Sabtu, Mei 22, 2010

Lagi Lagi Kekerasan, Kekerasan Lagi-lagi

Lagi-lagi kekerasan.

Kaget sekaligus terkejut ketika kemarin sedang berbincang-bincang dengan rekan-rekan dikantor. Mereka bilang ada salah seorang wartawan dipukuli hingga masuk rumah sakit. Lantas saya bertanya, “kenapa bisa terjadi demikian? Siapa yang mukul?”. Rekan saya mengatakan tidak tahu, yang jelas ia dipukul karena berita yang ia buat. Saya semakin penasaran ada apa gerangan. Belakangan saya baru tahu kalau wartawan saya dipukul oleh oknum perwira tentara karena membongkar kasus illegal logging sang perwira.

Sekilas saya jadi teringat dengan masa-masa orde baru yang lalu. Wartawan adalah sebuah profesi yang sangat mengundang bahaya. Karena berita dan informasi yang ia buat, banyak wartawan yang berakhir dengan kematian. Sebut saja Udin di Jogja dan masih banyak lainnya. Baru-baru ini salah seorang wartawan media lokal tempat saya bekerja Harian Aceh, juga mengalami pemukulan, intimidasi menggunakan senjata dan ancaman akan dibunuh seluruh keluarganya. Hal ini terjadi akibat ia berhasil membongkar pelanggaran yang dilakukan oleh si oknum perwira tentara tersebut.

Saya jadi bingung sendiri dengan kejadian tersebut. Seingat saya Aceh sudah membuat perjanjian damai dengan pihak NKRI, tapi kenapa masa lalu masih terus menghantui seperti ini?. Apakah orang Aceh tidak berhak untuk hidup damai dan tenteram layaknya orang Indonesia lainnya?. Apakah kami yang di Aceh ini tidak memiliki hak untuk bekerja dengan tenang dan nyaman?.

Dilain sisi, pemukulan terhadap insan pers adalah salah satu bentuk intimidasi dan usaha pembredelan. Melihat dari maksud untuk menghentikan arus informasi terhadap kasus Illegal Logging yang sedang marak terjadi. Jangan-jangan hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak usah tahu tentang kegiatan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu?.

Kasihan sekali. Kelakuan barbar oknum aparat terhadap pers adalah bukti bahwa demokrasi dan era kebebasan pers belum sepenuhnya diakui. Padahal, mengacu pada UU no. 4/1999 dijelaskan bahwa pers adalah salah satu pilar demokrasi dalam mengusung kebebasan informasi. Memang kenyataan selalu bertolak belakang.

Akankah pers kembali dikekang?. Atau kebebasan informasi hanya mimpi kosong belaka?.


Hom hai..

Jumat, Mei 21, 2010

Tjoet Njak Dhien

Aku Berjalan Melintasi Waktu
Mengingat Kembali Kisah Kelam Satu Abad Yang Lalu
Teriakan, Darah, dan Senyuman
Aku Merasa Bertabur Duka Dibalik Asap Mesiu dan Api

Melihat Rumahmu
Dengan Segenap Lintasan Peristiwa yang Terekam Didalamnya
Betapa Aku Tahu Bahwa Engkau Dipuja dan Dibenci

Dipuja Oleh Mereka Yang Menginginkan Kebebasan
dan Dibenci Oleh Mereka Yang Serakah dan Keji

Kini Kau Dikenang Sebagai Simbol Perlawanan
Mereka yang Dulu Menginginkan Kematianmu pun Mengakuinya

Kawan Kenalkah Kau Pada Sosoknya?

Ya
Dialah Tjoet Njak Dhien
Sang Ratu Perang Atjeh

Kisah Si Ratu Perang Atjeh







Trip To Lhok Nga
















Going Crazy In Lhok Nga Part 2 (History Of The Atjeh Queen Of War)



Melanjutkan perjalananku kembali. Seharusnya perjalanan ini saya buat kemarin, tapi karena satu dan lain hal terpaksa edisi kemarin media ini tidak ada posting. Maklum perjalanan yang melelahkan. Sewaktu saya kuliah dijogja dulu, kalau saya ingin jalan-jalan saya tidak begitu terasa lelah. Maklum, saya selalu bepergian bersama tunangan saya tersayang. Jadi lelahnya hilang karena bahagia.

Ok. Kita kembali dengan cerita saya. Setelah melahap ikan bakar dengan sadisnya saya pun memutuskan untuk pulang. Ditengah jalan saya teringat bahwa ada rumah salah seorang pahlawan nasional dipinggir jalan ini. Pahlawan ini dahulu terkenal sebagai Ratu Perang Aceh, namanya adalah Tjoet Njak Dhien.

Seperti yang saya ulas sedikit pada postingan saya sebelumnya. Rumah ini adalah bentuk replica dari yang asli. Rumah aslinya sudah dibakar lebih dari seabad yang lalu, tepatnya tahun 1896. Rumah ini hanya meninggalkan pondasinya dan sumur yang kebetulan setinggi 3 meter-an. Rumah dengan dekorasi yang unik ini didirikan kembali oleh pengikut Tjoet Njak Dhien secara diam-diam. Baru kemudian dipugar kembali oleh pemerintah pada tahun 1980-an. Saat ini rumah tersebut menjadi salah satu asset sejarah yang dimiliki oleh bangsa Aceh.
Banyak hal yang menarik perhatian saya. Diantaranya adalah Grand Design rumah tersebut yang sangat menarik. Persis seperti istana. Menurut ibu penjaga, rumah itu dulu digunakan sebagai benteng pertahanan wilayah Lhok Nga. Berhubung Teuku Umar sang suami tinggal disana, maka banyak sekali pengikutnya yang juga tinggal dirumah tersebut.

