadi dengan mapan bila apresiasi yang dilakukan hanya sebatas agenda menghabiskan anggaran belaka. Sedih sekali bila benar begitu.

Dari beberapa event sebelumnya yang selalu diapresiasikan oleh pegiat seni yang masih muda seperti SMU Widya Graha dengan Kabaret Malin Kundangnya atau bahkan Rumah Seni Budaya Siku Keluang dengan variasi pertunjukannya, sepertinya tak pernah ramai kunjungan. Ada apa sebenarnya dengan Taman Budaya Pekanbaru? Jangan katakan bila ruang public pertunjukan ini kehabisan ide untuk menggelar pertunjukan. Sangat malang sekali. Lalu dimana apresiasi seni budaya yang sesungguhnya?

Saya jadi teringat adegan mati lampu saat pementasan Bujanggi tempo lalu. Saat itu Yose Rizal selaku narator berseloroh “inilah susahnya berkesenian dipekanbaru”. Bila mau ditilik kembali, rasanya tak akan begitu susah jika saja budayawan sekelas Sang Narator sudi memberi sedikit apresiasi dengan sesekali menghadiri pertunjukan mereka yang muda dan bergairah tersebut. Tabik.

Jumat, April 13, 2012

Pekanbaru: Kota Berkuah yang Tak Lagi Bertuah


“Kota Pekanbaru Kota Bertuah, itu dulu.. sekarang tuh yang ada Pekanbaru Kota Berkuah”

Agaknya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan Kota Pekanbaru saat ini. Begitulah sekiranya kata kawan saya saat menanggapi dinamika kota yang makin hari makin monoton. Banyak hal yang sudah tidak terkendali lagi dikota ini. baik dalam hal identitas kota yang tergerus dan meningginya kepentingan yang tertimbun dikota yang dahulunya dianggap sebagai kota yang penuh dengan kesempatan dan peluang ini. Lantas, apa yang salah dengan kota ini yaa?

Dalam banyak hal, banyak sekali ketidakcocokan yang terjadi didalam dinamika kota Pekanbaru. Terlalu banyak ide yang berceceran sedangkan penerapannya sangat minim sekali. Lihat saja bagaimana kota ini berkembang kemudian. Tak ada lagi hal menarik yang dapat dijadikan sebuah identitas atau symbol kota yang dapat diangkat.

Dikota ini, yang semakin marak adalah kasus seni budaya dan penghancuran tata kota. Lihat saja dari beberapa perdebatan yang terjadi didalam lingkup kota Pekanbaru saat ini. Ada kasus dipindahkannya atau bahkan dirobohkannya beberapa monument yang sudah dianggap sebagai ikon kota, yang lebih hebat lagi ada kasus dimana ukiran dibadan tong sampah pun jadi perdebatan alot. Wanna Amazing Pekanbaru. Begitu persisnya.

Bila saja para pahlawan tanah melayu ini bisa dihidupkan kembali, mereka pasti akan menjerit “bukan ini yang kami tuju, lelah berperang pun marwah tetap tergadai” mungkin akan seperti itu. Lihat saja dari beberapa kejadian yang saya sampaikan diatas, tidak ada suatupun kejadian yang memang berpijak pada kebutuhan dari masyarakat kota ini sendiri. Sebagai warga saya merasa jenuh dengan kondisi kota saya saat ini.

Saya merasa heran dengan kasus yang saya paparkan sebelumnya. Lihat saja kasus dimana monument kota yang dihancurkan atau dipindahkan. Salah satunya adalah monument pesawat terbang yang dipindahkan untuk kemudian diganti dengan monument zapin (saat ini diisebut sebagai monument Tarian Rakyat, nanti saya jelaskan lebih lanjut). Banyak dari kalangan Budayawan yang justru memperdebatkan bahwa monument tersebut justru tidak menggambarkan sebuah gerakan zapin, tapi lebih seperti gerakan menampar orang dan bahkan tidak menggambarkan etika melayu. Bagi saya, perdebatan seperti itu adalah perdebatan yang tidak bermutu. Karena, jikalaupun ada hal yang layak diperdebatkan adalah mengenai keberadaan tugu tersebut untuk menggantikan monument kota yang seblumnya (monument pesawat terbang-red).

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi penting. Apa yang membuat monument zapin ini menjadi begitu kuat perannya untuk diletakkan ditengah kota yang notabene ada sebuah monument yang sukses menjadi Kota Pekanbaru selama ini. Hal seperti inilah yang menurut saya dinilai perlu untuk dilakukan sebuah koreksi. Akan sangat bertele-tele apabila masih memperdebatkan model gerak, warna apalagi etika budaya yang digambarkan. Ini konyol namanya. Lihat saja perdebatannya disini.

