Jika saja mereka mau meluangkan waktu untuk menggunakan telinganya
Jika saja mereka berhenti tertawa dan bergunjing tentang kekonyolan
Jika saja mereka memahami perbedaan antara TOTALITAS dan TOLOLITAS
Jika saja mereka membaca tulisan ini
Jika saja mereka punya malu barang sekerat saja
Jika.. ah, melulu terhenti pada "Jika" belaka..
"Jika adalah sesuatu yg menggantungkan ketidakpastian, sama halnya dengan
andai yg tak kunjung menampakkan maksud, serupa pula dengan bila yang
selalu menaruh bingung. Jangan menaruh tanya pada setiap ucapan, sebab
jawaban tak pasti selalu sama".
Salute buat temans PPI di Berlin, Jerman.
Semoga temans yang lain juga bisa meniru..
Jikalau ia bisa berteriak
Ia pasti kecewa
Jika saja mereka mampu bergerak
Tentu mereka yang akan berdiri dimuka
Tapi apalah daya mereka kini
Mereka kini renta
Berserak diantara belulang serupa hikayat usang dalam lemari
Lantas apa yang harus dibuat jika segala kemajuan dianggap sesat sementara kebenaran lapuk dimamah peradaban
Sirna waktu atas segala kenyataan yang tergadai
Luluh melepuh setiap ruang yang dibangun
Matilah sudah
Lama rasanya tak menulis. Kangen juga nih
dengan ruang sempit yang sudah lama tidak disinggahi di beberapa waktu
belakangan. Tapi apa daya, sampai tulisan ini terjadi pun tak ditemukan juga bahan
yang hendak dikuliti untuk kemudian ditulis disini. Membaca sajalah kalau
begitu.
Dua pekan belakangan, taman budaya pekanbaru
menyelenggarakan event tari dari dua sanggar berbeda didalam agenda rutinnya
bertajuk Pasar Seni yang diadakan setiap malam minggu. Dua minggu ini pula
wajah Kepala Taman Budaya selalu tampak diacara tersebut. Bahkan, dalam
apresiasinya saat berpidato beliau menjanjikan untuk mensponsori kedua sanggar
tersebut untuk tampil didua event bergengsi. Event Malam Seni pada PON XVIII
nanti dan Perlombaan tari tingkat provinsi.
Pada malam itu beliau mengatakan bahwa akan
mensupport kegiatan sanggar tari yang ada dikota Pekanbaru. Beliau juga
menunjukkan semangat yang tinggi sekali terhadap penampilan dua sanggar
tersebut. Pada malam minggu pertama (14/4) sanggar tari Seri Melayu menampilkan
tiga tarian rakyat yaitu Zapin, Serampang Dua Belas, dan Joged Dangkung. Sekitar
tiga puluhan orang yang menjadi pendukung dari agenda tersebut. Sangat semarak.
Pada malam minggu kedua (21/4) sanggar tari
Tameng Sari menampilkan lebih banyak pertunjukan diantaranya Joged, Silat,
Randai, Zapin Dan Senandung. Semuanya dikemas didalam satu tema yang diberi
judul “Let’s Dance”. Sebuah kemasan pertunjukan yang sangat menarik. Tarian
rakyat Melayu ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan beberapa tarian
kontemporer yang memang sedang In
saat ini. Sebut saja gerakan Capoeira,
shuffling,breakdance, dan masih banyak lagi unsur gerakan tari kontemporer
lainnya. Sangat menarik.
Namun sayang, penampilan kedua sanggar tersebut
harus rusak seketika oleh pidato Bapak Kepala Taman Budaya Sunardi Amd Sn. Betapa
tidak, beliau mengapresiasikan penampilan kedua sanggar tersebut dengan janji
yang muluk-muluk. Padahal, dengan kapasitas beliau sebagai salah seorang
punggawa kesenian dan kebudayaan dikota ini, akan cukup banyak yang bisa
dilakukan dengan memaksimal ruang pertunjukan terbuka seperti Taman Budaya.