Rumah yang kini menjadi ikon Rumoh Aceh itu masi berdiri tegak dengan anggun. Didalamnya banyak sekali foto-foto menarik peninggalan belanda. Mulai dari foto-foto 2 Sultan Aceh terakhir, foto Teuku Umar dan pengikutnya diberanda rumah sebelum dibakar, foto Tjoet Njak Dhien sampai foto dokumentasi Jenderal-Jenderal Belanda dan aksi agresi mereka di wilayah Aceh.

Disini saya melihat ada beberapa hal yang sangat menarik pengamatan saya. Diantaranya adalah kenangan terhadap Sang Ratu perang yang sangat mendalam dan kisah sumur dibelakang rumah. Kenapa kenangan terhadap Sang Ratu perang begitu mendalam, ketika saya mengingat kembali beberapa literature yang berkaitan dan film yang bercerita tentang Tjoet Njak Dhien, saya jadi paham kenapa ia begitu diagungkan oleh pengikutnya.

Membayangkan bagaimana karismanya dizaman dulu membuat saya merinding. Bagaimana usaha para Jenderal-Jenderal Belanda yang berusaha menumpas gerakannya namun selalu sia-sia. Tidak sedikit Jenderal-Jenderal tersebut yang memutuskan untuk bunuh diri karena frustasi. Bahkan hal ini juga berlaku pada saat penangkapan suaminya Teuku Umar. Banyak Jenderal yang mati sia-sia. Mungkin rekan pembaca pernah mendengar Jenderal Rudolf Kohler?. Dia adalah salah satu Jenderal Belanda yang mati sia-sia. Bahkan jenazahnya tidak lagi diterima di Belanda sana.

Hal kedua yang kemudian menarik minat saya adalah model sumur yang ada pada zaman tersebut. Sumur tersebut luar biasa tingginya. Ketika saya menanyakan perihal tinggi sumur tersebut yang mencapai 3 meter. Ibu penjaga mengatakan bahwa zaman perang dulu, keluarga Teuku Umar dan Tjoet Njak Dhien begitu di incar oleh banyak orang. Baik mata-mata lokal maupun pasukan kompeni yang menyelinap. Maka tak heran bila sumur tersebut sangat tinggi dan mulut sumur hanya bisa dicapai bila kita naik kedalam rumah terlebih dahulu.

Menarik sekali perjalanan saya sekali ini.

Melihat waktu yang sudah mendekati jam 4 sore saya memutuskan untuk segera pulang kembali kekantor. Dijalan saya kembali mengingat kembali sejarah peperangan tersebut. Saya jadi teringat satu hal penting. Bahwa tekad orang Aceh sangat kuat untuk meraih kebebasan dan kemerdekaan. Terbukti dari kisah-kisah sejarahnya sendiri. Tapi rekan pembaca tahukah?, bahwa Tjoet Njak Dhien dan Teuku Umar mengakhiri perjuangannya bukan karena menyerah. Perjuangan mereka berakhir akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Sebutlah Teuku Umar yang dikhianati oleh Syah Bandar Kerajaan Aceh. Sedangkan istrinya Tjoet Njak dhien Sang Ratu Perang memilih mengakhiri perjuangannya akibat diberitahukannya tempat persembunyiannya oleh Pang Laot. Benar-benar sebuah kejadian yang mengerikan. Tekad dan pengkhianatan.

Sambil berjalan tak lupa saya kembali mendengarkan Photograph dari Weezer. Saya pun mulai bersenandung sambil berjalan “If You Want It, You Can Have It.. But You’ve Got To Learn To Reach Out There And Grab It..”.

Sepertinya saya harus menjadikan pengalaman perang mereka sebagai tekad hidup saya.

-saleum meutuah-

Going Crazy In Lhonk Nga..Part 1 (Pantai Abis)



Melintasi jalanan panjang banda aceh menuju pesisir Lhok Nga. Ada workshop tentang biogas yang harus saya datangi. Sendiri bermotor sejauh nyaris 25 km lebih. Mumpung pagi hari jadi tidak perlu merasa kesulitan. Teduh dan berangin.

Bersama dendang riang Photograph dari Weezer dari Ipod yang dikirim kekasih tersayang. Melewati jalanan dengan kecepatan 40 km/h. Wilayah yang sepi dipagi hari. Sebatang produk Philip Morris sialan terselip diantara jari dan coklat batangan yang setengah meleleh. Tenang menuju pantai. Nice trip.

Sepanjang jalan aku melihat banyak rumah-rumah warga yang sudah mulai dibangun kembali paska bencana Tsunami. Ada juga beberapa rumah yang memang masih berdiri tegak. Salah satunya adalah rumah Ratu Perang asal Aceh. Ya, rumah Tjoet Njak Dhien masih berdiri tegak dengan gagahnya. Memang replica buatan tahun 1980an, karena yang asli sudah dibakar kompeni tahun 1896. Tapi bangunan tersebut tetap gagah. Rekan pembaca bisa mengulik hasik jepretan perjalan saya nanti.

Akhirnya saya sampai ditujuan. Workshop yang diadakan oleh salah satu perusahaan semen multi internasional. Program CSR perusahaan tersebut melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui pengadaan pilot project dibeberapa titik. Biogas dari kotoran sapi atau lembu. Sebuah system energy alternatif yang menarik. Memang sekarang sedang zamannya serba alternatif. Hehee.

Banyak warga adat disekitar wilayah Lhok Nga yang datang. Didalam workshop tersebut mereka tampil apa adanya. Saat ditanya kesannya terhadap bio energy tersebut, mereka pun menjawab dengan apa adanya. Polos namun tetap menarik.