 Lalu ada lagi perdebatan mengenai gambar selembayung ditubuh tong sampah yang dibuat oleh Pemda. Apa sebenarnya yang harus diperdebatkan dari sebuah logo yang dianggap sebagai salah sebuah model ukiran khas. Lihat saja gedung Bandar Serai yang kini sudah bersatu dengan tanah. Kurang banyak apa ukiran khas Melayu Riau disana? Apakah ada dari kalangan budayawan yang berusaha menyelamatkan atau minimal membawa pulang ukiran tersebut agar tidak terbuang. Jawabnya tentu saja tidak seorangpun. Lantas apa yang menjadi penting jika ukiran tersebut diletakkan sebagai motif tong sampah?. Toh, masyarakat justru menilai itu sebagai bentuk keindahan.

Perdebatan-perdebatan seperti inilah yang kemudian membuat kota Pekanbaru tidak berkembang dinamika seni budaya nya. Lihat saja Taman Budaya yang kian hari kian minim kegiatan, lihat Purna MTQ yang dulu megah kini tak lebih sebagai lokasi muda mudi menggeliat dimalam hari. Inilah yang orang sering sebut dengan istilah meleset.

Dikala daerah yang lain sibuk membangun Identitas Budaya, justru disini terlalu sibuk untuk membangun budaya identik. Padahal yang dibutuhkan oleh kota ini adalah identitas budaya yang melekat yang bisa membedakan kota ini dari kota lain. Sekaligus pula sebagai pembuktian bahwa kota ini telah siap menjadi ikon peradaban melayu dunia, setidaknya begitulah yang selalu digembar-gemborkan. Melihat hal itu kemudian banyak yang menyebutnya sebagai rencana didalam mimpi.

Kembali kepada teman saya yang tadi, bahwa dia berpendapat dikota ini terlalu banyak orang yang pintar memainkan lidah sehingga terlalu banyak kuah dalam ucapannya. Memang lidah tak bertulang begitulah kata pepatah lama, tapi janganlah pula terlalu banyak kuahnya (baca, liur-red). Hehe. Semoga sajalah ;).


Beberapa link bacaan terkait:

Resume Diskusi Film Tanda Tanya

Tanda Tanya
Karya Hanung Bramantyo
Review oleh: Hambs Dekil

Film ini diproduksi tahun 2011 yang lalu. Karya sineas muda Indonesia Hanung Bramantyo. Bagi kebanyakan orang film ini dinilai sarat dengan nilai-nilai pluralisme yang mengacu pada paham liberal. Beberapa tokoh keagamaan menyebutnya sebagai “film yang sesat dan menyesatkan” bahkan dihimbau untuk tidak ditonton oleh mereka yang taat. Kurang dari dua minggu setelah Gala Premiere nya di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki film ini pun harus dilarang penayangannya ditempat umum. Alasannya klise, “ bahwa film ini menggambarkan konsep pluralism yang vulgar”. Lantas ada apa dengan film Tanda Tanya sebenarnya?. Kenapa seperti banyak orang kebakaran jenggot setelah menonton film ini.
Penulis akan mencoba membedah film ini dari beberapa unsure yang nantinya akan didiskusikan bersama.