Lihat saja event Pasar Seni yang sudah digelar
hingga edisi kedelapan ini, jarang sekali terlihat wajah-wajah baru
dibangku-bangku penonton. Apalagi wajah tokoh dan budayawan local itu sendiri. Kebanyakan
dari mereka sepertinya lebih sibuk bersemedi sambil meratapi situs perbelanjaan
modern yang sedang digarap. Bagaimana mungkin regenerasi pegiat seni budaya
bisa terjadi dengan mapan bila apresiasi yang dilakukan hanya sebatas agenda
menghabiskan anggaran belaka. Sedih sekali bila benar begitu.
Dari beberapa event sebelumnya yang selalu
diapresiasikan oleh pegiat seni yang masih muda seperti SMU Widya Graha dengan
Kabaret Malin Kundangnya atau bahkan Rumah Seni Budaya Siku Keluang dengan
variasi pertunjukannya, sepertinya tak pernah ramai kunjungan. Ada apa
sebenarnya dengan Taman Budaya Pekanbaru? Jangan katakan bila ruang public pertunjukan
ini kehabisan ide untuk menggelar pertunjukan. Sangat malang sekali. Lalu dimana
apresiasi seni budaya yang sesungguhnya?
Saya jadi teringat adegan mati lampu saat
pementasan Bujanggi tempo lalu. Saat itu Yose Rizal selaku narator berseloroh “inilah
susahnya berkesenian dipekanbaru”. Bila mau ditilik kembali, rasanya tak akan
begitu susah jika saja budayawan sekelas Sang Narator sudi memberi sedikit
apresiasi dengan sesekali menghadiri pertunjukan mereka yang muda dan bergairah
tersebut. Tabik.
“Kota Pekanbaru Kota Bertuah, itu dulu..
sekarang tuh yang ada Pekanbaru Kota Berkuah”
Agaknya itulah kata yang pantas untuk
menggambarkan Kota Pekanbaru saat ini. Begitulah sekiranya kata kawan saya saat
menanggapi dinamika kota yang makin hari makin monoton. Banyak hal yang sudah
tidak terkendali lagi dikota ini. baik dalam hal identitas kota yang tergerus
dan meningginya kepentingan yang tertimbun dikota yang dahulunya dianggap
sebagai kota yang penuh dengan kesempatan dan peluang ini. Lantas, apa yang
salah dengan kota ini yaa?
Dalam banyak hal, banyak sekali ketidakcocokan
yang terjadi didalam dinamika kota Pekanbaru. Terlalu banyak ide yang
berceceran sedangkan penerapannya sangat minim sekali. Lihat saja bagaimana
kota ini berkembang kemudian. Tak ada lagi hal menarik yang dapat dijadikan
sebuah identitas atau symbol kota yang dapat diangkat.
Dikota ini, yang semakin marak adalah kasus seni
budaya dan penghancuran tata kota. Lihat saja dari beberapa perdebatan yang
terjadi didalam lingkup kota Pekanbaru saat ini. Ada kasus dipindahkannya atau
bahkan dirobohkannya beberapa monument yang sudah dianggap sebagai ikon kota,
yang lebih hebat lagi ada kasus dimana ukiran dibadan tong sampah pun jadi
perdebatan alot. Wanna Amazing Pekanbaru. Begitu persisnya.
Bila saja para pahlawan tanah melayu ini bisa
dihidupkan kembali, mereka pasti akan menjerit “bukan ini yang kami tuju, lelah
berperang pun marwah tetap tergadai” mungkin akan seperti itu. Lihat saja dari
beberapa kejadian yang saya sampaikan diatas, tidak ada suatupun kejadian yang
memang berpijak pada kebutuhan dari masyarakat kota ini sendiri. Sebagai warga
saya merasa jenuh dengan kondisi kota saya saat ini.