Tanpa terasa hari mulai mendekati sore. Suasana juga mulai berubah. Dimulai dengan hawa panas yang mulai menyerang, orkes pun mulai menggema dilambung saya yang tak seberapa, dan keinginan saya yang menggebu-gebu tak tertahankan lagi. Sepertinya enak makan ikan bakar di daerah Lhoong. Mmmmhh..

Mulai menyusuri jalan kembali dengan rute semakin menjauh dari pusat kota. Persis dilokasi yang berjejer penjual ikan bakar, disanalah saya mulai menyandarkan motordan menghajar beberapa potong ikan bakar dengan keji. Bersama sambal kecap dan terasi khas Aceh. Kalau orang Aceh bilang seperti ini, “hai mangat that..”. Kenyang.
Manstaaappp..

Rabu, Mei 19, 2010

Singin'.."Calm Like a Bee.."



Menghabiskan waktu-waktu terakhir dikantor dengan sebungkus rokok dan air mineral. Letih setelah bekerja. Sambil mendengarkan Calm Like A Bomb nya Rage Against The Machine saya lantas teringat pada lebah yang saya foto menjelang siang tadi.

Sekilas, lebah adalah makhluk kecil yang lucu. Lembut dan tidak berbahaya adalah kesan yang dapat dilihat dari ukuran dan warna-warnanya yang menarik. Benar-benar hewan yang sangat memukau. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari tingkah laku lebah. Mulai dari pola sosialnya yang rukun dan tertib. Belajar tentang kesetiaannya yang mendalam terhadap sang ratu lebah.


Sekilas aku jadi bernyanyi sendiri lyric sangar dari band funk Amerika ini. Mulai berteriak “I be walking god like a dog, My narrative fearless, Word war returns to burn.. and bla..bla..bla..”. Tanpa sadar aku jadi ingin seperti lebah. Calm Like a Bomb membahana melewati rongga telinga langsung menyambar detak jantung dan memaksa sel-sel otakku untuk menggagas ide-ide nakal. Haaahh..

Ssssssuuuuuuuuttttttt... Kusedot kencang produk Philip Morris sialan ini semampuku.

Tahu kah dirimu kawan, lebah adalah hewan yang selalu siap mengorbankan nyawanya. Ketika ia memutuskan dengan insting hewani yang ia miliki untuk menyundut setiap subjek yang mengganggunya, maka saat itu pulalah ia memutuskan untuk bersiap menuju mati. Benar-benar sikap tenang yang mengalahkan sosok anggun seorang Ottori Shigeru saat menebas lengan Ando demi menyelamatkan Tomasu di Mino dalam novel Across The Nightingale Floor karya Lian Hearn.

Bahkan ditengah keteraturan dalam pola sosialnya, para lebah tetap memikirkan bahwa mereka hidup untuk melindungi sang ratu lebah. Hingga mereka bisa berjejalan tanpa merasa kesempitan dan kehilangan lahan. Benar-benar proses hidup yang anggun dan luar biasa. Benar-benar kecintaan yang mampu mengalahkan penghianatan Ratu Gertrude terhadap suaminya Sang Raja Hamlet dalam karya besar Shakespeare ataupun penghianatan seorang Amber Leighton terhadap Giuseppe dalam adegan romantis menyayat difilm Swept Away.

Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari makhluk sekecil dan selembut lebah. Lantas, kenapa manusia yang mendominasi kehidupan lebih jelek dari lebah?. Lihat kasus Tanjung Priok yang belum lama terjadi di ibu kota. Atau lihat penghianatan Pemerintah Provinsi Aceh yang “demam” perdagangan karbon sehingga mau mengorbankan hak-hak ulayat tradisional?.

Ataukah manusia mampu mengevolusikan wataknya menjadi seperti lebah sang pekerja keras?.

Seperti kata orang-orang tua Aceh “hom hai.. han ‘ek loen teu’oh

Antara Teh Hangat dan Nasi Kare

Bersama segelas teh dan sepiring nasi kare aku mulai kembali menarikan tarian jejari diatas keyboard laptop. Udara siang ini tidak seperti biasanya. Tidak begitu panas, tapi cukup membuat keringatku menetes.

Lagi-lagi aku terkesima. Rasanya, setiap kali mengitari kota banda aceh ini aku selalu ingin menulis. Mulai dari keragaman budayanya, tingkah polah warganya, kebiasaan-kebiasaannya, dan banyak lagi hal menarik lainnya. Salah satu diantaranya adalah watak orang aceh yang bersumbu pendek alias pemarah.


Dibeberapa surat kabar lokal, berita yang sedang marak diantaranya adalah tentang sidang keluarga mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang berakhir ricuh, lalu ada juga keributan pada saat aksi masa aktivis lingkungan menolak jual beli karbon, dan banyak berita lainnya. Menarik sekali sebenarnya, hanya saja saya rasa kasus mahasiswa Unsyiah terlihat lebih tolol daripada kasus perkelahian supporter sepak bola.
Saya rasa setiap pembaca yang pernah berkuliah pasti pernah mengalami yang namanya sidang mahasiswa. Apapun itu namanya, yang jelas itu adalah forum dimana setiap golongan mahasiswa bertemu. Mari kita bertanya, saat kita mengalami dead lock dalam perdebatan lantas kita melemparkan makian dan kata kasar kepada peserta forum yang lain?. Saya rasa tidak sebodoh itu.
Menurut sejarah, bangsa Aceh adalah bangsa yang besar. Bisa menguasai seputaran malaka sampai daratan india. Bahkan, nama rajanya pun termasyhur di Negara Turki. Tapi kenapa tingkah generasi lebih buruk daripada manusia zaman Food and Gathering dulu?. Sekali lagi lucu bin konyol.
Bagi saya idealisme itu patut dipertahankan bila menyangkut kehidupan banyak orang lainnya. Tapi sebagai golongan terdidik bergelar mahasiswa, seharusnya lebih memaksimalkan otak daripada otot. Bukan begitu.
Aaahh.. Nasinya sudah habis, saya mau tambah lagi takut kekenyangan. Begitu juga dengan tehnya. Mmhh, sepertinya lebih baik disambung lain waktu sajalah.