Cerita: Dari segi alur cerita, sebenarnya film ini hanya menggambarkan realitas yang terjadi didalam dinamika sosial masyarakat kekinian. Pada tahun-tahun belakangan isyu mengenai kepercayaan tidak lagi bersifat universal seperti biasanya. Banyak terjadii perselisihan yang sifatnya kontroversif bahkan beberapa mengarah kepada konflik yang bersifat fisik. Dalam hal ini saya menilai Hanung sebagai seorang produser sangat cerdas dalam membangun imaji terhadap kondisi ini.
Banyak pelajaran moral yang bila ditilik dengan teliti dapat kita ambil dari film ini. Sebut saja beberapa adegan yang menggambarkan bahwa keberagaman tidak selamanya berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Bahkan bisa membangun sebuah dinamika yang penuh dengan toleransi. Misalnya saja, adegan dimana seorang musllimah yang menjadi pelayan rumah makan yang menjual makanan yang menggandung babi. Hal ini jauh dari kewajaran untuk diangkat kedalam sebuah produk tontonan, namun Hanung berhasil menggambarkannya sebagai sebuah dinamika yang positif.
Selain itu, juga bisa diilihat saat adegan dimana Menuk yang Muslimah justru disupport oleh teman-temannya yang tidak seagama untuk tetap bersabar dalam mempertahankan ikatan keluarganya saat Soleh sang suami menuntut cerai karena tidak mampu menafkahi akibat ia pengangguran. Dalam adegan tersebut secara tidak langsung bahwa setiap agama menuntut hal yang sama terhadap sebuah ikatan pernikahan. Dalam kejadian nyata, tentunya hal ini sangat susah kita lihat langsung. Entahlah apa masalahnya. Tapi ini adalah sebuah ide yang cerdas.
Konsep pluralitas yang coba disampaikan oleh Hanung dan rekannya adalah sebuah kebersamaan yang sangat humanis (kemanusiaan). Hal-hal seperti sesungguhnya sudah langka saat ini. Banyak lagi konsep universalitas dari keberagaman yang diangkat dalam film ini.
Factor lain yang menjadikan film ini menarik adalah tidak ada gambaran kemana sebenarnya cerita ini film ini akan dibawa. Sangat khas sekali dengan karya-karya Hanung, lihat saja Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah dan lain-lain.
Settting: Film ini berkisah tentang dinamika sosial masyarakat disuatu daerah dipulau Jawa sana. Diatur dengan pencahayaan yang sama khas dengan karya Hanung lainnya. Penuh dengan warna-warna smooth dan sedikit sephia. Berlatar belakang sebuah kota tua dengan set cerita berada disebuah pasar tengah perkampungan yang berada ditengah bangunan-bangunan tua. Ada kemiripan latar dalam hal set bangunan yang ada dalam film ini dengan set yang dipakai dalam filmnya Riri Reza yang berjudul Soe Hok Gie. Saat itu set yang dipakai pada lokasi shooting nya adalah wilayah kota tua yang ada di Semarang.
Dalam beberapa scene juga sempat digambarkan beberapa tempat ibadah yang kelihatannya cukup berumur seperti vihara dan gereja yang dipakai. Set rumah makan yang dipakai oleh tokoh Tan Kat Sun (Hengky Soelaiman) juga merupakan bangunan tua. Set cerita inilah yang membuat film ini semakin menarik dan sangat mendukung dengan cerita yang diangkat.
Alur Cerita: Alur cerita yang dipakai adalah alur cerita yang maju dengan beberapa Plot yang terpisah. Ada beberapa alur konflik yang diangkat seperti; dalam Keluarga Menuk yang bercerita tentang dinamika sebuah keluarga kecil dengan satu anak dan seorang adik ipar dari pihak suami. Tulang punggung keluarganya adalah seorang istri yang bekerja dirumah makan Tan Kat Sun. dalam perjalannya kemudian Soleh sebagai suami yang belum bekerja akhirnya mendapatkan peruntungan. Ia bergabung dengan sebuah satuan pengamanan dari salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia yaitu Banser NU.
Dilain pihak, tokoh-tokoh lainnya juga memiliki konflik yang beragam. Ada Rika dengan konflik existensinya sebagai orang yang baru berpindah keyakinan dan belum bisa diterima oleh pihak orang tuanya. Paling menarik adalah anaknya yang bernama Aby adalah seorang muslim yang sangat didukung oleh Rika untuk terus mengaji dan memperdalam ke-islamannya. Rika sendiri sebagai seorang Katolik belum bisa melepaskan keyakinannya terhadap agama sebelumnya. Lihat saja adegan dimana Rika diminta untuk menggambarkan bentuk kasih tuhan, ia menggambarkannya dengan pandangan pada agamanya terdahulu.
Lalu ada keluarga Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu. Konflik yang terjadi adalah krisis kepercayaan untuk memberikan anaknya Ping Hen atau Hendra dalam meneruskan usaha rumah makannya tersebut. Dalam hal ini, Tan memiliki banyak keraguan akan kemampuan anaknya. Dilain pihak, Hen juga merasa jenuh dengan sikap ayah dan ibunya yang menurutnya sangat tidak perhatian kepada anaknya. Maka Hen kemudian memutuskan untuk belajar mengelola rumah makan agar kemudian bisa dijoinkan dengan temannya yang sanggup berinvestasi direstoran itu.
Lantas ada juga tokoh Surya yang diperankan oleh Agus Kuncoro. Ia berprofesi sebagai actor ptofesional. Selama 10 tahun berkarier tak sekalipun ia dipercayakan sebagai tokoh utama, ia selalu memainkan peran figuran dalam setiap pekerjaannya. Nah, kesempatan itu baru datang saat ia dipercaya untuk memerankan tokoh Yesus Kristus sementara Surya sendiri adalah seorang muslim yang baik. Ketika ia tidak punya tempat tinggal, ia justru harus menginap dimasjid kampung terdekat dan belajar memerankan tokohnya didalam masjid.
Bila dikaji lebih jauh, banyak sekali hal-hal yang diluar kebiasaan yang justruu dipertunjukkan didalam film ini. Hal-hal demikian yang justru membuat kualitas cerita dari film ini menjadi semakin menarik untuk ditonton. Dan menurut saya, film inii wajib tonton sebagai sebuah pembelajaran tentang bagaimana menempatkan diri dimasyarakat.
Overall: film yang sangat menarik ini akan sangat disayangkan bila dilewatkan. Baik secara alur cerita, settingan dan audio visualnya, film ini sudah cukup menarik dan sangat khas dari seorang Hanung Bramantyo. Bagaimana menempatkan diri dengan konflik sosial yang terjadi dan realitas yang ada akan sangat menarik tentunya untuk disimak.
Bagian yang harus menjadi perhatian adalah saat Hanung membangun sebuah adegan dimana dalam merayakan hari Natal, Pihak Katolik justru tidak sungkan untuk memesan makan dari pihak Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu yang langsung di koordinatori oleh Menuk, lalu karena tahu bahwa ada orang muslim yang bermain teater, dibuatkan juga makanan yang bisa dimakan oleh mereka. Ini adalah sebuah gambaran dimana toleransi terhadap perbedaan adalah hal yang sangat indah.
Sebaiknya ditonton saja dahulu filmnya agar dapat diketahui makna dan falsafahnya yang menarik. Semoga dapat diambil pembelajaran darinya dan semoga tetap bergairah. Salam ;).