Saya merasa heran dengan kasus yang saya
paparkan sebelumnya. Lihat saja kasus dimana monument kota yang dihancurkan
atau dipindahkan. Salah satunya adalah monument pesawat terbang yang
dipindahkan untuk kemudian diganti dengan monument zapin (saat ini diisebut
sebagai monument Tarian Rakyat, nanti saya jelaskan lebih lanjut). Banyak dari
kalangan Budayawan yang justru memperdebatkan bahwa monument tersebut justru
tidak menggambarkan sebuah gerakan zapin, tapi lebih seperti gerakan menampar
orang dan bahkan tidak menggambarkan etika melayu. Bagi saya, perdebatan
seperti itu adalah perdebatan yang tidak bermutu. Karena, jikalaupun ada hal
yang layak diperdebatkan adalah mengenai keberadaan tugu tersebut untuk
menggantikan monument kota yang seblumnya (monument pesawat terbang-red).
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi penting. Apa
yang membuat monument zapin ini menjadi begitu kuat perannya untuk diletakkan
ditengah kota yang notabene ada sebuah monument yang sukses menjadi Kota
Pekanbaru selama ini. Hal seperti inilah yang menurut saya dinilai perlu untuk
dilakukan sebuah koreksi. Akan sangat bertele-tele apabila masih memperdebatkan
model gerak, warna apalagi etika budaya yang digambarkan. Ini konyol namanya. Lihat
saja perdebatannya disini.
Lalu ada
lagi perdebatan mengenai gambar selembayung ditubuh tong sampah yang dibuat
oleh Pemda. Apa sebenarnya yang harus diperdebatkan dari sebuah logo yang
dianggap sebagai salah sebuah model ukiran khas. Lihat saja gedung Bandar Serai
yang kini sudah bersatu dengan tanah. Kurang banyak apa ukiran khas Melayu Riau
disana? Apakah ada dari kalangan budayawan yang berusaha menyelamatkan atau
minimal membawa pulang ukiran tersebut agar tidak terbuang. Jawabnya tentu saja
tidak seorangpun. Lantas apa yang menjadi penting jika ukiran tersebut
diletakkan sebagai motif tong sampah?. Toh, masyarakat justru menilai itu
sebagai bentuk keindahan.
Perdebatan-perdebatan seperti inilah yang
kemudian membuat kota Pekanbaru tidak berkembang dinamika seni budaya nya. Lihat
saja Taman Budaya yang kian hari kian minim kegiatan, lihat Purna MTQ yang dulu
megah kini tak lebih sebagai lokasi muda mudi menggeliat dimalam hari. Inilah yang
orang sering sebut dengan istilah meleset.
Dikala daerah yang lain sibuk membangun Identitas
Budaya, justru disini terlalu sibuk untuk membangun budaya identik. Padahal
yang dibutuhkan oleh kota ini adalah identitas budaya yang melekat yang bisa
membedakan kota ini dari kota lain. Sekaligus pula sebagai pembuktian bahwa
kota ini telah siap menjadi ikon peradaban melayu dunia, setidaknya begitulah
yang selalu digembar-gemborkan. Melihat hal itu kemudian banyak yang
menyebutnya sebagai rencana didalam mimpi.
Kembali kepada teman saya yang tadi, bahwa dia
berpendapat dikota ini terlalu banyak orang yang pintar memainkan lidah
sehingga terlalu banyak kuah dalam ucapannya. Memang lidah tak bertulang
begitulah kata pepatah lama, tapi janganlah pula terlalu banyak kuahnya (baca,
liur-red). Hehe. Semoga sajalah ;).