-saleum-

Hikayat Tukang Pangkas

10 tahun yang lalu.

Aku adalah seorang tukang cukur keliling. Menjajakan kemampuanku kepada setiap orang yang merasa butuh penampilan baru. Mulai dari remaja, bapak-bapak sampai anak-anak. Bahkan, sssst.. terkadang aku juga melayani wanita yang ingin pangkas rambut. Itu juga bila dipaksa, karena sebenarnya aku tidak punya kemampuan untuk memangkas rambut wanita. Bukannya aku tak mau belajar, tapi mereka jenis yang terlalu cerewet dan banyak permintaan.

Aku lajang, memulai usahaku karena aku tidak sanggup bersaing untuk kerja berdasi. Maklum, aku berasal dari kelas yang takkan sanggup membayar pendidikan. Sekalipun dipaksa. Hari-hari biasa aku habiskan dengan melewati jalanan gampong sambil berteriak “koh u’..koh u’..”. Perlu energy lebih banyak untuk mampu meneriakkan kata-kata tersebut sambil menggendong perkakas cukuran sejauh belasan kilometre sehari daripada energy yang dipakai oleh seorang komandan kepada anggotanya.


Usahaku ini juga tidak dapat dikatakan laris. Sehari paling banyak aku mendapatkan tiga, ah.. paling banyak empat kepala sehari. Rute kelilingku dimulai dari daerah lingke menuju lampriet lalu masuk ke pocut baren sampai peunayong lantas melewati arah lam pulo kemudian masuk ke lam baro skep baru akhirnya aku mencari lorong-lorong kecil yang entah apa namanya sampai kembali ke lingke. Lelah. Aku tidak kenal kata itu. Karena orang sepertiku hanya akan mati tergilas roda zaman bila terlalu cepat menyerah.

Lapar dan haus itu biasa teman, puasa dua atau tiga hari itu juga lumrah. Bagiku, mendapat uang Rp. 10.000,- sekali cukur itu mukjizat. Sebenarnya tarifku untuk sekali pangkas adalah Rp. 12.500,-. Jangan kau bilang mahal teman, di Banda Aceh tidak ada yang murah. Bahkan untuk sekali kencing di Masjid Raya saja kau harus mengeluarkan uang Rp. 2000,-. Walaupun jargonnya air itu karunia Tuhan. Banyak orang yang memakai jasaku yang tak setuju membayar dengan tarif sejumlah tersebut. Biasanya mereka akan menawar hingga Rp. 8000,- paling banyak Rp. 9000,-. Alasannya adalah, karena aku tukang pangkas keliling. Mereka juga selalu bilang begini “aku mau pangkas sama abang, karena malas keluar rumah”. Memang dasar mereka saja yang pelit.

Suatu ketika, aku sedang berjalan disekitar wilayah Lampriet. Terik mentari membuatku terpaksa berteduh dibawah pohon rindang milik sebuah rumah yang menjorok keluar dari halaman. Teduhya. Duduk sambil berkipas dengan topi lusuh yang selalu aku kenakan setiap harinya. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara nyonya pemilik rumah berteriak “pa.. dirapikan dulu rambutnya, masa’ pergi keacara gubernur begitu?!”. Tuan pemilik rumah itupun menjawab “gak sempat lagi ma.. nih papa uda terlambat”. Karena terlalu rebut, aku memutuskan untuk berpindah tempat. Saat lewat didepan gerbangnya, aku dipanggil oleh nyonya pemilik rumah. Lantas, aku disuruh untuk merapikan rambut suaminya.

Ternyata, tuan pemilik rumah tersebut senang dengan potonganku. Ia berkata, besok pagi aku harus menemuinya. Aku tidak mengerti apa maksud dari keinginannya, kupikir tidak ada salahnya.

Keesokan harinya. Aku datang menemui tuan tersebut ditempat yang sama. Terkaget-kaget aku mendengarkan keinginannya. Ia ingin aku mengelola sebuah took miliknya di daerah pasar peunayong untuk dibukakan usaha pangkas rambut. Saat aku bertanya kenapa, ia hanya bilang pangkasanku bagus dan rapih. Ia hanya ingin berlangganan denganku saja.

Belakangan baru aku tahu bahwa tuan tersebut adalah seorang pejabat provinsi yang cukup terkenal.


5 tahun kemudian.

Aceh berada dalam posisi konflik yang aku tak tahu kemungkinan berakhirnya. Tapi satu hal yang aku tahu, bahwa usahaku kian hari kian laris. Tarifku bertambah, bila dulu sekali pangkas aku tetapkan Rp.12.500,- sekarang menjadi Rp. 18.000,-. Tak ada lagi orang yang keberatan, bahkan pelangganku semasa aku masih berkeliling juga tak lagi berani menawar. Aku selalu geli sendiri bila mengingat bagaimana mereka dulu selalu mengolok-olokku sebagai pilihan terakhir atau karena malas keluar rumah.
Pelangganku berasal dari beragam profesi. Mulai dari guru, pengusaha, pegawai, tentara, bahkan milisi yang sedang menyamar. Aku tahu itu semua karena kebiasaan orang aceh yang selalu bercerita saat sedang dipangkas. Tapi tak ada alasan bagiku untuk memberitahukan kepada pelanggan lainnya. Hanya khusus untukmu kawan, karena sekarang aku yang sedang bercerita.