Senin, April 09, 2012

Aku Bukan Saya Apalagi Alien, Sudahlah Mari Berpogo

Pameran Hasil Iseng-Isengan Aaahh..

Hehehehehehehe..
Spit The Words Out of Yours(kenapa harus memasang muka sengak dan berkicau ibarat murai jika tingkat kesadaranmu NOL besar, persetan dengan mulutmu yang bau ketololan)

Horrible Perfection(Perfect atau kesempurnaan itu hanyalah setumpuk kotoran yang menyelip dikepalamu, seringlah keramas dan basuh wajah lusuhmu agar sedikit segar dan lebih berisi)

Ayo Berpogo(mana semangatmu, jangan hanya berdiri dipojokan ayo buat keributan)

Terserahmu Saja(menjauh saja sekarang, sebab nanti akan sangat terlambat buatmu)

Fiksinya Hidup dalam Kehidupan yang Fiksi(ini hidupku, aku atur dengan ceritaku dan kujalankan dengan aturanku, lalu siapa kamu?)

Bukan Saya(jangan mencari masalah dengan meributkan hal yang orang lain punya, atur saja property sialanmu itu, inilah aku dan itu bukan saya. Sampaikan saja salamku untuk istri dan koleksi pacarmu)

Seperti Pendatang di Rumah Sendiri(feels like a tourist VS alien in new york, sayangnya ini Indonesia. Negeri paling Fiksi daripada tidak)

Malin Kundang, "Ku Kutuk Kau Jadi Tai..!!"


Para Pemain Kabaret
  
Salah Satu Adegan didalam Kabaret "Malin Kundang"

Hari sabtu yang lalu tanggal 7 april 2012, Kelompok Teater SMU Widya Graha Pekanbaru mengadakan pertunjukan seni di Taman Budaya Pekanbaru. Gelaran tersebut diadakan dalam rangkaian kegiatan reguler Pasar Seni yang menjadi salah satu agenda rutin Taman Budaya Pekanbaru saban akhir pekan. Malam itu mereka menampilkan sebuah Kabaret berjudul “Malin Kundang” dan sebuah Pembacaan Puisi Berantai. Adapun selain agenda pertunjukan kesenian, pihak Taman budaya juga menggelar acara Nonton Film bersama.

Agenda menonton ini juga termasuk kedalam daftar kegiatan rutin mingguannya. Malam itu film yang diputar juga berbeda daripada film yang sudah pernah diputar. Malam ini diputar film Tjoet Njak Dhien yang diperankan oleh Christin Hakim dan Slamet Rahardjo yang juga merupakan karya sineas Eros Djarot.