Film ini diproduksi tahun 2011 yang lalu. Karya
sineas muda Indonesia Hanung Bramantyo. Bagi kebanyakan orang film ini dinilai
sarat dengan nilai-nilai pluralisme yang mengacu pada paham liberal. Beberapa
tokoh keagamaan menyebutnya sebagai “film yang sesat dan menyesatkan” bahkan
dihimbau untuk tidak ditonton oleh mereka yang taat. Kurang dari dua minggu
setelah Gala Premiere nya di Bioskop 21 Taman Ismail Marzuki film ini pun harus
dilarang penayangannya ditempat umum. Alasannya klise, “ bahwa film ini
menggambarkan konsep pluralism yang vulgar”. Lantas ada apa dengan film Tanda
Tanya sebenarnya?. Kenapa seperti banyak orang kebakaran jenggot setelah
menonton film ini.
Penulis akan mencoba membedah film ini dari
beberapa unsure yang nantinya akan didiskusikan bersama.
Cerita: Dari segi alur cerita, sebenarnya film ini hanya
menggambarkan realitas yang terjadi didalam dinamika sosial masyarakat
kekinian. Pada tahun-tahun belakangan isyu mengenai kepercayaan tidak lagi
bersifat universal seperti biasanya. Banyak terjadii perselisihan yang sifatnya
kontroversif bahkan beberapa mengarah kepada konflik yang bersifat fisik. Dalam
hal ini saya menilai Hanung sebagai seorang produser sangat cerdas dalam
membangun imaji terhadap kondisi ini.
Banyak pelajaran moral yang bila ditilik dengan
teliti dapat kita ambil dari film ini. Sebut saja beberapa adegan yang
menggambarkan bahwa keberagaman tidak selamanya berdampak buruk bagi kehidupan
bermasyarakat. Bahkan bisa membangun sebuah dinamika yang penuh dengan
toleransi. Misalnya saja, adegan dimana seorang musllimah yang menjadi pelayan
rumah makan yang menjual makanan yang menggandung babi. Hal ini jauh dari
kewajaran untuk diangkat kedalam sebuah produk tontonan, namun Hanung berhasil
menggambarkannya sebagai sebuah dinamika yang positif.
Selain itu, juga bisa diilihat saat adegan dimana
Menuk yang Muslimah justru disupport oleh teman-temannya yang tidak seagama
untuk tetap bersabar dalam mempertahankan ikatan keluarganya saat Soleh sang
suami menuntut cerai karena tidak mampu menafkahi akibat ia pengangguran. Dalam
adegan tersebut secara tidak langsung bahwa setiap agama menuntut hal yang sama
terhadap sebuah ikatan pernikahan. Dalam kejadian nyata, tentunya hal ini sangat susah kita lihat langsung.
Entahlah apa masalahnya. Tapi ini adalah sebuah ide yang cerdas.
Konsep pluralitas yang coba
disampaikan oleh Hanung dan rekannya adalah sebuah kebersamaan yang sangat
humanis (kemanusiaan). Hal-hal seperti sesungguhnya sudah langka saat ini.
Banyak lagi konsep universalitas dari keberagaman yang diangkat dalam film ini.
Factor lain yang menjadikan film ini
menarik adalah tidak ada gambaran kemana sebenarnya cerita ini film ini akan dibawa.
Sangat khas sekali dengan karya-karya Hanung, lihat saja Perempuan Berkalung
Sorban, Sang Pencerah dan lain-lain.
Settting: Film ini berkisah tentang dinamika sosial
masyarakat disuatu daerah dipulau Jawa sana. Diatur dengan pencahayaan yang
sama khas dengan karya Hanung lainnya. Penuh dengan warna-warna smooth
dan sedikit sephia. Berlatar belakang sebuah kota tua dengan set
cerita berada disebuah pasar tengah perkampungan yang berada ditengah
bangunan-bangunan tua. Ada kemiripan latar dalam hal set bangunan yang
ada dalam film ini dengan set yang dipakai dalam filmnya Riri Reza
yang berjudul Soe Hok Gie. Saat itu set yang dipakai pada lokasi shooting
nya adalah wilayah kota tua yang ada di Semarang.