Semakin hari pelangganku selalu bertambah. Banyak rekanan dari tuan yang membantuku ikut menggunakan jasaku disini. Awalnya aku cukup kesulitan karena pelangganku terus bertambah. Pelan-pelan aku mulai mencari tenaga tambahan untuk membantu usahaku.


4 tahun berlalu.

Kini aku tak lagi menjadi tukang pangkas jago kandang. Aku tidak lagi memangkas ditokoku sendiri. Aku hanya akan memangkas bila ada order istimewa dari orang-orang kalangan pejabat saja. Namaku mulai tersohor, hingga pejabat Negara yang singgah ke aceh mulai menggunakan jasaku dalam mengurusi penampilan mereka. Sssst.. Jangan katakan pada siapapun, bila presiden berkunjung kemari selalu aku yang dipanggil.

Akhirnya aceh memasuki masa perdamaian. Tidak ada lagi ketakutan dimana-mana. Saat ini setiap orang sudah mulai membuka identitas dirinya. Dulu milisi yang selalu was-was bila sedang dipangkas, sekarang ia mulai santai. Bahkan, beberapa pelangganku yang dulunya milisi sudah mulai berani bicara terang-terangan. Semuanya terjadi begitu saja seiring istilah milisi diganti menjadi kombatan. Intinya semua orang bahagia. Aku tak tahu apakah ini sementara, yang pasti tak ada ruginya bagiku.

Masa-masa ini terasa damai dan tenteram. Hidupku sudah berkecukupan, aku sudah memiliki rumah sendiri, anakku bisa sekolah lebih tinggi dariku, istriku juga cantik. Tak ada lagi masa-masa dimana aku harus berpuasa karena tidak ada pemasukkan. Sekarang aku hanya berpuasa disaat Ramadhan tiba, tidak lagi kelaparan apalagi kehausan. Sampai suatu ketika terjadi hal yang tidak pernah aku perkirakan.

Pagi itu aku sedang bersiap dirumah untuk berangkat menuju tempat usahaku. Aku sengaja tidak terburu-buru. Bagiku menikmati segelas kopi hangat dipagi hari adalah ritual yang menyenangkan. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh suara istriku yang mengatakan ada tamu yang mencariku. Kupikir masih terlalu pagi, tapi menolak tamu adalah hal yang tidak sopan. Tamu tersebut adalah seorang laki-laki. Tidak terlalu muda juga tidak dapat dikatakan sudah tua. Menurutku usianya sekitar tiga puluhan, entah berapa usia sebenarnya. Orang tersebut mencari orang untuk mencukur jenggot dan rambutnya. Dari penampilannya ia terlihat berantakan, memakai topi dan berbaju yang sudah kumal akibat keringat dan banyak bekas-bekas tanahnya. Melihatnya aku teringat masa lalu diriku yang sama kumalnya dengan penampilan orang tersebut. Lantas aku memutuskan untuk membantunya. Sebenarnya aku penasaran, tapi sepertinya tak pantas aku mempertanyakan hal tersebut. Aku hanya ingin membantunya.

Beberapa bulan sejak kejadian tersebut, aku tidak lagi bertanya-tanya siapa gerangan tamu tersebut. Aku kembali kepada rutinitasku seperti semula. Hingga akhirnya aku didatangi oleh beberapa orang yang mengaku polisi. Mereka menangkapku dan menanyakan hal-hal yang menurutku aneh. Aku ditangkap atas tuduhan melindungi seorang tersangka teroris. Aku mendadak kaget bukan kepalang, sungguh tuduhan yang aku tidak paham duduk permasalahannya.

Aku di intimidasi dan dipukuli saat di interogasi. Mereka banyak bertanya kenapa aku melindungi teroris. Aku tidak tahu jawabannya karena memang aku tidak merasa berbuat begitu. Mereka menyangka aku membantu seorang tersangka dalam menyamar. Dengan mencukur jenggot seseorang aku dituduh begitu. Lantas kenapa saat aku mencukur jenggot seorang presiden aku tidak dapat pujian?.

Masa-masa yang aku alami mulai berubah. Hari-hari biasa yang aku lewati juga semakin tak biasa. Aku yang biasanya disediakan segelas kopi hangat dengan beberapa potong pisang goreng atau ubi rebus, kini tak lagi kunikmati. Sedari pagi aku sudah merasakan pertanyaan yang dibumbui intimidasi dan pemukulan yang bertubi-tubi. Hanya karena profesi sebagai tukang cukur.

Aku tak kuasa menahan perlakuan tersebut. Statusku juga berubah. Dari orang yang membantu tersangka bergeser menjadi tersangka. Aku ditahan dan diadili menurut cara mereka. Sekarang aku terancam akan diganjar hukuman 15 tahun penjara. Bagiku ini konyol. Mana ada seorang tukang pangkas dihukum karena ia melayani pelanggannya. Seperti yang telah kuceritakan, mulai dari pejabat sampai jelata sudah pernah kupangkas. Dari kombatan sampai aparat sudah pernah kulayani. Kenapa baru sekarang ini aku dituduh sedemikian lucunya.

Sungguh hal yang lucu. Lebih lucu daripada tingkah polah mereka yang lebih berhak ditahan akibat memakan hak rakyat. Hukum macam apa ini?. Entahlah.

Selasa, Mei 18, 2010

Sang Bintangpun Demam Panggung

Demam Panggung..!!