Acara yang biasanya dimulai pukul 20.00 WIB setiap hari sabtunya tersebut menjadi agak terlambat dikarenakan kehadiran para pemain yang juga terlambat. Namun, agenda yang kemudian dimulai tepat pukul 21.00 tersebut tidak mengurangi minat para penonton dalam mengapresiasikan pertunjukan mereka. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme penonton yang tetap setia menunggu. Tak hanya dari teman-teman sekolah saja, banyak juga dari kalangan umum yang tertarik untuk menonton pertunjukan tersebut.

Pertunjukan pertama yang digelar adalah sebuah Kabaret berjudul Malin Kundang. Kabaret ini berusaha mempelesetkan legenda rakyat Sumatera Barat. Dalam kisah sebenarnya, Malin Kundang dikutuk Ibundanya menjadi batu dipinggir pantai. Sedangkan dalam pertunjukan tersebut Siswa SMU Widya Graha justru menggambarkan bahwa Malin Kundang dikutuk menjadi “Tai” didalam kamar mandi. Walaupun dimainkan dengan gaya khas remaja ABG, pertunjukan tersebut berhasil memikat gelak tawa para penonton.

Sebenarnya, dari konsep yang diangkat pada pertunjukan tidak menimbulkan suatu ciri khas dari legenda yang terjadi selain beberapa tokoh yang memang ada. Namun, keberanian para siswa tersebut dalam membangun mental ber-pertunjukan tetap patut diacungi jempol. Setidaknya sebagai pengingat kepada pekerja pertunjukan yang ada dikota Pekanbaru yang terkenal minim acara pertunjukan. Terlalu berani dan sinis memang, tapi tetap kreatif.

Kabaret dimulai dengan suara Narator yang bercerita dengan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Minang sambil menggunakan dialeg khas Jawa yang kental. Setelahnya masuklah tokoh Malin Kundang bersama Ibundanya. Adegan demi adegan pun berlanjut hingga selesai. Pertunjukan semakin menarik dengan adanya aransemen musik yang dikutip dari beberapa lagu Musisi Papan Atas baik lokal maupun Internasional. Sebut saja lagu “Caiya-Caiya” yang dinyanyikan oleh Norman Kamaroo dan “My Heart Will Go On” milik Celine Dion pun ikut diangkut sebagai musik latar malam itu.

Pertunjukan selanjutnya adalah pembacaan Puisi Berantai. Konsep permainan ini sangat menarik karena dimainkan oleh empat orang dengan karakter yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menjadi Petani, Koki (tukang buat kue), Pecinta dan seorang lagi berperan sebagai Ustad. Mereka berkolaborasi membacakan puisi dengan sebuah tema yang sama tapi dengan gaya karakter tokoh yang dimainkan.


Para Pemain Puisi Berantai

Misalnya saja, saat si petani membacakan bagian “akan kusirami dan kusiangi..” lantas disambung oleh si Koki dengan “lalu kusimpan dan kubungkus ia dengan rapat..” dan disambung lagi oleh si Pecinta “cinta kita berdua agar abadi..” dan ditimpali langsung oleh sang Ustad dengan “sampai akhir zaman..”. Pertunjukan ini menjadi sangat menarik melihat para pemain bersahut-sahutan dengan gaya karakternya. Sayangnya, saat ditengah acara salah seorang dari pemain tidak ingat bagian puisi yang harus dibacanya. Ini membuatkan mereka berempat saling terdiam sambil berusaha membisiki pemain yang kelupaan.

Kejadian tersebut sontak membuat para penonton tertawa. Para pemainpun semakin salah tingkah. Pertunjukan ditutup oleh si Ustad yang kemudian melompat kepada bagian terakhir. Pertunjukan malam itu pun selesai.

Memasuki agenda kedua Nonton Film Bersama yang memutar film Indonesia berjudul Tjoet Njak Dhien. Film ini tetap menarik minat para penonton malam itu. Karya Eros Djarot yang diproduksi pada tahun 1988 ini bercerita tentang kehidupan pahlawan perempuan dari Aceh beserta Kronik Perang Aceh yang terkenal memakan banyak korban. Film berdurasi hampir dua jam ini ditonton dengan khidmat oleh para penonton yang rata-rata bertahan hingga selesai.

Animo yang terbentukpun berbeda daripada film-film yang pernah diputar sebelumnya. Pasar Seni Taman Budaya Pekanbaru pada pekan-pekan sebelumnya memutar film dengan Tema yang tidak mendidik seperti “Transformer 3, 3 Doa 3 Cinta, dll”. Malam itu, kondisi sungguh berbeda karena film yang disuguhkan bercerita tentang kepahlawanan dan dari kisah nyata.



Gambar lainnya Klik disini.......................................>>>> Malin Kundang, Ku Kutuk Kau Jadi Tai