Dalam beberapa scene juga
sempat digambarkan beberapa tempat ibadah yang kelihatannya cukup berumur
seperti vihara dan gereja yang dipakai. Set rumah makan yang dipakai
oleh tokoh Tan Kat Sun (Hengky Soelaiman) juga merupakan bangunan tua. Set cerita
inilah yang membuat film ini semakin menarik dan sangat mendukung dengan cerita
yang diangkat.
Alur Cerita: Alur cerita yang dipakai adalah alur
cerita yang maju dengan beberapa Plot yang terpisah. Ada beberapa alur
konflik yang diangkat seperti; dalam Keluarga Menuk yang bercerita tentang
dinamika sebuah keluarga kecil dengan satu anak dan seorang adik ipar dari
pihak suami. Tulang punggung keluarganya adalah seorang istri yang bekerja
dirumah makan Tan Kat Sun. dalam perjalannya kemudian Soleh sebagai suami yang
belum bekerja akhirnya mendapatkan peruntungan. Ia bergabung dengan sebuah
satuan pengamanan dari salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia yaitu
Banser NU.
Dilain pihak, tokoh-tokoh lainnya
juga memiliki konflik yang beragam. Ada Rika dengan konflik existensinya
sebagai orang yang baru berpindah keyakinan dan belum bisa diterima oleh pihak
orang tuanya. Paling menarik adalah anaknya yang bernama Aby adalah seorang muslim
yang sangat didukung oleh Rika untuk terus mengaji dan memperdalam
ke-islamannya. Rika sendiri
sebagai seorang Katolik belum bisa melepaskan keyakinannya terhadap agama
sebelumnya. Lihat saja adegan dimana Rika diminta untuk menggambarkan bentuk
kasih tuhan, ia menggambarkannya dengan pandangan pada agamanya terdahulu.
Lalu ada keluarga Tan Kat Sun yang Kong Hu Chu.
Konflik yang terjadi adalah krisis kepercayaan untuk memberikan anaknya Ping
Hen atau Hendra dalam meneruskan usaha rumah makannya tersebut. Dalam hal ini,
Tan memiliki banyak keraguan akan kemampuan anaknya. Dilain pihak, Hen juga
merasa jenuh dengan sikap ayah dan ibunya yang menurutnya sangat tidak
perhatian kepada anaknya. Maka Hen kemudian memutuskan untuk belajar mengelola
rumah makan agar kemudian bisa dijoinkan dengan temannya yang sanggup
berinvestasi direstoran itu.
Lantas ada juga tokoh Surya yang diperankan oleh
Agus Kuncoro. Ia berprofesi
sebagai actor ptofesional. Selama 10 tahun berkarier tak sekalipun ia
dipercayakan sebagai tokoh utama, ia selalu memainkan peran figuran dalam
setiap pekerjaannya. Nah, kesempatan itu baru datang saat ia dipercaya untuk
memerankan tokoh Yesus Kristus sementara Surya sendiri adalah seorang muslim
yang baik. Ketika ia tidak punya tempat tinggal, ia justru harus menginap
dimasjid kampung terdekat dan belajar memerankan tokohnya didalam masjid.
Bila dikaji lebih jauh, banyak
sekali hal-hal yang diluar kebiasaan yang justruu dipertunjukkan didalam film
ini. Hal-hal demikian yang
justru membuat kualitas cerita dari film ini menjadi semakin menarik untuk
ditonton. Dan menurut saya, film inii wajib tonton sebagai sebuah pembelajaran
tentang bagaimana menempatkan diri dimasyarakat.
Overall: film yang sangat menarik ini akan sangat
disayangkan bila dilewatkan. Baik secara alur cerita, settingan dan audio
visualnya, film ini sudah cukup menarik dan sangat khas dari seorang Hanung
Bramantyo. Bagaimana menempatkan diri dengan konflik sosial yang terjadi dan
realitas yang ada akan sangat menarik tentunya untuk disimak.