Mungkin kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa konyolnya seseorang yang sedang kikuk saat beraksi. Lantas, kenapa saya mengomentari hal tersebut sepagi ini? apa menariknya? Tak ada yang menarik saya rasa. Hanya saja saya tergelak melihat beberapa media lokal ditempat saya bekerja belakangan ini.
Rekan pembaca mungkin sudah tahu bahwa Aceh terkenal akan kemajemukan ragam budayanya. Termasuk juga dengan tingkah polah orang-orangnya. Salah satunya adalah salah seorang pemimpin daerahnya. Ia belakangan ini terkenal dengan beberapa kebijakan yang pernah ia buat. Terkadang kontroversi itu dibutuhkan untuk mendukung karier seseorang. Layaknya artis-artis.
Dilalah, sang bupati tersebut pernah mengeluarkan kebijakan yang sangat menggemparkan emosi khalayak. Terutama kaum hawa. Bayangkan, ia mengeluarkan sebuah kebijakan pelarangan menggunakan celana jeans bagi perempuan. Kebijakan ini membuat kaget mayoritas warga perempuan. Tidak hanya di wilayahnya saja, namun seluruh Aceh pun tercengang. Konyolnya lagi, beberapa media asing pun sampai ikut-ikutan meliput kebijakan aneh tersebut.
Pada dasarnya ia mengeluarkan kebijakan tersebut dengan didasari oleh azas-azas didalam syariah. Namun tak ayal, masyarakat pun menuntut agar kebijakan tersebut diusut kembali. Hingga akhirnya pemimpin provinsi pun turun tangan. Hal ini berujung dengan malu dan akhirnya sang pimpinan daerah memutuskan untuk mencabut kembali kebijakannya tersebut.
Beberapa waktu belakangan, sang pemimpin daerah kembali berulah. Alih-alih untuk mengantisipasi kemungkinan teroris dikalangan pegawai pemerintah (PNS). Si pemimpin daerah yang lucu ini kembali mengeluarkan kebijakan konyol. Ia melarang setiap pegawai pemerintah didaerahnya untuk memelihara jenggot. Bayangkan dengan jabatan sekelas pemimpin daerah dilengkapi dengan kewenangan yang melimpah-limpah hanya mampu memikirkan “bawahan perempuan dan jenggot”. Alangkah memalukan.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan sang pemimpin terlihat begitu dungu?. Apakah karena ia baru pertama kali menjadi pemimpin dari sebuah organisasi masyarakat?. Jangan demam panggung hanya karena gerogi melihat wewenang dan kekuasaan yang begitu besarnya. Konyol.
Bila saya boleh member nasehat, lebih baik bertanya dahulu pada orang-orang terdekatnya. Tanya istrinya “apa perempuan cocok atau tidak pake celana jeans?” atau tanya teungku-teungku disekitar, apa pegawai yang berjenggot mirip teroris?. Menggelikan.

Puisi Rindu


Tidurlah Tidur Kasihku Sayang
Hilangkan Lelahmu Sejenak

Lelaplah Kekasihku Disana
Mengadulah Pada Malam Dengan Segenap Cita-citamu

Karena Aku Akan Menghampirimu Bersama Angin Yang Membelai dan Memelukmu Erat..

Senin, Mei 17, 2010

Dag..Dig..Dug..

sssttt...
jangan teriak-teriak nanti dia terbangun
aku sudah menidurkannya tadi
jangan diganggu lagi

hei..
kan sudah kubilang
melangkah pelan-pelan
jangan terburu-buru
nanti dia tahu dan terbangun

padahal..
aku sudah beri dia obat
biar tidak segera terbangun
sudah kuusahakan agar dia tidak cepat sadar

dag..dig............................dug..

sial..
dia bangun lagi

sepertinya tak mungkin tidur lagi..!!

Apung Apung Tsunami


Sekali waktu saya merasa perlu juga untuk berjalan mengelilingi kota Banda Aceh. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah lokasi bersemayamnya sebuah Kapal besar yang bersandar ditengah kota akibat gelombang Tsunami yang melanda aceh medio 2006 yang lalu.
Bukan main besarnya kapal tersebut. Menurut saya, karena kapal tersebut yang begitu besar dan berada persis didalam sebuah perkampungan, bila kita berdiri di atasnya kita dapat melihat Banda Aceh. Silahkan anda membayangkan betapa besarnya kapal tersebut.

Menurut warga sekitar, dulunya kapal tersebut berlabuh dipinggir pantai sebagai bantuan tenaga listrik. Lantas datang bencana Tsunami yang kemudian mengantarkan kapal tersebut di tengah-tengah kampong diwilayah Punge, Banda Aceh. Disekitar kapal tersebut dibuatkan taman yang kemudian warga sekitar lebih senangnya menyebutnya dengan istilah Monumen Tsunami.
Menurut pengamatan saya, dengan adanya kapal tersebut telah membuat sebuah perubahan terhadap kultur ekonomi masyarakat sekitar. Dahulu, disekitarnya hanyalah perkampungan biasa yang tidak begitu maju. Memang tidak begitu kumuh, namun tingkat kepadatan rumah dan tempat tinggalnya cukup rapat.
Saat ini, bila pembaca sekalian berkunjung kelokasi wisata tersebut, pembaca sekalian akan melihat beberapa kios yang menjual souvenir-souvenir bertema kan Tsunami dan ke-khasan dari daerah Aceh. Semacam kaos bertemakan Tsunami, tas dan dompet dengan motif khas Pinto Aceh, dan lainnya. So, bila rekan pembaca sekalian penasaran maka silahkan berkunjung ke Banda Aceh. Sejuta warung kopi akan menyambut kedatangan anda.

Ketololan Seorang Cicero

Bagi setiap orang yang mencita-citakan dirinya menjadi seorang orator, tentu ia kenal dengan yang namanya Cicero. Pria yang bernama lengkap Marcus Tullius Cicero. Seorang lelaki Roma yang bercita-cita untuk menjadi seorang senator sedari muda ini. Konon, seorang Soekarno begitu mengidolakan caranya berpidato yang begitu agitatif dan cerdas dalam memainkan emosi massa nya.
Begitukah sempurnakah kehidupan seorang Cicero yang hidup pada tahun-tahun sebelum masehi, sehingga dia di idolakan hingga saat ini? .
Cicero adalah seorang pengacara sukses kedua di Roma pada masa itu setelah hortensius. Ia sendiri belajar ber-orasi pada seorang master pidato. Homer Illiad namanya. Pada sebuah novel kolosal karya Robert Harris, Imperium, dijelaskan bahwa Homer melatihnya ber-orasi dengan cara menyuruh Cicero berdiri dipinggir pantai, ia ingin melihat apakah suaranya mampu mengalahkan debur ombak. Dilain waktu, Cicero juga diminta untuk berpidato ditengah-tengah rindangnya hutan. Homer ingin melihat, apakah suaranya mampu menggetarkan dedaunan pohon ek disana.
Demikian keraslah seorang Cicero berlatih demi mencapai cita-citanya. Hal ini dituliskan dalam setiap papyrus yang dikumpulkan oleh seorang budaknya yang bernama Tiro yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Lantas dimana letak ketololan seorang Marcus Tullius Cicero yang jenius?
Pada karier politik awalnya sebagai seorang Senator dengan jabatan Praetor, Cicero pernah ditantang untuk menyelesaikan kasus korupsi yang dilakukan oleh Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres. Verres mengancam akan menghukum mati seorang sipil bernama Sthenius akibat ia keberatan untuk menyerahkan patung perunggunya kepada sang Gubernur.
Pada masa itu, seorang Gubernur memiliki kekuatan untuk mengatur hukum yang berlaku didaerahnya sekaligus dibekali kekebalan hukum. Hal ini membuat ia tidak dapat dituntut oleh sipil biasa sekelas Sthenius. Di Roma pada masa itu, yang mampu menuntut seorang Gubernur hanyalah Senat yang di isi oleh para bangsawan yang disebut Senator.
Ceritanya, Sthenius mengadu pada Cicero dikarenakan ia adalah seorang pengacara terkuat kedua setelah Horthensius yang korup dan berpihak kepada Verres. Cicero mengambil langkah untuk membicarakan kesewenang-wenangan Verres pada Triumph dengan cara membuat sebuah mosi gugatan. Dalam forum tersebut, Cicero dianggap sebagai orang idiot, karena posisinya sebagai Senator rendahan jelas tidak akan membuatnya didengar.
Diluar dugaan, ternyata ayah dari seorang Gaius Verres yang serakah adalah seorang Senator Senior yang terhormat dan terkenal jujur. Ia yang sedih mendengar kelakuan anaknya kemudian memutuskan untuk menyurati Verres agar membatalkan tuntutannya terhadap Sthenius. Kontan Verres marah dan malah mengambil keputusan untuk segera menjemput Sthenius di Roma agar segera di eksekusi di Sisilia.
Cicero yang mendengar berita tersebut menjadi marah sekaligus ketakutan. Ia menyesali hasil negosiasinya dengan ayah Verres. Dalam negosiasi tersebut, Cicero memutuskan untuk berhenti mengajukan mosi karena ayahnya akan menyurati Verres. Ternyata usaha tersebut gagal diakibatkan sikap Verres yang terlalu keras kepala.
Akibat kesalahannya yang vatal itulah ia harus berpikir untuk mempertaruhkan reputasinya dengan nasib seorang sipil yang tidak berdosa. Akhirnya Cicero memutuskan untuk kembali mengajukan mosi kepada Triumph dengan menahan cercaan.
Disinilah kemudian keluar sebuah adagium Romawi yang terkenal yang berbunyi “Est Impunitum Satium Relinqui Facinus Nocent, Damnari Innocentem Quam”. Kira-kira kalo saya boleh mengartikan maksudnya adalah, “akan lebih baik bila kejahatan itu dibiarkan meraja lela tanpa hukuman, daripada membiarkan orang yang tidak bersalah dihukum”. Walaupun adagium terlontar akibat kekecewaan seorang Cicero terhadap keputusan Triumph sekaligus akibat ketololannya yang begitu percaya bahwa hubungan keluarga dapat menyelesaikan sebuah masalah.
Semoga menjadi Khidmat bagi pembaca yang ingin terjun kebidang hukum dan keadilan.