Bagian yang harus menjadi perhatian adalah saat
Hanung membangun sebuah adegan dimana dalam merayakan hari Natal, Pihak Katolik
justru tidak sungkan untuk memesan makan dari pihak Tan Kat Sun yang Kong Hu
Chu yang langsung di koordinatori oleh Menuk, lalu karena tahu bahwa ada orang
muslim yang bermain teater, dibuatkan juga makanan yang bisa dimakan oleh
mereka. Ini adalah sebuah gambaran dimana toleransi terhadap perbedaan adalah
hal yang sangat indah.
Sebaiknya ditonton saja dahulu filmnya agar dapat
diketahui makna dan falsafahnya yang menarik. Semoga dapat diambil pembelajaran
darinya dan semoga tetap bergairah. Salam ;).
(kenapa harus memasang muka sengak dan berkicau ibarat murai jika tingkat kesadaranmu NOL besar, persetan dengan mulutmu yang bau ketololan)
Horrible Perfection
(Perfect atau kesempurnaan itu hanyalah setumpuk kotoran yang menyelip dikepalamu, seringlah keramas dan basuh wajah lusuhmu agar sedikit segar dan lebih berisi)
Ayo Berpogo
(mana semangatmu, jangan hanya berdiri dipojokan ayo buat keributan)
Terserahmu Saja
(menjauh saja sekarang, sebab nanti akan sangat terlambat buatmu)
Fiksinya Hidup dalam Kehidupan yang Fiksi
(ini hidupku, aku atur dengan ceritaku dan kujalankan dengan aturanku, lalu siapa kamu?)
Bukan Saya
(jangan mencari masalah dengan meributkan hal yang orang lain punya, atur saja property sialanmu itu, inilah aku dan itu bukan saya. Sampaikan saja salamku untuk istri dan koleksi pacarmu)
Seperti Pendatang di Rumah Sendiri
(feels like a tourist VS alien in new york, sayangnya ini Indonesia. Negeri paling Fiksi daripada tidak)
Hari sabtu yang lalu tanggal 7 april 2012,
Kelompok Teater SMU Widya Graha Pekanbaru mengadakan pertunjukan seni di Taman
Budaya Pekanbaru. Gelaran tersebut diadakan dalam rangkaian kegiatan reguler
Pasar Seni yang menjadi salah satu agenda rutin Taman Budaya Pekanbaru saban
akhir pekan. Malam itu mereka menampilkan sebuah Kabaret berjudul “Malin
Kundang” dan sebuah Pembacaan Puisi Berantai. Adapun selain agenda pertunjukan
kesenian, pihak Taman budaya juga menggelar acara Nonton Film bersama.
Agenda menonton ini juga termasuk kedalam daftar
kegiatan rutin mingguannya. Malam itu film yang diputar juga berbeda daripada
film yang sudah pernah diputar. Malam ini diputar film Tjoet Njak Dhien yang
diperankan oleh Christin Hakim dan Slamet Rahardjo yang juga merupakan karya
sineas Eros Djarot.
Acara yang biasanya dimulai pukul 20.00 WIB setiap
hari sabtunya tersebut menjadi agak terlambat dikarenakan kehadiran para pemain
yang juga terlambat. Namun, agenda yang kemudian dimulai tepat pukul 21.00
tersebut tidak mengurangi minat para penonton dalam mengapresiasikan
pertunjukan mereka. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme penonton yang tetap
setia menunggu. Tak hanya dari teman-teman sekolah saja, banyak juga dari
kalangan umum yang tertarik untuk menonton pertunjukan tersebut.
Pertunjukan pertama yang digelar adalah sebuah
Kabaret berjudul Malin Kundang. Kabaret ini berusaha mempelesetkan legenda
rakyat Sumatera Barat. Dalam kisah sebenarnya, Malin Kundang dikutuk Ibundanya
menjadi batu dipinggir pantai. Sedangkan dalam pertunjukan tersebut Siswa SMU
Widya Graha justru menggambarkan bahwa Malin Kundang dikutuk menjadi “Tai”
didalam kamar mandi. Walaupun dimainkan dengan gaya khas remaja ABG,
pertunjukan tersebut berhasil memikat gelak tawa para penonton.