-saleum-

Minggu, Mei 16, 2010

Kisah Seputar Perjalanan Ke Kapal Apung



Antara Realita One Piece Dan Susno

Saya yakin dan percaya jika pembaca semua pasti pernah dengar yang namanya kartun atau komik One Piece. Sebuah cerita tentang kehidupan bajak laut yang suka citanya dihabiskan di atas kapal. Bila rekan-rekan pembaca mengikuti ceritanya, saya ingin kembali mengulas tentang cerita episode 40 an saya lupa nomor berapa, tapi yang pasti saat episode petualangan mereka dinegeri seven water.
Dalam cerita tersebut, grup bajak laut Topi jerami yang dipimpin oleh Luffy sedang mengalami dilema dimana mereka harus memperbaiki kapal Going Mery mereka. Dinegeri Seven Water yang terkenal dengan keahlian warganya yang sangat mahir menjadi montir kapal. Saat mereka mulai menjelajahi negeri tersebut mereka menemukan ada sebuah dok kapal yang berisi montir-montir terbaik. Mereka pun memutuskan berkonsultasi.
Singkat cerita, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa kapal Going Mery tidak lagi dapat dibetulkan karena suatu hal. Dilain sisi,uang yang mereka miliki untuk memperbaiki kapal telah hilang dicuri, Ussop yang dipercayakan memegang uang tersebut pun pingsan akibat dikeroyok pencuri. Sungguh konflik yang membingungkan.
Puncak klimaksnya terjadi saat Luffy sang Kapten Bajak Laut Topi Jerami harus menjelaskan kepada Ussop yang baru sadar dari pingsannya bahwa Going Mery tidak bisa diperbaiki. Parahnya, Ussop yang notabene orang yang dipercayakan untuk memelihara kapal tersebut merasa kecewa. Disinilah terjadi hal yang mengejutkan. Luffy sang kapten harus memutuskan untuk memilih membeli kapal baru, atau melepas Ussop karena ia berkeras untuk mempertahankan Going Mery dengan kondisi yang sangat parah tersebut.
Pelajaran yang saya ambil adalah, demi mempertahankan cita-cita untuk menjadi Raja Bajak Laut nomor satu, Luffy akhirnya memutuskan untuk duel dengan Ussop yang sekarat. Tentunya dapat ditebak hasilnya, bahwa Luffy lah yang menang sekaligus juga ia memutuskan untuk meninggalkan Ussop dan Going Mery nya. Menurut Zoro salah satu awak kapalnya, “lebih baik memberikan keputusan yang tegas, daripada harus membiarkan mental awak kapal lainnya jatuh. Karena kapten yang lemah, tidak layak memimpin awak kapal yang kuat”.
Lantas apa hubungannya dengan susno?
Disini saya melihat ada kemiripan konflik. Susno yang salah satu pembesar di institusi kepolisian Negara berhasil menjadi dua ikon tersendiri. Ikon yang pertama adalah sebagai polisi yang baik dan benar layaknya seorang Serpico di LAPD. Ikon yang lainnya adalah sebagai polisi korup khas Indonesia.
Tapi poin pentingnya bukan disitu, poin pentingnya adalah bahwa orang yang menjadi pemimpin dari institusi tempat susno bekerja seharusnya sudah lebih tanggap terhadap kemungkinan kejadian seperti ini. Seperti kata Zoro, Kapten yang lemah tidak layak memimpin awak kapal yang kuat.
Saya rasa masi banyak “susno-susno” lain, “Susno” di pajak juga sudah terungkap, “susno” dipertanahan sudah ketahuan, kira-kira “susno”dibidang apa lagi yah??. Semoga menjadi pembelajaran.

-saleum-



NB: Bapak yang suka curhat itu juga kalo sudah merasa lemah, jangan tetap ngotot pak. Kata Zoro “kapten yang lemah tidak layak memimpin awak yang kuat”. Hehehe..

Sabtu, Mei 15, 2010

Aceh Kota Sejuta Warung Kopi

Sekilas bicara tentang masyarakat Aceh, akan terdapat banyak hal yang bisa kita bahas. Mulai dari kebiasaan, adat istiadat, budaya dan kebiasaan ekonominya yang mencolok. Banyak hal menarik yang tentunya akan menjadi pembicaraan tersendiri.
Yang paling khas dari kebudayaan masyarakat Aceh adalah “nongkrong” atau lumrahnya kita sebut dengan aktifitas berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang umumnya terjadi diwilayah sekitar si pelaku. Saat berkumpul, yang menjadi temannya yang paling khas adalah kopi. Maka tak heran bila banyak orang Aceh menghabiskan waktunya dengan berkumpul di warung-warung kopi. Jangan heran bila yang menunggui warung kopi, orangnya itu-itu saja. Memang benar hal ini tidak terjadi pada semua orang Aceh. Tapi mayoritas orang Aceh memang senang duduk dan menghabiskan waktu di warung kopi.

Pernah saya bertanya pada teman saya, apa sih yang membuat banyak orang senang menghabiskan waktu diwarung kopi?. Jawabannya mudah saja, karena memang banyak peluang yang bisa didapatkan dari warung kopi. Mungkin, kebiasaan ini tak jauh berbeda dari kebiasaan orang-orang ditempat lain di luar Aceh. misalnya, orang jogja yang senang berkumpul di angkringan, atau orang solo dengan warung koboy nya.
Menurut teman saya lagi, orang Aceh itu membahas hal-hal yang beragam. Ada anekdot ringan dari teman saya, turun naiknya pemimpin daerah di Aceh, itu ditentukan di warung kopi. Kontan saya tertawa mendengarnya. Tapi memang saya banyak mendengar bahwa orang Aceh banyak mendiskusikan isu-isu disekitarnya dengan cara berkumpul di warung kopi atau balee jaga (pos kamling).
Bila kawan sempat berkunjung ke Banda Aceh, maka anda sendiri pasti akan kebingungan dengan banyaknya warung kopi disini. Ada lagi cerita lucu dari teman saya yang lain. Teman ini adalah seorang peneliti dari World Bank. Dia bercerita pada saya, di Aceh mau minum kopi saja bingung. Lantas saya bertanya, memang kenapa?. Dia bilang, setiap warung kopi lain-lain rasa kopinya. Yah, berhubung saya sudah 5 tahun berhenti minum kopi, ya saya tidak tahu dimana perbedaannya. Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan penelitian tentang kebiasaan masyarakat Aceh dengan warung kopinya. Setelah selesai, kami sepakat menyebut Aceh sebagai kota sejuta warung kopi.
Yap, itulah segelintir catatan dari obrolan saya.

-saleum-