Sebenarnya, dari konsep yang diangkat pada
pertunjukan tidak menimbulkan suatu ciri khas dari legenda yang terjadi selain
beberapa tokoh yang memang ada. Namun, keberanian para siswa tersebut dalam
membangun mental ber-pertunjukan tetap patut diacungi jempol. Setidaknya
sebagai pengingat kepada pekerja pertunjukan yang ada dikota Pekanbaru yang
terkenal minim acara pertunjukan. Terlalu berani dan sinis memang, tapi tetap
kreatif.
Kabaret dimulai dengan suara Narator yang
bercerita dengan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Minang sambil
menggunakan dialeg khas Jawa yang kental. Setelahnya masuklah tokoh Malin
Kundang bersama Ibundanya. Adegan demi adegan pun berlanjut hingga selesai.
Pertunjukan semakin menarik dengan adanya aransemen musik yang dikutip dari
beberapa lagu Musisi Papan Atas baik lokal maupun Internasional. Sebut saja
lagu “Caiya-Caiya” yang dinyanyikan oleh Norman Kamaroo dan “My Heart Will Go
On” milik Celine Dion pun ikut diangkut sebagai musik latar malam itu.
Pertunjukan selanjutnya adalah pembacaan Puisi
Berantai. Konsep permainan ini sangat menarik karena dimainkan oleh empat orang
dengan karakter yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menjadi Petani, Koki
(tukang buat kue), Pecinta dan seorang lagi berperan sebagai Ustad. Mereka berkolaborasi
membacakan puisi dengan sebuah tema yang sama tapi dengan gaya karakter tokoh
yang dimainkan.
Para Pemain Puisi Berantai
Misalnya saja, saat si petani membacakan bagian
“akan kusirami dan kusiangi..” lantas disambung oleh si Koki dengan “lalu
kusimpan dan kubungkus ia dengan rapat..” dan disambung lagi oleh si Pecinta
“cinta kita berdua agar abadi..” dan ditimpali langsung oleh sang Ustad dengan
“sampai akhir zaman..”. Pertunjukan ini menjadi sangat menarik melihat para
pemain bersahut-sahutan dengan gaya karakternya. Sayangnya, saat ditengah acara
salah seorang dari pemain tidak ingat bagian puisi yang harus dibacanya. Ini
membuatkan mereka berempat saling terdiam sambil berusaha membisiki pemain yang
kelupaan.
Kejadian tersebut sontak membuat para penonton
tertawa. Para pemainpun semakin salah tingkah. Pertunjukan ditutup oleh si
Ustad yang kemudian melompat kepada bagian terakhir. Pertunjukan malam itu pun
selesai.
Memasuki agenda kedua Nonton Film Bersama yang
memutar film Indonesia berjudul Tjoet Njak Dhien. Film ini tetap menarik minat
para penonton malam itu. Karya Eros Djarot yang diproduksi pada tahun 1988 ini
bercerita tentang kehidupan pahlawan perempuan dari Aceh beserta Kronik Perang
Aceh yang terkenal memakan banyak korban. Film berdurasi hampir dua jam ini ditonton
dengan khidmat oleh para penonton yang rata-rata bertahan hingga selesai.
Animo yang terbentukpun berbeda daripada film-film
yang pernah diputar sebelumnya. Pasar Seni Taman Budaya Pekanbaru pada
pekan-pekan sebelumnya memutar film dengan Tema yang tidak mendidik seperti
“Transformer 3, 3 Doa 3 Cinta, dll”. Malam itu, kondisi sungguh berbeda karena
film yang disuguhkan bercerita tentang kepahlawanan dan dari kisah nyata.